Genap tiga hari sudah Jemiel dirawat, namun sosok Kristal belum terlihat juga oleh anak semata wayangnya. Kemarin Joy hanya bisa membuat Jemiel dan Mamanya berbicara lewat telepon karena Kristal masih sangat hectic mengurus koleksi pakaian terbarunya. Terlebih tidak ada Joy disisinya yang membuat Kristal sedikit keteteran.
Percakapan Kristal dan Jemiel juga sangat singkat, hanya Kristal yang menanyakan keadaan Jemiel lalu berpesan kepadanya untuk banyak istirahat dan makan dengan teratur. Bibir Jemiel juga seakan kelu, akhirnya ia hanya dapat merespon Mamanya dengan seadanya. Padahal ingin sekali Jemiel mengadu bahwa ia kesakitan, tetapi mendengar suara Mamanya yang lelah membuat ia tak sampai hati untuk mengadukan rasa sakitnya.
Suasana ruang rawat inap Jemiel di sore hari itu cukup ramai karena kedatangan Nata dengan Kinan—Bundanya. Joy langsung pamit pergi ke cafetaria rumah sakit untuk memberikan waktu kepada sahabat karib Jemiel itu agar lebih leluasa.
"Bunda bawain jus jambu biji nih, Jemiel. Bagus buat naikin trombosit," dengan semangat Kinan meletakan tumbler berukuran besar yang berisi jus jambu itu ke meja dekat kasur. "mau diminum sekarang atau nanti?"
"Nanti aja boleh, Bun? Aku kebetulan abis makan buah tadi."
"Oke deh, anak ganteng."
Kinan lalu berjalan mendekati Jemiel dan memeriksa keadaan anak lelaki itu. Memperhatikan dengan seksama muka Jemiel yang pucat dan terlihat lebih tirus, turun ke tangan yang memiliki banyak bekas suntikan yang membiru dan mulai membengkak.
"Bun, kenapa ngeliatin Jemielnya gitu banget sih," protes dilayangkan oleh Nata ketika melihat kelakuan Bundanya.
"Jangan rewel dulu, Na," tegur Kinan membuat Nata mendengus pelan. "tadi abis makan buah terus muntah gak, Nak?"
"Uh, iya Bun. Masih suka muntah kalo abis makan." Jemiel meringis pelan.
"Pantes lo makin kurus begini," sekarang giliran Nata yang mengecek tubuh Jemiel sampai hampir membuat infus Jemiel terlepas. Tangan Kinan langsung menepuk gemas lengan anaknya.
"Jangan bar-bar, Jemielnya bisa kesakitan."
"Panik tau, Bun. Itu kakinya Jemiel juga memar-memar gitu," Nata merasa iba melihat kondisi Jemiel yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja. "pegel gak, Je?"
"Bukan pegel lagi, nyeri banget satu badan."
Jawaban lirih yang diberikan Jemiel membuat Nata semakin panik. Tangannya reflek memijat kaki Jemiel.
"Bun ayo ikut pijetin Jemiel juga, kasian itu dia udah nyeri sebadan-badan."
Kinan hanya dapat menghela nafas melihat perlakuan Nata yang tengah memijat Jemiel dengan amatir. Sementara Jemiel terlalu lemas untuk menanggapi aksi aneh teman sebangkunya itu.
"Kalo dipijetin kamu yang ada Jemiel makin nyeri," Kinan menyingkirkan tangan anaknya dari kaki Jemiel. "orang sakit DBD jangan dipijet, kalo gak pinter malah bisa pecah pembuluh darahnya."
Mulut Nata membentuk huruf O sehabis mendengar penjelasan sang Bunda.
"Jemiel mau Bunda masakin apa?" tanya Bunda sambil tangan cantiknya menyisir surai Jemiel. "yang Jemiel suka. Siapa tau bisa bikin Jemiel gak begitu mual pas makan."
"Skill masak Bunda sekarang udah layak ikut Masterchef, Je. Lo gak usah khawatir." timpal Nata dengan acungan jempol di kedua tangannya.
"Betul itu. Chef Juna kalo makan masakan Bunda pasti bakal ngajakin Bunda collab buat buka resto." ujar Kinan dengan penuh percaya diri.
Kekehan kecil datang dari mulut Jemiel ketika mendengar perkataan dari pasangan ibu dan anak di sebelahnya. Nata dan Bundanya memang sangat kompak.
"Soto daging, Bun. Biasanya mbak di rumah suka masakin itu, tapi sekarang lagi pulang kampung karna orang tuanya sakit."
