Titanio melesatkan peluru panas ke arah kaki Dazeen sehingga membuat pria itu terduduk lemas menahan sakit.
Mereka terpaku di tempat tak menyangka bahwa akan terjadinya penembakan tanpa aba-aba. Alenza mengalihkan perhatiannya kepada Daddy-nya yang sudah menurunkan tangannya, tak lagi mengarahkan senjata api itu kepada Dazeen. “Dad?” panggil gadis itu masih tak percaya.
Nio terdiam tak menjawab beberapa detik, lalu bibirnya terbuka mengeluarkan suara tegas. “Jangan pernah sekali-kali anda membentak Putri saya!” ujarnya memperingatkan.
Dazeen menggeleng tak mengerti apa yang tengah di maksud sang empu. “Jangan berucap kosong, sialan! Dia bukan anakmu tapi anakku!” jelasnya mengelak.
Nio hanya mengabaikan tak peduli dengan balasan pria yang menahan sakit di tubuhnya. “Bawa Alenza pergi,” pintanya membuat Argasya bergerak mematuhi.
Tubuh Alenza tertarik menjauh ketika tangannya mendapatkan ajakan untuk mengikuti ke mana Argasya pergi. Kakinya berusaha menahan, menolak tak mau keluar dari ruang bawah tanah lembab itu. “Lepasin gue!” berontak Alenza sembari memberikan dorongan kuat berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.
Melihat Argasya yang kesusahan, Yaskara mendekat mencoba membantu bersama Areksa dan Karel. Alenza semakin dibuat tak bisa bergerak bebas karena cekalan dari mereka semua. “Argh! Gue mau di sini, lepasin gue!!!” geram gadis itu marah.
Tak ingin memakan waktu lama, Argasya langsung mengangkat tubuh adiknya, menggendong Alenza seperti karung beras di satu pundak miliknya. Dia membawa sang empu menuju kamar gadis itu diikuti langkah yang lain bersamanya.
Alenza tak lagi banyak bergerak, saat ini kepalanya sedikit terasa pusing karena berada di bawah. “Turunin gue cepetan! Lo mau darah gue langsung naik ke otak semua?!” sungutnya kesal.
Mereka sampai di dalam kamar membuat Argasnya menurunkan adiknya dari gendongannya. Alenza langsung merapikan rambut yang sempat terbalik tak rapi. Ekspresi wajahnya benar-benar tak bersahabat. Matanya tajam menatap mereka semua yang berkumpul di dalam kamarnya. “Ngapain kalian masih di sini?! Udah sana bubar!” usirnya merasa muak melihat rupa mereka.
Yaskara menghembuskan napasnya panjang melihat tingkah adiknya semakin menjadi. “Lo marah karena orang itu luka?” tanyanya ingin tahu.
Bola mata Alenza berputar malas mendengar pertanyaan tak mengerti saudaranya. “Salah kalo gue marah emangnya? Hati gue sakit tau nggak, lihat dia kayak gitu!” ujarnya mengungkapkan perasaannya.
Karel maju merapat kepada Alenza yang berdiri menunjukkan ekspresi jengkel. “Buat apa sih lo masih mikirin dia? Emang pernah dia mikirin perasaan lo?” sahutnya membuat gadis itu membuang napas kasar.
“Nggak perlu pikir perasaan gue, deh! Lagian mau gimanapun juga gue udah terbiasa diabaikan!” sulutnya penuh kekecewaan di dalam sorot matanya.
Areksa merasa geram karena adiknya yang terlalu peduli kepada pria tak berhati itu. “Dia itu pembunuh, Al! Buka mata lo, Dazeen yang udah bunuh Mommy kita!” tegasnya berucap sungguh-sungguh.
Alenza berpaling muka. Matanya semakin berembun berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan luapan emosi di dalam dirinya. “Terus kenapa kalo dia pembunuh, huh?! Gue juga nggak mau punya Daddy pembunuh!” sarkasnya menatap mereka penuh keseriusan.
Kepalanya menggeleng, Alenza terkekeh di tempat. “Gue nggak peduli sama keadaan Dazeen sekarang. Gue cuma takut kalo Mommy nggak mengharapkan semua yang kita lakuin saat ini!” sambungnya dengan air mata yang telah menetes.
Mereka menatap tanpa belas kasih kepada Alenza. Gadis itu belum mengerti apa arti dari rasa kehilangan dan kesakitan. Dia masih tak mengerti apa maksud dari kata balas dendam. Argasya mendudukkan Alenza di pinggiran ranjang. “Lo istirahat, jangan pikirkan hal yang belum terjadi, okay? Everything will be fine, don't worry.” Yakinnya memberitahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Teen FictionDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
