24. Akhir Dari Misi

115 25 0
                                        

"Dari mana aja, Al? Lama amat perginya," ucap Dava dengan nada malas, matanya menyipit begitu melihat Eza akhirnya masuk ke ruang tengah.

"Kan gue bilang, cari duda," sahut Eza santai sambil menjatuhkan diri ke sofa, kakinya langsung naik satu.

Dava mendecak, "Mentang-mentang calon suami lagi sakit, enak-enakan cari yang lain!" sindirnya keras, mulutnya manyun.

"Yaelah, orang gue balik ke rumah bentar," ucap Eza cepat, matanya sedikit menghindar—jelas bohong.

Dava menaikkan satu alis, bingung. "Ngapain?"

Eza mengangkat bahu. "Kondangan."

"Serius napa!" Dava mendengus, menatap sengit dengan mata tajam seperti elang.

Eza tersenyum kecil, lalu menunduk membenahi posisi duduk Dava. "Udah, lo istirahat aja. Jangan banyak gerak dulu. Kalo ada apa-apa, panggil gue."

"Dih, gue udah sembuh kali," gumam Dava sinis, tapi senyumnya mulai muncul.

Eza langsung menatap Dava penuh harap, senyumnya melebar. "Yaudah, ayo nikah."

"Gila." Dava memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

"Tadi dokter ada periksa lo lagi, Dav?" tanya Eza sambil bersandar di sisi sofa, nada suaranya lembut.

Dava mengangguk singkat. "Katanya satu sampe dua hari lagi luka gue sembuh total, jadi boleh pulang," jelasnya masih dengan mata terpejam.

"Lebih cepet lebih baik," gumam Eza pelan, tersenyum tipis sambil membaringkan diri di sofa panjang.

"Woy! Ngapain lo tidur di situ!" sentak Dava tiba-tiba, bikin Eza kaget.

"Apaan sih, Dav! Mau tidur pun gak senang!" Eza bangkit setengah duduk, ekspresi sewot.

Dava nyengir, "Kalo mau tidur, gabung gue aja! Ntar badan lo pegel-pegel lagi tidur di sofa."

"Dari tadi kek nawarinnya!" gerutu Eza, lalu bangkit dan pindah ke tempat tidur.

Begitu Eza hampir menyentuh Dava, Dava langsung menyingkirkan tangannya. "Awas kena dada gue!" tegurnya tegas.

Eza terdiam sejenak, lalu menatap langit-langit. "Untung nembaknya gak pas kena jantung. Kalo iya, lo udah mati."

"Bukan takdir gue mati kena tembak," sahut Dava, ikut menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Hening sesaat.

"Selesai ini, lo mau ikut gue nggak, Dav?" tanya Eza pelan, melirik sekilas ke arah Dava.

Dava menoleh sedikit, "Ikut ke mana?"

"Selesaiin misi." ucap Eza mantap.

Dava mengangguk pelan meski tak sepenuhnya paham. Tapi dia percaya pada Eza.

"Udah minum obat kan?"

"Udah. Obatnya pahit. Kalo tadi lo ada di sini, pasti manis," jawab Dava santai, senyum jahil merekah.

Eza mengernyit. "Kenapa?"

"Kan liat wajah lo," senyum Dava makin lebar.

Eza spontan memalingkan wajahnya sambil menutupi pipi. "Gombalan basi!" gerutunya sambil geleng-geleng.

"Lah, siapa yang gombal, orang gue bilang kenyataannya," cicit Dava, puas melihat pipi Eza memerah.

"Heh! Gue bilang tidur malah ngobrol!" sentak Eza sambil memejamkan mata, berusaha tidur.

Sesaat kemudian, suara Dava terdengar pelan tapi menggoda, "Jadi... mau punya anak berapa?"

"Bisa-bisanya bahas anak!" Eza langsung mencubit pinggang Dava dengan keras.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang