Keseharian Jemiel tidak ada yang berubah. Selayaknya anak SMA, ia pergi ke sekolah, tempat les, dan tetap bermain bersama ketiga sahabatnya setiap hari Jumat. Remaja itu juga tetap jarang bertemu sang Mama di rumah.
Oh mungkin ada yang sedikit berubah, Jemiel mulai rutin mengonsumsi obat tidur. Beberapa minggu kebelakang cowok itu kesusahan untuk tidur, bahkan ia pernah dua hari tidak tidur sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli obat tidur di apotek. Sekarang ia tidak akan bisa tidur tanpa bantuan obat.
Suara ketukan yang cukup keras berhasil membangunkan Jemiel di hari Sabtu pagi. Matanya melirik sekilas jam yang tertempel di dinding samping, menunjukkan jam setengah tujuh pagi. Ia menghela nafas gusar, dirinya baru bisa tertidur pukul tiga pagi, tentunya dengan bantuan obat tidur.
"Aden udah bangun belum?" suara Mbak Dina terdengar dari luar kamar.
"Iya, Mbak. Masuk aja." Jemiel bangun dari posisi tidurnya, lalu duduk bersandar.
Terdengar suara pintu terbuka, Mbak Dina dengan sumringah membawa kue cokelat dilengkapi lilin angka tujuh belas di atasnya. Jemiel termenung, ia baru sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Mbak Dina dengan semangat menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan heboh menyuruh Jemiel untuk meniup lilin.
"Selamat ulang tahun yaa, Den. Ini kuenya Mbak Dina yang bikin loh, maaf ya cuma bisa kasih ini. Semoga Aden sehat dan bahagia selalu, ayo doa dan tiup lilinnya!"
Jemiel tertawa kecil melihat kehebohan perempuan yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Mamanya.
Kedua mata Jemiel mulai terpejam, menuturkan doa dalam hati sebelum akhirnya meniup lilin.
"Makasih banyak ya, Mbak, pasti kuenya enak. Makasih juga udah selalu inget ulang tahunku."
"Kembali kasih, anak ganteng. Sok atuh cuci muka sama sikat gigi dulu, abis itu ke meja makan buat makan kuenya ya."
Jemiel mengangguk patuh. Setelah Mbak Dina keluar dari kamar, ia beranjak ke kamar mandi. Di dalam hati, ia sedikit berharap jika ia bisa bertemu Kristal dan mendapat ucapan dari perempuan tersayangnya itu.
Masih menggunakan piyama berwarna abu-abunya dan dengan wajah yang lebih segar, Jemiel melangkah keluar kamar menuju area dapur. Tersaji kue cokelat yang sudah dipotong rapih oleh Mbak Dina dan segelas susu di meja makan.
"Mbak Dina gak ikut makan kuenya?" tanya Jemiel menatap Mbak Dina yang sedang sibuk merapihkan isi kulkas.
Mengerti jika anak majikannya ingin ditemani, Mbak Dina langsung menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. "Ikut dong, sebentar lagi selesai kok ini."
Setelah selesai dengan urusan kulkas, Mbak Dina ikut duduk di sebelah Jemiel.
"Gimana, Den? Enak gak?" tanya Mbak Dina penasaran, menunggu reaksi Jemiel yang baru saja menyuapkan kue buatannya.
Jemiel tersenyum lebar sambil mengangkat jempolnya. "Enak banget, Mbak."
"Syukurlah! Mbak bikinnya pagi-pagi banget tadi, sebelum Ibu berangkat malah."
Mendengar itu, Jemiel mendadak terdiam.
"Mama pergi, Mbak?"
"Iya, Den. Tadi Ibu bilangnya ada kerjaan di Bandung." jawab Mbak Dina, lalu tersadar jika remaja di sebelahnya langsung terlihat murung. "Eh tapi Ibu gak sampe nginep kok, nanti abis kerjaannya beres langsung pulang katanya."
Jemiel masih terdiam membuat Mbak Dina tidak tega.
"Ibu pasti ngeusahain kerjaannya cepet kelar biar bisa ngerayain ultah Aden. Sekarang ngerayainnya sama Mbak dulu, oke? Aden mau dimasakin apa hari ini? Mbak Dina terima semua permintaan khusus buat yang ulang tahun!" ujar Mbak Dina berusaha menghibur Jemiel.
