09. Kekecewaan Menyakitkan

220 30 7
                                        

Bunyi bell terdengar nyaring di penjuru ruangan, pertanda istirahat telah dimulai. Kedua siswa tengah menjadi pusat perhatian di ruang kelasnya karena percakapan mereka.

"Rel, buruan kita keluar, nggak merinding lo lama-lama di sini?!" seru Areksa mengajak saudaranya bergerak cepat, tak tahan lagi dengan berbagai tatapan dari siswa sekelasnya.

"Sabar dulu kenapa sih?! Nggak liat gue baru bangun tidur? Nyawa belum terkumpul, kocak!" sungut Karel bengkit dari tempat duduknya dengan sempoyongan.

Areksa berdecak kesal dia merapat lalu menarik kencang Karel untuk mengikuti langkahnya pergi. "Woi! Pelan-pelan dong, tangan gue putus nanti!" Ucap Karel. Kakinya bergerak cepat karena tarikan cowok itu.

Mereka berdua keluar kelas, menghindari mata nanar mereka semua kepadanya. Ada apa dengan mereka? Padahal bell istirahat sudah terlewatkan tetapi malah tetap memilih untuk berada di dalam kelas memperhatikan interaksi mereka berdua. Memangnya Karel dan Areksa seorang yang terkenal hingga membuat mereka terus menunggu?

Sementara Yaskara dan Argasya masih diam di kantin sekolah menunggu kedatangan kedua manusia lambat itu. "Mereka kemana sih? Dari tadi nggak datang-datang!" Kesal Kara bosan.

"Bentar lagi juga dateng," ucap Asya menyahut.

Derap langkah berisik terdengar membuat anak-anak yang berada di kantin memusatkan perhatiannya kepada seseorang yang baru saja datang dengan napas tersengal-sengal. "Uy!!!" Serunya melambaikan tangannya ke atas sebari mereka keringat yang keluar setelah berlari kencang.

Areksa mengumpat dalam hati karena tingkah Karel yang membuat malu dirinya. "Lo ngapain teriak-teriak, Karellll!" tekannya merasa geram.

"Lah, emang gue ngapain? Panggil mereka berdua dong salah banget gue di mata lo!" Sungut Karel membalas.

Areksa memilih meninggalkan Karel yang masih berdiam diri di pintu masuk kantin, menghalangi jalan orang yang ingin lewat.

Suara seseorang mengangetkan Karel. "Minggir dong! Lo pikir ini jalan punya nenek buyut, lo!!!"

Cowok itu lalu bergerak pergi menyusul Areksa yang sudah terduduk bersama Yaskara dan Argasya. Dia terduduk lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja. "Malu banget gue, serius!" cicit Karel membuat mereka menggeleng kecil.

"Makanya jangan banyak tingkah, murid baru juga udah bikin rusuh!" balas Kara menanggapi.

Areksa menatap mereka berdua yang duduk di depannya. "Kalian udah lama di sini?" tanyanya ingin tahu.

"Lumutan nungguin kalian!" sarkas Kara menjawab.

Keduanya tersenyum merasa tak enak hati. "Sorry, nungguin Karel ngumpulin nyawa dulu tadi, makanya lama," ungkap Areksa memberikan alasan.

Mereka pun mengangguk mengerti. "Lo nggak pesen makanan, Gas?" tanya Karel mendapat tatapan tajam sang pemilik nama.

"Gas? Lo pikir gue gas elpiji?! Panggil gue pake nama Asya, Karel!" sinis Asya tak terima.

Karel memutar bola matanya malas. "Dih, ngaca dulu deh! Jangan plesetin nama gue jdi Rel kereta juga dong!" Sahutnya memprotes.

Brak!

Terdengar keributan membuat Asya dkk memperhatikan objek paling mencolok di antara yang lain.

"Gue bilang jangan pake kecap! Budek kuping lo?!" bentak cewek membuat keributan, tangannya menarik kencang rambut seorang siswi hingga membuatnya mendongak ke atas menahan rasa sakit.

"M--maaf, kak. Aku nggak sengaja, akh!" Rintih cewek itu saat kuah panah mengguyur bajunya.

"Apaan banget sih mereka, caper!" gumam Karel menatapnya tanpa bertindak membantu.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang