Jemiel & Kebiasaan

637 65 0
                                        

Dulu sebelum bertemu dengan ketiga sohibnya, Jemiel merupakan pribadi yang sangat tertutup—meski sampai sekarang pun Jemiel masih yang paling tertutup diantara para sahabatnya.

Jemiel terbiasa memendam semua perasaan yang ia punya.

Memendam rasa iri ketika hari pertama masuk TK dulu, hanya dia yang tidak diantar lengkap oleh kedua orangtuanya.

Memendam rasa kecewa ketika mamanya tidak pernah bisa mendampinginya pergi untuk karyawisata. Sehingga dulu waktu ia TK sampai SD kelas 3, dirinya selalu duduk di bus bersama bu guru, ketika para teman sekelasnya bisa duduk sambil bermanja-manjaan dengan orangtuanya.

Memendam rasa sakit ketika dulu ia masih sering ditinggal sendiri di apartemen kecil milik Mama ketika wanita tersayangnya itu bekerja. Dirinya lebih baik menahan rasa sakit ketimbang merepotkan mamanya.

Jemiel juga sangat pandai memendam rasa sedih. Sedih mengetahui bahwa dirinya tidak akan pernah bisa memiliki keluarga yang utuh, sedih mengetahui bahwa mamanya begitu banyak berkorban untuk memperjuangkan kehadirannya di dunia.

"Rotinya gak dimakan, Bang?"

Sebuah suara yang sangat Jemiel kenali, membawa cowok itu kembali sadar dari lamunan panjangnya.

Terlihat Kristal dengan wajah lelahnya sedang menarik kursi meja makan disebelah Jemiel.

"Mama udah pulang?" Anak lelaki itu terkejut melihat mamanya yang sepertinya semalam masih berada di Singapore.

"Baru banget sampe tadi, hari ini mau ketemu klien penting, jadi bela-belain pulang."

Mulut Jemiel membentuk huruf O lalu menganggukan kepalanya sebagai balasan. Sebenarnya banyak sekali perkataan yang terpendam dihatinya, namun melihat Kristal yang tampak masih sangat kelelahan membuat Jemiel mengurungkan niatnya untuk mengajak ngobrol mamanya.

"Abang kok ngelamun lagi, nih Mama olesin ya rotinya. Masih suka pake nutella kan?" Tangan Kristal dengan cekatan mengolesi roti tawar polos yang sedaritadi hanya dipegang Jemiel.

Dengan kikuk, Jemiel kembali menerima roti yang sudah Mamanya olesi dengan nutella. "Makasih, Mama."

Kristal tersenyum hangat, dengan sayang ia rapihkan poni anak semata wayangnya yang sudah hampir menyentuh mata. "Sama-sama, Abang. Ini poni kamu udah panjang, gak dimarahin sama BK?"

"Eh?" Jemiel yang tidak terbiasa dengan sentuhan yang diberikan Kristal itu sedikit terperanjat. Namun dengan cepat ia kembali mengumpulkan dirinya. "kemarin udah sempet ditegur sama anak osis..."

"Tuh kan, nanti pulang sekolah potong ya. Sekalian rapihin rambut kamu juga," Kristal menarik tangannya dari Jemiel lalu meneguk air lemon miliknya. "Mama berangkat duluan ya, kamu nanti hati-hati bawa motornya."

Jemiel merasa tak rela melihat Mamanya yang sudah mau pergi bekerja lagi, cowok itu masih mau mendapat perhatian-perhatian kecil dari Kristal yang akhir-akhir ini sudah sangat jarang didapatnya.

Namun, Jemiel tetaplah Jemiel. Si pemendam rasa nomor satu.

"Ma," panggil Jemiel ragu, "Temenin Abang sarapan dulu, gak bisa ya?" lanjutnya dalam hati.

Kristal menghentikan langkahnya sejenak ketika anak semata wayangnya itu memanggil, "Kenapa, Bang? Kalau ada yang mau disampein atau diinginin chat aja, ya. Mama udah ditunggu klien nih soalnya."

Merasa tak enak hati karena telah membuang-buang waktu Mamanya, Jemiel meringis kecil.

"Enggak itu.. c-cuma mau bilang hati-hati di jalan," ujar Jemiel kaku.

"Astaga kirain kenapa, thank you son. Be good ya di sekolah."

Setelah mengucapkan kalimat singkat tersebut, punggung Kristal menjauh dan kemudian menghilang dari ruang makan.

Lagi-lagi Jemiel hanya bisa menghela nafas panjang. Menatap kosong roti dengan selai nutella kesukaannya yang belum juga ia makan. Nafsu makannya hilang entah kemana, ia memutuskan untuk langsung berangkat tanpa sarapan. Baru ingin beranjak dari duduknya, suara Mbak Dina terdengar dengan nyaring ditelinganya.

"Den, ini gak dimakan rotinya? Sayang atuh, dijadiin bekal aja ya." Tanpa menunggu jawaban dari Jemiel, Mbak Dina dengan sigap memasukan roti nutella tersebut ke kotak bekal.

"Mau bawa minumnya sekalian gak, Den? Bawa ajalah, nanti Aden seret kasian." Lagi-lagi tanpa menunggu jawaban dari tuan mudanya, Mbak Dina menuangkan susu kedelai favorit Jemiel ke botol minum. Lalu dengan telaten memasukan kotak bekal dan botol minum tersebut ke tas berwarna abu-abu milik Jemiel.

Jemiel sedaritadi hanya bengong melihat Mbak Dina mondar-mandir menyiapkan bekal untuk dirinya. Lalu tertawa kecil melihat kehebohan perempuan yang secara tidak langsung sudah ikut membesarkannya sejak umurnya baru 8 tahun.

"Makasih, Mbak."

Setidaknya dengan Mbak Dina, Jemiel tidak perlu susah-susah memendam keinginannya. Bahkan belum sempat mengungkapkannya saja, Mbak Dina sudah lebih dahulu tau.

彡彡彡

Perempuan kesayangan Jemiel yang supeeeer sibuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perempuan kesayangan Jemiel yang supeeeer sibuk

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang