16. Kesialan Kecelakaan

151 27 0
                                        

Sedangkan Dava kini telah menghentikan langkah nya di depan gerobak kecil milih seorang lansia yang berjualan. “Permisi, kakek jualan apa?” tanyanya menatap orang tua itu.

Kepala orang tua itu mendongak menatap seseorang yang mengajaknya berbicara, suaranya terdengar samar ditelinga nya karena faktor usia. “Oh, ini... kakek jualan siomay, anak mau beli?” cicitnya dengan menunjukkan senyuman tipis melihat kehadiran anak di depannya.

Dava mengangguk menyetujuinya, dia berjongkok agar kakek itu tidak terus mendogak menatapnya ke atas. Dia melihat kakek itu hanya duduk beralaskan sandal yang dia punya.

Matanya menatap kasihan. “Alhamdulilah, rezeki kakek hari ini ada yang beli,” ujar orang tua itu bersyukur haru.

“Nama saya, Dava. Ini dengan kakek siapa?” sahut Dava bertanya.

Mata pria itu terlihat begitu sayup, sepertinya sudah susah untuk melihat dengan jelas seperti dulu kala di waktu mudanya. “Nama saya Supriaman, orang-orang di desa kakek panggilnya Kakek Pria.” Jawabnya sembari menunjukkan giginya yang sudah tak utuh lagi.

Dava ikut tersenyum. Sebenarnya saat mendengar kakek itu berkata bahwa dia berjualan Siomay, Dava tak berniat membelinya karena dia telah merasa bosan memakan pentolan gang terbuat dari tepung itu, tetapi melihat kakek Pria yang begitu semangat melihat kedatangan membuat Dava menjadi pamrih.

Kekehan kecil Dava tunjukkan sembari mengusap matanya yang mengeluarkan air. “Iya, Kek. Saya mau beli 10 ribuan 2 ya... ” cicitnya berpinta membuat lansia itu sangat antusias meskipun tangannya bergetar saat membuatkan pesanannya.

Dava mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah, mengulurkan kepada sang empu. “Ini uangnya, saya bayar.” Ujarnya memberikan.

Kakek Pria menggeleng menolak. “Ini uangnya kebanyakan, Nak. Kakek nggak punya kembaliannya juga, kamu punya uang pas ‘kan?” lembut pria tua itu berucap.

Kepala Dava menggeleng merespons. “Saya nggak perlu kembalian, Kakek... ini ambil aja semua, rezeki jangan ditolak!” cecarnya sembari memaksa tangan tak bertenaga pria itu untuk menggenggam uang itu erat.

“Kamu serius, Nak?” ucapnya tak percaya.

“Iya dong serius, masa bercanda!” sahut Dava tertawa kecil mendengar penuturan sang empu.

“Ya Gusti... ” ucapnya terdengar pelan tetapi Dava bisa mendengarnya. “Matur nuwun sanget, Nak ku. Kamu tunggu dulu ya. Kakek bungkusin siomay nya buat kamu,” ujarnya sembari tersenyum lebar.

“Kakek dari Jawa?” tanya Dava ingin tahu.

Kepalanya terangguk membenarkan. “Iya, Kakek dulunya asal Semarang, tapi sudah pindah ke Jakarta, di sini jualan siomay dari tahun 2014,” jelasnya berkata seraya menyiapkan pesanan Dava.

“Kula nggih asli tiyang Jawi mbah, kula campuran Jawi Tengah sami Jawi Wetan,” sahut Dava mengulurkan tangannya ingin mengalami, membuat pria tua itu langsung menjabat hangat tangan Dava.

Saya ya asli orang Jawa Kek, saya campuran Jawa Tengah sama Jawa Timur

“Pantesan rainipun memper tiyang Jawi campuran,” ujar nya mengamati wajah Dava yang cukup familiar dengan orang campuran asli jawa sepertinya.

Pantesan wajah nya mirip orang jawa campuran

“Puniku Jawi Tengah asalipun saking sinten?” tanya kakek itu menjadi penasaran dengan Dava.

Itu Jawa Tengah asalnya dari siapa?

“Asalipun saking Bapak kula,” ujar Dava dengan menampilkan senyum tipisnya. “Gadhah artos Jawi Wetan saking Ibu kula,” lanjut Dava menjelaskan.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang