Jemiel & Mimpi Buruk

550 57 14
                                        

Bibir Jemiel menyunggingkan senyum tatkala mendapati Kristal di meja makan, sedang fokus menyantap sandwich sembari menggulir layar ipadnya. Rasanya sudah lama tidak melihat Mamanya sarapan di meja makan. Tanpa berlama-lama, kakinya dengan cepat berjalan ke meja makan dan duduk di sebelah sang Mama.

"Pagi, Ma."

Fokus Kristal teralihkan, kedua mata cantiknya menatap Jemiel dan tersenyum tipis menanggapi sapaan anaknya.

Canggung.

Satu kata yang sangat mendeskripsikan keadaan ibu dan anak tersebut. Kristal kembali fokus ke kegiatannya sebelum Jemiel datang, sedangkan Jemiel kehabisan kata-kata. Remaja itu menghela nafas kecil dan memutuskan untuk memakan sandwich bagiannya dalam diam.

Terakhir ia berhadapan cukup lama dengan Mamanya ialah pada saat remaja itu tidak sengaja menumpahkan teh di dokumen kerja milik Kristal yang berakhir kakinya terkena pecahan beling karena amarah Kristal. Setelah itu, Mamanya seakan menghindarinya. Berangkat kerja pagi-pagi buta dan pulang lebih malam dari biasanya. Makanya Jemiel sedikit terkejut ketika melihat Mamanya kembali sarapan di meja makan.

Jawaban pesan yang waktu itu dikirimnya untuk menanyakan keberadaan Kristal ketika hari libur pun hanya dibalas sangat singkat.

Mama lagi di luar kota, balik lusa.

Balasan singkat tersebut baru Jemiel dapatkan setelah tiga jam kemudian.

"Mama berangkat."

Suara sang Mama menyadarkan Jemiel, terlihat Kristal sudah selesai dengan sarapannya dan akan beranjak pergi dari ruang makan. Dengan cepat Jemiel menghabiskan sandwichnya dalam satu suapan dan buru-buru meminum susu cokelatnya.

"Bareng Abang ke depannya ya, Ma," mohon Jemiel sehabis menandaskan susu cokelatnya dengan sangat cepat.

Kristal cukup heran dengan kelakuan putranya yang makan seperti kesetanan itu. Ia hanya bisa mengangguk menanggapi permintaan Jemiel. Anaknya itu dengan sigap membukakan pintu depan untuknya. Kristal bisa melihat mata Jemiel membulat ketika mendapati audi berwarna abu-abu milik Bastian terparkir di depan rumah mereka.

"Mama.. gak bawa mobil sendiri?"

"Om Bastian ada meeting di deket kantor Mama, jadi dia nawarin bareng."

Menyadari Kristal tidak seorang diri, Bastian lantas langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri pasangan ibu-anak tersebut dengan senyum cerah.

"Jemiel, udah lama Om Bas gak ketemu kamu. Apa kabar, Jagoan?"

Jemiel pun turut melukiskan senyum, "Baik, Om."

"Kamu mau berangkat sekolah, ya? Bareng aja yuk sama Om Bas dan Mama kamu," ajak Bastian masih dengan senyum diwajahnya. "ini udah mendung banget loh, kasian kalo kamu kehujanan ditengah jalan."

Jemiel sebenarnya ingin menolak. Sejujurnya ia masih tak nyaman melihat interaksi Om Bastian dengan Mamanya—terlebih mengingat weekend kemarin sang Mama lebih memilih menghabiskan liburannya dengan Om Bastian beserta Davin. Ia juga ragu jika Mamanya menyetujui ide Om Bastian untuk mereka bertiga berangkat bersama.

"Gausah Om Bas, aku ada jas hujan kok. Lagian gak searah sama sekolahku, aku berangkat sendiri aja gapapa," tolak Jemiel halus.

Namun sepertinya Bastian masih tidak menyerah, "Meskipun pake jas hujan tapi kamu tetep bisa sakit karena cuaca dingin, nanti sepatu kamu juga jadi basah dan gak nyaman dipakai. Bareng aja, ya? Mama kamu juga pasti lebih tenang kalau kita berangkat bareng. Iya kan, Kristal?"

Bastian meminta dukungan Kristal agar Jemiel luluh untuk mau berangkat bersama. Pria dengan kemeja navy itu tau jika Jemiel sangat nurut pada Mamanya.

Kristal lalu menganggukan kepalanya yang membuat Bastian tersenyum semakin lebar.

"Tuh liat Mamamu setuju, gak ada alasan lagi ya, Jemiel. Kamu Om Bas anterin ke sekolah."

Jemiel hanya dapat pasrah sekarang. Tidak mungkin ia terang-terangan mengutarakan bahwa ia tidak nyaman melihat kedekatan Bastian dengan Kristal. Remaja tersebut hanya bisa terdiam di kursi belakang, menatap pemandangan di luar jendelanya yang mulai basah karena rintikan hujan. Ia berusaha menatap apapun selain menatap dua manusia dewasa di depannya yang sedari tadi mengobrol dengan akrab dan hangat.

Nada halus Om Bastian ketika berbicara dengan Mama, candaan yang dilemparkan Om Bastian yang mengundang tawa dari Mama, pertanyaan-pertanyaan yang penuh perhatian dari Om Bastian, dan sentuh-sentuhan kecil yang diberikan Om Bastian seperti merapihkan rambut Mama dan mengusapnya dengan lembut.

Jemiel seperti kembali berada dalam mimpi buruk.

Anak lelaki itu masih sangat ingat bagaimana dulu ia juga melihat sang Mama diperlakukan seperti itu. Diperlakukan dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, namun akhirnya berakhir memiliki banyak luka dan lebam disekujur tubuh indahnya.

Ia juga masih sangat ingat bagaimana dirinya diperlakukan dengan sangat baik, kerap dibelikan camilan dan banyak mainan serta diberikan limpahan perhatian, namun berakhir menerima luka di pipi serta menyaksikan bagaimana sang Mama menangis histeris dihadapannya.

Lamunan mengenai masa lalunya terhenti ketika suara Om Bastian memenuhi pendengarannya.

"Udah sampe nih, Jemiel," ujar Bastian yang kini menolehkan kepalanya ke arah Jemiel. "nanti pulangnya Om Bas jemput lagi, ya? Kebetulan kerjaan Om cuma sampe jam satu. Abis itu nanti kita jalan berdua aja, gimana? Davin soalnya lagi jadwal pulang ke rumah Kakek Neneknya."

Jemiel menjadi sedikit linglung mendengar ajakan Bastian yang tiba-tiba. Remaja itu akhirnya sadar jika Bastian berniat ingin lebih dekat dengannya.

"Maaf Om Bas, nanti aku pulang bareng sama temenku sekalian les juga. Tapi makasih ya, Om, tawarannya. Makasih juga tumpangannya pagi ini," jawab Jemiel tersenyum tidak enak. "kalo gitu aku pamit turun ya, hati-hati di jalan Mama dan Om Bas."

Setelah menutup pintu mobil milik Bastian, Jemiel mengatur nafasnya sebentar sebelum berjalan cepat memasuki lobby sekolahnya. Ia seperti sedang berada dibagian mimpi buruknya lagi. Tanpa sadar kedua telapak tangannya sudah mengepal sangat erat dan jantungnya
berdebar sangat cepat.

Jemiel ketakutan—remaja lelaki itu ketakutan setengah mati.

彡彡彡

double up karna lagi lancar idenya 🙂‍↕️

menurut kalian gimana nih, om bas cocok ga jadi ayahnya jemiel??? 😛

see you on the next chapter, jangan lupa vote & commentnya yaa! <33

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang