Jemiel & Kesepiannya

361 60 10
                                        

Jemiel menatap kosong ruang makan dan ruang tv yang begitu lengang. Dirinya bangun di siang hari karena Jumat ini merupakan tanggal merah. Di long weekend, para sahabatnya sudah memiliki agenda pergi bersama keluarganya masing-masing. Menyisakan Jemiel yang lagi-lagi terjebak dalam rasa sepi yang tak berkesudahan.

Terdapat beberapa lauk yang sudah tersedia di meja makan, ah remaja itu baru teringat jika Mbak Dina izin hanya masuk setengah hari karena hari ini merupakan ulang tahun anaknya. Jemiel mengambil minum karena tenggorokannya terasa sangat kering. Ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang telah dimasak Mbak Dina, cowok itu tidak berselera makan.

Setelah meneguk air putihnya hingga tandas, ia menyeret kakinya untuk duduk di sofa depan tv. Menatap sekilas pintu kamar Mamanya. Bertanya-tanya dalam hati apakah perempuan cantik tersebut ada di kamar atau sudah pergi. Jemiel sangat tau jika Kristal tidak pernah bangun siang. Mamanya selalu bangun pagi dan langsung berkegiatan, segera ia berlari kecil ke garasi dan mendapati mobil Mamanya disana.

Jemiel jadi berasumsi jika Mamanya berada di kamar karena sangat jarang Mamanya itu pergi tanpa membawa mobilnya. Ia jadi berpikir untuk mengajak sang Mama makan bersama.

Dengan ragu, Jemiel mengetuk pintu kamar Kristal.

"Ma? Udah bangun belum?" tanya Jemiel sembari tangannya terus mengetuk pintu kamar Kristal. "Makan bareng sama Abang, mau gak Ma?"

Jemiel jadi sedikit gelisah karena tidak mendapat jawaban. Tersadar jika pintunya tidak terkunci, membuat Jemiel ingin langsung memasuki kamar Mamanya.

"Abang izin masuk ya, Ma," ujar Jemiel setelah hampir lima menit terus mengetuk pintu itu. 

Kepala Jemiel menyembul dari balik pintu untuk melihat keadaan kamar Kristal. Remaja itu tidak mendapati sang Mama di kamar. Kasurnya pun sudah rapih, ia juga tidak menemukan tas yang sering digunakan Mamanya.

Jemiel menghela nafas kecewa, mungkin sang Mama bekerja dan dijemput Joy menggunakan mobil kantor.

Jemiel tau kalau ia bersikap cukup lancang, tetapi cowok tersebut tidak tahan untuk tidak masuk dan duduk di tepi kasur Kristal. Ini pertama kalinya Jemiel masuk ke kamar Mamanya. Remaja itu cukup heran mendapati kamar Kristal tidak terkunci seperti biasanya. Mungkin perempuan kesayangannya itu lupa karena terlalu terburu-buru.

Matanya menelusuri tiap sudut kamar yang didominasi oleh warna abu-abu dan putih itu. Tidak terlalu banyak barang di kamar sang Mama, walk in closetnya pun terlihat minimalis untuk ukuran seorang desainer. Tidak jugaterdapat lukisan ataupun foto di kamar tersebut. Lalu Jemiel sedikit kecewa ketika melihat kalung hadiah darinya tersimpan di atas meja rias Kristal. Ternyata Mamanya tidak lagi menggunakan kalung pemberiannya.

Segera ia menepis rasa tidak mengenakan itu dan beranjak keluar kamar. Remaja itu kembali ke kamarnya sendiri untuk mengambil handphone.

Jemiel
Kak Joy, hari ini Mama kerja dijemput sama Kakak ya?
Kok tumben gak bawa mobil

Kak Joy
Loh hari ini kan tanggal merah, Bang. Kantor libur dan Mama kamu gaada pekerjaan hari ini

Kak Joy
Ini aja Kok Joy lagi liburan di Bandung

Tanpa sadar Jemiel menggigit bibirnya resah ketika membaca balasan Joy.

Jemiel
Ok kak makasih, mungkin Mama lagi pergi sama temennya

Jemiel
maaf ganggu liburannya ya Kak Joy

Kak Joy
Mau Kak Joy tanyain ke Mama kamu gak, Bang? Kamu sendirian di rumah ya?

Jemiel
Gak usah Kak, Kak Joy nikmatin aja liburannya, aku gapapa kok

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang