Jemiel & Om Gabriel

546 60 7
                                        

Nata menatap iri teman sebangkunya yang tengah tersenyum lebar, mereka baru saja diinfokan nilai dari tugas esai Bahasa Inggris. Miss Andrea—sang guru Bahasa Inggris, tersenyum bangga kepada Jemiel yang mendapat nilai sempurna ditugas kali ini.

"Kok tiba-tiba jadi jago inggris sih lo?" tanya Nata menyiku Jemiel dengan lengannya.

Ditanya seperti itu membuat Jemiel jadi mengingat lagi momen Mamanya untuk pertama kali membantu dia mengerjakan tugas sekolahnya. Meskipun yang melakukan crosscheck untuk grammarnya ialah Jeslan karena Kristal kembali disibukan dengan tumpukan pekerjaan, Jemiel tetap merasa sangat bahagia—terlebih ia mendapat nilai sempurna untuk tugas kali ini.

"Malah nyengir, iya dah yang lagi diatas awan karna dipuji Miss Andrea di depan kelas," sungut Nata, remaja itu kemudian meringis menatap nilainya yang mepet kkm itu.

"Mama gue yang bantuin, dia dulu sering menang lomba esai," jawab Jemiel akhirnya, dengan nada bangga.

"Keren banget si tante, Bunda gue mah boro-boro, baru gue bilang ada tugas bahasa inggris aja langsung kabur katanya minta bantuan google translate aja."

"Tapi kan Bunda lo jago ekonomi, Na. Nilai ekonomi lo selalu bagus kan?" ujar Jemiel melirik sekilas Nata yang sekarang gantian nyengir.

"Eh Je, pulang nanti ada acara gak?" tanya Nata mengalihkan topik.

"Mau tambahan ekonomi di bimbel, minggu depan ada ulangan kan."

"Bolos sehari dong, nanti gue yang ajarin deh itu gampang, atau lo request diajar Bunda juga boleh. Temenin gue dulu nanti pulsek," pinta Nata dengan wajah yang diimut-imutkan tapi jadinya amit-amit itu, Jemiel meringis geli.

"Jijik, Na. Temenin kemana sih emang? Ajak Renja atau Mahen aja," ujar Jemiel sambil menyingkirkan tangan Nata yang menahannya untuk beres-beres.

"Lo gak inget hari ini jadwalnya Mahen nganter adeknya les? Renja juga sibuk sama olimnya lusa. Please, Je, temenin gue dong, garing kalo sendirian."

Jemiel tidak tahan dengan mulut cerewet Nata, akhirnya ia mengalah. "Temenin kemana?"

Nata langsung bersorak senang. "Hehe gitu dong. Temenin ke soft opening cafe baru punya sahabatnya Bunda. Bunda ada urusan mendadak harus nemenin Ayah ke Solo, terus melimpahkan kewajibannya ke gue. Sahabat deket Bunda banget ini, gak enak kalo gak dateng."

Jemiel terlihat menimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Tapi lo ajarin gue ekonomi setiap hari sampe ulangan mingdep, gimana?"

"Deal!"

-

Jemiel turun dari Honda Civic berwarna putih milik Nata. Kedua remaja tersebut pulang terlebih dahulu untuk berganti baju, lalu Nata menjemput Jemiel dengan mobil barunya yang ia dapat sebagai hadiah sweet seventeen dua bulan lalu.

Nata menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valley. Cafe milik sahabat Bunda Nata berada di daerah elit Darmawangsa, Jakarta Selatan. Bergaya klasik eropa yang mewah nan elegan dengan desain atap kaca bergaya konservatorium. 

Setelah Nata menyerahkan undangan digital untun discan, mereka diarahkan oleh pelayan ke tempat duduk yang telah disiapkan.

"Sahabat Bunda lo yang mana, Na?" tanya Jemiel sambil melihat-lihat menu yang sudah tersedia di meja mereka.

Nata sedikit celingukan. "Bentar, gue juga agak lupa, terakhir ketemu pas smp soalnya."

Nata yang masih mencari-cari wanita yang merupakan sahabat dekat Bundanya sampai tak sadar pundaknya ditepuk dari belakang.

"Halo, ini Nata anaknya Kak Kinan, kan ya?" suara lembut terdengar dari seseorang yang menepuk pundak Nata.

Terlihat wanita anggun berambut hitam panjang, menggunakan dress hitam tanpa lengan dan scarf satin berwarna gading terikat cantik dilehernya.

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang