Alenza duduk di bangku kayu usang di sebuah warung kecil tak jauh dari restoran tempat keributan tadi. Ia butuh waktu untuk meredam emosinya. Tangannya masih mengepal, rahangnya mengeras.
Ia menyuruh Gala pergi meninggalkannya seorang diri lalu berjalan mencari sebuah kopi diwarung kecil yang saat ini dia singgahi.
“Kenapa tadi gue cuma nampar?! Seharusnya gue tonjok tuh muka nyebelin!” gerutunya sambil menatap kosong ke depan.
“Kalau dia berani ngomong kayak gitu lagi ke gue, sumpah... gue pastiin dia nggak bisa ngomong lagi selamanya,” ucapnya penuh amarah.
“Ini kopinya, Neng,” suara lembut ibu warung membuat Eza tersadar dari amarahnya.
“Oh iya, makasih ya, Bu,” ucapnya pelan, mendapat anggukan ramah dari sang ibu.
“Kenapa milih duduk di sini, Neng?” tanya ibu itu sambil tersenyum, duduk di sebelah Eza.
“Lah kenapa, Bu? Nggak boleh ya?” balas Eza bingung, keningnya berkerut.
“Boleh, cuma heran aja. Di seberang kan ada restoran besar, kenapa malah milih warung kecil gini? Padahal Neng cantik, cocoknya duduk di tempat fancy gitu,” jawab ibu itu santai.
Eza tersenyum kecil. “Saya emang lebih suka tempat kayak gini, Bu. Resto udah bosenin, terlalu ramai. Di sini... tenang.”
“Iya deh, kalau gitu. Ibu ke belakang dulu ya, mau layani yang lain,” pamit ibu warung sambil berdiri. Eza mengacungkan jempol kecil sebagai balasan.
Ia menyeruput kopinya perlahan. Hangat, pahit, dan familiar. Seketika, kenangan minum kopi bersama Dava di warung yang sama terlintas di benaknya.
“Susah banget ngelupain momen itu,” gumamnya lirih.
Tiba-tiba—
“Mamah!” suara kecil itu membuyarkan lamunannya.
Seorang anak perempuan mungil dengan mata bening berlari ke arahnya.
“Eh, bukan... aku bukan mamah kamu, Dek,” elak Eza sambil menggeleng pelan.
“Terus mamah aku mana?” tanya si kecil, wajahnya sedih nyaris menangis.
Dengan cepat, Eza meraih tubuh kecil itu dan memangkunya. “Kamu dari mana, sayang? Keluargamu mana?”
“Tadi ada di sana,” jawabnya polos sambil menunjuk ke jalan sepi.
Eza panik. “Anak siapa sih bisa sampai nyasar ke sini...”
“Nama kamu siapa?” tanyanya pelan.
“Adelina Azkia,” jawab si kecil sambil tersenyum manis.
Eza membawa Adel ke ibu warung yang tengah sibuk melayani pesanan.
“Permisi, Bu,” sapa Eza, membuat wanita itu menoleh.
“Kenapa, Neng? Mau pulang?”
“Iya, ini uangnya. Kembaliannya ambil aja ya, Bu,” ujar Eza sambil menyerahkan uang.
“Wah, makasih banyak, Neng...” jawab ibu itu penuh syukur.
“Bu, Ibu tau nggak anak ini siapa? Ada yang bawa ke sini?”
Ibu warung menggeleng. “Nggak ada, Neng. Dari tadi nggak ada yang bawa anak kecil.”
Eza pamit, lalu berjalan sambil menggendong Adel.
“Adel, keluarga kamu di mana sebenarnya?”
“Nggak tau. Tadi ada abang di sana,” lagi-lagi menunjuk ke jalan sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Teen FictionDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
