22. Kecurigaan

102 25 1
                                        

Brak!

Suara pintu yang terbanting keras membuat seisi ruangan sontak terkejut. Seorang lelaki yang duduk di ranjang rumah sakit hanya melirik malas, sementara seorang gadis dengan senyum lebar langsung masuk tanpa permisi.

"Davaaa!" serunya antusias, berjalan cepat sambil merentangkan tangan. "Akhirnya lo selesai juga Velocity-nya!" lanjutnya penuh semangat.

Dava mengernyit. Alisnya bertaut, menatap gadis itu dengan pandangan kosong. "Maksud lo... Velocity?"

Alenza cengengesan, tangannya masih menggantung di udara sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. "Kata dokternya sih, pas lo bangun dari koma lo langsung ngeluarin gerakan baru 'Velocity TikTok'."

Dava memutar bola matanya. "Bercanda ya?"

"Yaaa... Gue juga tau itu becandaan. Tapi lucu kan? Eh, gue baru boleh jenguk pagi ini. Disuruh nunggu sama dokternya. Sorry telat ya," ucap Alenza dengan suara pelan, sedikit merasa bersalah.

Ia menarik kursi ke dekat ranjang Dava, lalu mengambil mangkuk dari atas meja. Bubur putih hangat sudah tersedia. "Nih, makan buburnya!" serunya, langsung menyendok dan menyodorkan ke arah mulut Dava.

Dava menggeleng. Wajahnya masam. "Nggak ada rasanya. Bubur itu hambar."

Alenza menghela napas panjang, senyumnya berubah menjadi senyum tertekan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekat dengan tatapan mengancam namun main-main.

"Biar nggak hambar waktu dikunyah, gimana kalau tiap lo ngunyah bubur, gue kasih tamparan? Biar ada rasa perih-perihnya gitu, mau nggak, Sayang?"

Dava langsung geleng cepat, ekspresinya panik campur geli.

Akhirnya, meski dengan banyak keluhan dan tatapan sebal, Dava tetap menghabiskan buburnya. Usai disuapi, keduanya saling diam. Hening. Hanya saling menatap.

Tiba-tiba, Dava mengulurkan tangan dan menggenggam erat jemari Alenza. Tatapannya lembut tapi serius.

"Unda, jadi kan... buat anak sama Uppa?" gumamnya sambil memiringkan kepala sedikit, ekspresi penuh harap.

Alenza spontan menarik tangannya dan memelototinya. "Hah?! Unda? Uppa? What the heck is that, man?!"

Dava cemberut. "Unda kok gitu sih sama Uppa..."

"Lo gila ya? Bangun dari koma kok malah jadi halu begini?! Sinting nih anak!" Alenza berdiri dengan gusar, melipat tangan di dada.

"Kenapa sih lo jadi manja gitu? Jijik tau nggak, sempak!" serunya, nyaris ingin melempar sendok ke wajah Dava.

Dava membalikkan badan dan kembali berbaring. "Tau ah... Uppa marah sama Unda..."

Alenza mendecak kesal. Matanya melirik kesal sambil tersenyum sinis. "Upil, jangan marah ya..." godanya dengan nada genit palsu.

Dava menoleh cepat. "Upil apaan! Uppa! Uppa, bukan upil dari hidung lo itu!"

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Titanio masuk, disusul dua anaknya.

"Eh, kalian siapa?" tanya Dava polos, membuat semua orang di dalam ruangan bengong.

"Dia hilang ingatan, Vee?" tanya Karel sambil menyipitkan mata.

Alenza geleng cepat. "Enggak... kayaknya sih enggak... Eh, Dav, lo kenapa sih tiba-tiba pura-pura nggak kenal sama keluarga gue?"

"Hah?" Dava mengangkat bahu, bingung.

"Kalau lo beneran amnesia, gue jedotin kepala lo ke tembok nih!" Alenza menunjuk tembok sambil mengangkat alis tinggi-tinggi.

"Oh iya... udah balik kok. Nggak jadi lupa ingatan!" jawab Dava sambil nyengir tak bersalah.

Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala.

"Eh, gue punya satu permintaan!" seru Dava, matanya berbinar.

"Apa lagi?" tanya Alenza waspada.

"Setelah gue keluar dari rumah sakit... gue mau nikah sama Alenza!"

Seketika, Alenza melotot. Ia mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah wajah Dava.

"Ngomong apaan sih lo, sialan!" bentaknya.

Dava tertawa kecil, melempar bantal itu ke samping. "Jadi lo nggak mau nikah sama gue, Al?"

Alenza memutar bola mata, menghela napas berat. "Mau... tapi nggak bisa secepat itu, kocak! Nunggu lo sembuh dulu, baru kita omongin."

Dava mengangguk. "Okay deh, gue bakalan sabar nunggu lo sampai siap."

Alenza menoleh ke keluarganya. "Kalian kasih restu kan?"

Mereka semua mengangguk pelan. Tampaknya tak ada yang keberatan.

Dava menepuk sisi ranjangnya pelan. "Al, sini. Gue mau kasih tau sesuatu."

Alenza mendekat, duduk di pinggir ranjang. Ia mencondongkan tubuhnya.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

"Itu... ternyata Alesya," bisik Dava, matanya melirik ke arah keluarga Alenza yang sibuk dengan ponsel masing-masing.

"Alesya kenapa?" Alenza mengerutkan kening.

"Nanti gue jelasin pas kita berdua aja," bisiknya lagi, dan Alenza mengangguk setuju.

Tiba-tiba Karel bersuara. "Eh, Vee... soal orang yang nembak Dava itu siapa sih?"

Alenza terdiam sejenak. "Itu... penjahat," jawabnya ragu.

"Penjahat gimana maksudnya?" Kara ikut nimbrung, bingung.

"Intinya dia pengen nyelakain kita berdua. Tapi kalian udah tangkap dia kan?"

Mereka mengangguk. Karel kembali bertanya, kali ini lebih tajam. "Tapi... soal rumah sakit yang meledak, lo ada hubungannya sama itu?"

Alenza menyipitkan mata. Ekspresinya datar. "Kenapa seolah-olah kalian nuduh gue?"

"Bukan nuduh, Vee... cuma... lo kan harusnya ada di sana waktu ledakan terjadi."

"Jadi lo berharap gue mati kayak mereka?"

"Bukan begitu! Astaga..." Karel mengusap wajahnya, frustasi.

Alenza menghela napas panjang, lalu menjelaskan. "Waktu kalian pergi beli jajan, gue minta Dava buat temenin gue. Kita keluar naik motor, cari udara segar. Di jalan, kita dicegat orang yang nembak Dava. Saling tembak. Pas itu juga gue denger suara ledakan dari rumah sakit. Samar-samar tapi jelas dari arah sana."

"Oh..." mereka mengangguk, perlahan mulai paham.

Titanio ikut angkat suara. "Daddy kenal orang itu?"

"Gue nggak tau siapa dia... dan jangan cari tahu dulu," sahut Alenza cepat.

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan. Tunggu sampai gue yang nyuruh."

Titanio mengangguk. "Baiklah. Daddy lembur dulu ya. Kalian jagain Vee."

"Ngapain jagain? Di rumah sakit gini bisa-bisa kita jadi nyamuk," gumam Karel malas.

"Gue bisa jaga diri sendiri," sahut Alenza cepat.

Mereka pun pamit satu per satu. Saat pintu menutup, Alenza menoleh pada Dava.

"Abang lo yang namanya Argasya itu datar banget, kayak tembok."

"Haha, emang. Si paling irit bicara."

"Eh, jadi Lestufit kenapa, Dav?"

"Balik ke nyokapnya. Terus nomor gue di-blok."

"Lah, kok mendadak gitu?"

"Nggak tau. Mungkin karena kejadian di kantin itu."

"Emangnya lo inget kejadian di kantin?" tanya Alenza sambil menyandarkan dagu ke tangan.

Dava mengernyit. "Kejadian apa?"

"Gue bilang ke dia lo udah nggak sayang lagi. Dia keukeuh bilang lo masih cinta. Gue perjelas kalo kalian nggak akan pernah bisa bersatu. Terus dia pergi. Mungkin dari situ dia nyadar."

Dava mengangguk pelan. "Yaudah lah, makin gampang buat kita bersatu."

Alenza tersenyum kecil. "Gue juga nggak keberatan."

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang