35. Saling Mengerti

70 24 0
                                        

"Eh Dav, aku pengen ngomong serius sama kamu," ucap Vee tiba-tiba dengan wajah sungguh-sungguh, nada suaranya berat.

Dava—yang baru aja duduk di pinggir ranjang—langsung menoleh dengan alis terangkat. "Ngomong apaan? Kok tegang banget sih muka kamu?"

Vee menghela napas, matanya nggak berani menatap langsung. "Kalau aku masuk Islam... boleh nggak?"

Hening.

Dava menatapnya beberapa detik, lalu senyuman pelan mulai terlukis di bibirnya. "Beneran, Al?"

Vee mengangguk pelan, matanya tetap menghindari tatapan Dava. "Iya... kamu setuju kan?"

"Tatap mata aku, Al. Jangan nunduk gitu," pinta Dava sambil menyentuh dagu Vee pelan, mengangkat wajahnya.

Vee akhirnya menatap Dava, dengan mata ragu yang berkaca.

"Kalau kamu bener-bener pengen masuk Islam, aku nggak masalah kok. Malah aku seneng," senyum Dava tulus, matanya hangat banget.

Tapi kemudian Vee menggigit bibirnya, suaranya lirih. "Tapi aku nggak mau masuk Islam sendirian... aku pengen kamu juga ikut."

Dava terkekeh pelan, senyum miringnya muncul. "Kamu aja sendiri. Orang aku udah masuk duluan, Al."

Vee memelotot. "Ha? Beneran?"

"Iya bener, dibilangin nggak percaya sih," Dava memutar bola matanya sambil bersandar santai ke dinding.

"Tapi kenapa kamu nggak ngajak-ngajak aku?! Kesel tau!" Vee menatapnya tajam, wajahnya merah padam.

"Sengaja. Aku kira kamu belum siap," sahut Dava cuek, mengangkat bahu.

"Siapa yang nggak mau masuk Islam? Agamanya adem banget, bikin tenang," gumam Vee sinis, tapi jujur dari hati.

"Berarti kamu beneran niat, Al?" Dava memastikan lagi, matanya menatap dalam.

Vee mengangguk mantap. "Iya. Besok aku mau masuk Islam!"

"Kamu temenin aku ya, Dav!" pinta Vee sambil memegang tangan Dava erat, matanya memohon.

Dava mencium punggung tangan istrinya itu lembut. "Dengan senang hati, yang mulia."

Dava merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut. "Yuk tidur, udah malem. Nggak baik buat ibu hamil begadang."

Vee nyusul rebahan, memeluk lengan Dava. "Mimpiin aku ya, Dav..." ucapnya pelan sambil mengecup pipinya sekilas.

"Pasti, sayang..." bisik Dava, mengelus lembut surai Vee sampai matanya perlahan terpejam.

Keesokan paginya...

Mereka berdua udah siap di mobil, tapi Dava menghentikan langkahnya di depan setir. "Al, kayaknya disini susah cari masjid. Kalau pun ada, jauh dari sini."

Vee menunduk kecewa. "Tapi Dav..."

"Masuk Islam-nya nanti aja pas balik ke Indonesia, ya?" usul Dava sambil mengelus tangan Vee.

Vee mengangguk pelan. "Yaudah, iya... bentar lagi juga kita pulang."

"Ayo masuk dulu," ajak Dava sambil masih menggenggam tangan Vee erat.

Vee cemberut kecil. "Dav, ini cuma masuk rumah loh, bukan nyebrang jalan tol."

"Suka-suka aku dong," balas Dava santai.

Mereka masuk dan langsung disambut Nio dan teman-temannya yang lagi ngumpul di ruang keluarga.

"Loh, kalian kenapa nggak jadi keluar?" tanya Nio sambil nyeruput kopi.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang