Jemiel & Satu Hari Bersama Mama

394 70 10
                                        

Sudah hampir delapan tahun Mbak Dina bekerja dengan Kristal, membantu perempuan yang umurnya tidak jauh darinya itu menjaga Jemiel dan mengurus rumah termasuk menyiapkan sarapan tiap pagi. Namun, baru kali ini ia menyiapkan sarapan dibantu oleh majikannya itu. Kristal datang ke dapur dan langsung mengambil alih bungkus roti yang baru Mbak Dina keluarkan dari rak makanan.

"Biar saya aja yang bikin, Mbak. Saya lagi kepingin burger, sekalian bikin buat Jemiel juga," ujar Kristal tiba-tiba. "Mbak Dina bisa tolong bantu bikin minumnya ya."

Sadar dari keterkejutannya, Mbak Dina langsung mengangguk patuh. "Siap, Bu. Ibu mau apa? Teh kayak biasanya kah?"

"Iya tapi yang english breakfast ya Mbak, jangan yang green tea kayak biasa."

"Baik Bu. Kalo Den Jemiel apa, Bu?"

Kali ini Krystal terdiam sebentar, lupa dengan minuman yang biasa anaknya suka minum di pagi hari.

"Biasanya Abang minum apa kalo sarapan, Mbak?" tanya Kristal akhirnya.

"Susu cokelat, Bu. Aden suka banget sama susu cokelat hangat tanpa gula, tapi barangkali Aden lagi pengen minum yang lain kayak Ibu."

"Ya udah buatin yang kayak biasanya aja, Mbak." putus Kristal tak ambil pusing. Perempuan yang masih mengenakan piyama berwarna abu-abu itu lalu mulai sibuk membuat burger kesukaannya. Sementara Mbak Dina juga mulai membuat teh dan susu untuk kedua majikannya.

Tidak sampai setengah jam, dua burder buatan Kristal sudah tersaji rapi di meja makan. Baru saja ia hendak menyuruh Mbak Dina untuk membangunkan Jemiel, remaja yang baru saja berusia legal tersebut muncul dengan senyum lebarnya.

"Selamat pagi, Ma." sapa Jemiel hangat, menghampiri Mamanya yang sudah duduk di kursi makan dan mengambil tempat di depan perempuan cantik itu.

Sapaan hangat itu hanya dibalas oleh anggukan oleh Kristal.

"Sarapan dulu."

Jemiel mengangguk semangat, melihat sepiring burger di depannya dengan penuh minat.

"Tumben Mbak Dina bikin burger."

Mbak Dina yang sedang berdiri tak jauh dari meja makan langsung tersenyum geli mendengar ucapan Jemiel.

"Bukan Mbak yang buat, Den. Itu buatan Ibu."

Mendengar itu, Jemiel tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Ia menatap Mamanya yang sedang menyeruput teh dengan mata berbinar. "Makasih, Ma. Pasti burgernya enak."

"Iya. Jangan lupa doa sebelum makan, Bang." tegur Kristal ketika melihat Jemiel yang akan langsung memakan burgernya tanpa berdoa terlebih dahulu.

Jemiel meringis malu, langsung ia letakan kembali burger yang sudah ia pegang dan mulai berdoa sebelum akhirnya memakan sandwich buatan sang Mama tercinta.

"Enak banget, Ma." puji Jemiel masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Kristal menggeleng heran melihat kelakuan Jemiel yang seperti anak lima tahun itu. "Telen dulu makanannya baru ngomong. Nanti kesedak."

Jemiel lagi-lagi meringis malu. Baru sadar jika dirinya terlalu bersemangat.

Selanjutnya keheningan meliputi sepasang ibu dan anak tersebut. Jemiel sibuk mengunyah makanannya dengan cepat, begitu pula Kristal yang dengan tenang menyantap sarapannya.

Kening Jemiel mengernyit ketika mengigit sayuran yang sangat tidak ia sukai.

"Mama pakein tomat ya?"

"Iya, kesukaan Abang kan?"

"Dari dulu Abang gak pernah suka tomat Ma," jujur Jemiel. "tapi gapapa, tetep enak banget buatan Mama."

KanigaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang