32. Kepulangan Kapten

88 24 0
                                        

Bulan demi bulan berlalu begitu cepat, membuat usia kandungan Ive memasuki delapan bulan. Ia semakin dikekang, aktivitasnya dibatasi oleh keluarga.

Ive merasa terjebak, bagaikan burung dalam sangkar. Setiap kali ia mencoba bergerak sedikit saja, suara keras mereka langsung memecah keheningan.

“Lo itu hamil! Jangan lakuin itu!” bentak Karel dengan tatapan tajam.

Ive menghela napas panjang, menatap mereka dengan mata penuh penat.

“Bang, plis dong, jangan giniin gue! Gue juga pengen lakuin sesuatu sedikit. Masa gue harus diem aja, gak ngapa-ngapain selama hamil?” pinta Ive dengan suara lemah, penuh harap.

Namun, Karel tetap tegas. “Lo itu hamil! Jangan lakuin ini!”

Ive makin kesal. “Gue tahu gue hamil! Tapi nggak gini juga. Masa pegang sapu doang gak boleh?”

Areksa ikut nimbrung dengan nada keras, “Nanti lo kecapean gimana, hah?”

Ive memegangi perutnya yang mulai membesar, matanya melelahkan. “Astaga, pegang sapu doang!”

“Masa sama aja!” sahut mereka kompak.

Ive mendesah, pandangannya redup. “Bang, buat bumil stres gak boleh loh,” ujarnya pelan.

Suasana langsung berubah. Karel dan Areksa mendekat, wajah mereka berubah penuh kekhawatiran.

“Lo stres, dek?” tanya Karel pelan sambil menatap was-was ke arah Ive.

Vee, yang memperhatikan gelagat mereka, tahu ini saatnya.

“Gue stres, bang,” ucap Ive dengan tatapan sendu. “Gue juga pengen lakuin sesuatu, kayak kalian. Cuma sebentar kok. Masa gak boleh, gak bikin kecapean juga.”

Karel menunduk, merasa bersalah. “Maaf, kalo kita bener-bener bikin lo gak nyaman. Tapi kita gak mau lo kenapa-napa, begitu juga sama debay.”

Ive tersenyum kecil dan mengelus perutnya pelan, membuat gerakan memutar.

“Makanya kasih gue kerjaan kecil, yang bikin gue ngeluarin keringat sedikit.”

Areksa memberikan sapu ke tangan Ive, “Ya udah, lo nyapu aja, tapi cuma lima menit, ya.”

Ive tersenyum senang tapi masih sinis, “Lima menit mana bisa keluar keringat?”

Karel menatap tajam tapi tak mau kalah, “Yang penting kan gerak.”

Ive pasrah, mulai menyapu lantai dengan hati-hati.

Tiba-tiba seseorang memanggil dari belakang.

“Ale…” suara itu membuat Ive berhenti seketika.

Sapu jatuh ke lantai saat ia menoleh dan melihat sosok tegap berdiri tak jauh, tersenyum manis padanya.

“Dava…” lirih Ive gak percaya.

Karel dan Areksa saling pandang sambil tersenyum, karena tahu betul siapa yang membuat Ive terpana.

Dava melangkah pelan menghampiri Ive, lalu tiba-tiba menariknya ke pelukan hangat.

Ive membeku, gak percaya apa yang baru saja terjadi.

“Lo Dava?” tanyanya dengan suara bergetar.

Dava melepas pelukan dan menertawakan wajah bingung istrinya.

“Bukan, gue suami lo,” jawabnya dengan senyum tipis, menatap dalam ke mata Ive.

Dengan penuh kesadaran, Ive memeluk Dava erat. Mereka berpelukan beberapa menit, merasakan kehangatan yang lama hilang.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang