Mata Alenza terpaku tak bergerak. Apakah telinganya salah mendengar? Mengapa begitu jelas? Harusnya dia menutup telinga, jika sudah tahu begini hati kecilnya menjadi terluka. "C-cacat, Dad?" ucapnya seakan tak percaya.
Pria itu mengerti keterkejutan putrinya. "Ya, itu sebabnya dia begitu membenci dirimu, bahkan kedua putranya ikut menunjukkan kebenciannya kepadamu karena faktanya mereka berpikir bahwa penyebab kematian sang Mama adalah karena kelahiran mu," jelasnya membuat kebingungan Alenza semakin besar.
"H-hah? Siapa Mama? Mommy Alenza?" Tanyanya tak mengerti.
"Apa maksudmu? Mama mereka, keluarga Elior." Terangnya membuat syok Alenza, dia mengerti siapa yang di maksud sang Daddy, tetapi tentang dirinya cacat, apakah itu benar?.
"Baiklah, apa Alenza benar-benar cacat?" tanyanya ingin memastikan.
Pria itu tersenyum miring mengetahui ucapannya dipercaya sang empu. "Apa suara Daddy terdengar tengah mengajakmu bercanda?" Cecarnya membalas.
"Di mana kekuranganku?" Sahut Alenza tak menyangka seraya berjalan mendekati kaca, melihat pantulan dirinya dari cermin.
"Jangan tanyakan hal itu pada Daddy, kenapa kamu tidak bertanya kepada keluarga Elior itu?" celetuknya menutup sambungan telepon mereka sepihak.
Alenza membuang ponselnya tak tentu arah, kakinya bergegas keluar kamar melangkah menuruni tangga dengan gerakan cepat tanpa ada rasa takut jika terjatuh.
Napasnya tersengal-sengal. Dia berdiri di depan Kezav yang tengah terduduk di sofa ruang keluarga sembari menonton televisi. "Ngapain lo datang-datang ngalangin gue buat nonton televisi?!" Tekannya kesal karena Alenza tak segera menyingkir pergi.
"Gue punya satu pertanyaan, jawab jujur gue bakalan pergi ngejauh dari lo!" Ucapnya tergesa-gesa membuat Kezav sedikit tercengang.
"Apa alasan lo benci sama gue?!" Tanyanya cepat tak ingin mendapatkan respons balasan dari Kezav yang heran dengannya.
Kezav seketika terdiam, tangannya bergerak memencet tombol pada remote control televisi, mematikannya membuat tak ada lagi suara yang terdengar berisik.
Senyuman miring terlihat di bibir Kezav, Alenza mengartikannya sebagai tanda remeh kepadanya. "Lo datang tanpa di duga, kasih gue pertanyaan mengejutkan? Mengesankan banget ya!" Sahutnya menimpali tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Alenza mengeram, apa yang membuat dirinya menunggu selain jawaban jujur dari cowok itu sekarang?. "Bisa langsung jawab pertanyaan gue, Kezav?!" tekan nya bersungguh-sungguh.
Kezav mengganti ekspresinya menjadi serius. "Kalo lo mau jawaban jujur dari gue, ini yang bakalan lo dengar sekarang," ujarnya berdiri dari duduknya menatap tajam gadis itu.
"Kalo gue bilang alasannya karena lo cacat dari lahir, percaya?" Cicit Kezav membuat Alenza diam tetapi dalam hatinya sangat membernarkan bahwa apa yang dikatakan orang yang ada di depannya ini sama seperti apa kata Daddy-nya.
Kezav melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Entah lah Alenza tak peduli yang terpenting pertanyaan telah terjawabkan.
Matanya bergerak mengikuti seseorang yang baru saja melewatinya tanpa menyapa. "Papa?" gumam Alenza bingung.
"Papa udah pulang?. Bisa nggak ya besok gue minta Daddy buat mulai rencana?"
Suara bariton mengangetkan gadis itu, berbalik badan dan melihat wajah tegas cowok itu. "Rencana apa yang lo maksud?" curiga Egata bertanya menyelidik.
Alenza menggeleng merespons. "Nggak ada, cuma rencana mimpiin cowok ganteng doang," ujarnya menjawab. Egata berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya tanpa menanggapi ucapannya membuat Alenza bernapas lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Novela JuvenilDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
