Setelahnya mereka semua berkumpul di Maja, makan bersama untuk kembali merasakan kebersamaan yang sudah lama hilang.
"Kurang suka sama sop buntut di sini," ujar Eza setelah meletakkan sendoknya.
"Kenapa?" tanya Gasya yang duduk di sampingnya sambil melirik heran.
"Beda tangan beda rasa," jawab Eza sambil mengangkat kedua bahunya santai.
"Resep di Indonesia emang paling the best seluruh dunia! Nggak ada yang ngalahin deh," ucapnya lagi, matanya menerawang seolah membayangkan cita rasa sop buntut di kampung halamannya.
"Kenapa...? Karena banyak rempah-rempahnya yang berlimpah," gumamnya pelan, lalu senyum-senyum sendiri seperti terbius kenangan.
"Emang agak laen," sahut Karel dengan malas, menatap Eza seolah jengah.
"Dad, kemarin sebelum berangkat ke Singapura, Tangan Akhir ngirimin video," ujar Eza sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Video apa?" sahut Nio penasaran, tubuhnya sedikit condong ke depan.
"Dazeen sama Riko," jawab Eza dengan senyum miring, menatap Nio penuh teka-teki.
"Mereka diapain, Dek?" tanya Kara sambil memiringkan kepalanya.
"Diguling, dilumuri saus banyak banget. Terus setelah matang, langsung dicincang kecil-kecil. Tubuhnya Dazeen dibuat sop daging manusia, kalau Axelo tetap jadi guling," jelas Eza santai, seperti sedang membaca dongeng anak-anak.
Sementara itu, yang lain mendengarkan serius, bahkan Karel sampai meringis membayangkan prosesnya.
"Ngeri, si kanibalnya pasti kenyang tuh sampai dua bulan," celetuk Areksa sambil menggeliat geli.
"Dia aja bilang kenyang gitu," timpal Eza, mengangguk-angguk seolah membenarkan.
"Ciri-ciri kanibalisme gimana sih? Gue takut kalau sampai ketemu dia," tanya Karel memeluk tubuhnya sendiri, wajahnya penuh waspada.
"Intinya punya kepala," jawab Eza datar, membuat yang lain menatapnya tajam.
"Lah bener kan? Kalo nggak ada, namanya kepala buntung," sambungnya sambil menatap mereka satu per satu dengan ekspresi serius yang kocak.
"Udah, udah... semua istirahat," potong Nio cepat sebelum suasana berubah jadi perang saudara.
"Gendong gue ke kamar dong, males banget harus jalan jauh," rengek Eza sambil merentangkan kedua tangannya ke arah siapa pun yang mau menyambut—tapi tak ada.
Semua pergi ke kamar masing-masing tanpa memperdulikan Eza.
"Jahat banget sih jadi keluarga!" sentaknya kesal, menyeret langkah menuju kamarnya sendiri sambil menggerutu.
"Dasar nggak peka! Gue kan pengen dimanja selagi suami gue cari uang yang banyak!" sambungnya sebal sambil membuka pintu kamar.
Begitu masuk, Eza langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk.
"Kira-kira Dava udah nyampe belum ya?" gumamnya pelan, memandangi langit-langit.
"Gue telpon nggak ya? Kalo nggak, nanti gue kangen banget. Tapi kalo iya, takut ganggu di sana," bimbangnya ragu.
"Yaudah deh, telpon aja mending, daripada gue mati kerinduan," ujarnya sambil menekan tombol panggilan.
Tut...
Tut...
"Halo? Kenapa, Al?" suara Dava terdengar cepat di seberang.
"Dav, gue kangen..." rengeknya manja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Teen FictionDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
