26. Honeymoon

148 25 0
                                        

Sekarang dua pasutri ini tengah bersiap-siap untuk keberangkatan mereka. Mereka sepakat untuk honeymoon ke Singapura.

Di tengah keheningan yang nyaman, Eza tiba-tiba bersuara, suaranya pelan tapi cukup membuat Dava menoleh.

"Eh, tau alamatnya Alesya nggak, Dav?" tanyanya sambil melipat baju, matanya nggak lepas dari koper.

Dava yang tadinya rebahan santai di ranjang, mendesah pelan. "Esya nggak pernah ngasih tau detail tempat tinggalnya. Dia pasti cuma ngomong ‘Singapura doang’."

Eza mengerutkan alis, lalu menoleh ke Dava yang masih selonjoran, menatapnya aneh. “Kenapa nanyain itu?”

"Karena gue pengen tau kabarnya aja. Sekalian kita kan mau ke sana, siapa tau ketemu," jawabnya sambil menyelipkan tumpukan baju ke sudut koper. Tapi matanya sedikit redup, kayak ada yang lagi dipendam.

Dava menatapnya lebih dalam. "Masih kepikiran ya sama Esya?" gumamnya dalam hati, tapi cuma narik Eza ke pelukannya tiba-tiba.

"Ehh, Davaaa~" rengek Eza, langsung nindihin tubuh suaminya dengan gerakan posesif, pelukannya erat seakan nggak mau lepas.

"Kenapa hmm?" tanya Dava lembut, tangannya melingkar di pinggang Eza sambil nyium ubun-ubunnya.

"Kangen..." cicit Eza lirih, matanya menatap sayu. Ada rindu yang belum bisa diungkap, bukan cuma karena akan berangkat, tapi karena rasa takut kehilangan.

"Astagaa... belum juga pergi udah bilang kangen!" goda Dava sambil menoel hidung mancung Eza.

Eza ngambek. "Nggak mau ditinggal..."

"Nggak bisa..." jawab Dava ikut-ikutan dengan gaya manja, bikin Eza makin manyun.

"Tidur ah, besok kan mau buat debay," ucap Dava tiba-tiba, memejamkan matanya.

Eza langsung menegakkan tubuhnya, menatap dengan serius. "Dava, kalo jadi nakhoda, pulangnya kapan?"

Dava buka satu mata. "Gue juga nggak tau, tergantung aja..."

"Jangan lama-lama," bisik Eza, matanya berkaca-kaca.

"Dua tahun sekali pulang," jawab Dava, asal nyeletuk.

"Apa?! Nggak nggak! Bisa gila gue kalo kelamaan!!" Eza langsung duduk tegak, ekspresinya penuh protes.

"Oke satu tahun, deal?" tawar Dava, ngangkat tangan kayak bersumpah.

"Yaudah itu lebih mending," Eza menjawab dengan helaan napas berat, terus rebahan lagi di dada Dava.

---

Siangnya, mereka sampai di Singapura.

"Gede juga tempatnya… mewah pula," gumam Eza sambil ngeliat sekeliling, matanya berbinar takjub.

"Barang-barangnya Dav, masukin lemari ya!" serunya sambil mulai buka koper lain.

"Ngomong doang nggak mau bantuin!" Dava mendelik kesal, bawa koper besar yang berat banget.

"Sebagai istri yang baik hati gue bantuin deh," Eza mendekat, nyubit pelan lengan suaminya.

Mereka nyusun baju bareng, sesekali saling lempar komentar kecil dan ketawa ringan. Suasana di antara mereka hangat, kayak dua sahabat yang saling ngelengkapin.

"Gue laper. Masakin dong," rengek Dava tiba-tiba, suaranya manja banget.

"Mau makan apa?" tanya Eza, matanya melunak ngeliat ekspresi memelas itu.

"Yang lo bisa aja," jawab Dava.

"Gue bisa semua," Eza naik-turunin alis, gaya percaya diri maksimal.

"Tiba-tiba pengen lobster… tapi siang-siang gini kayaknya aneh," pikir Dava keras-keras.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang