Mendengar kabar jika sahabatnya tumbang dan dilarikan ke IGD membuat Nata dan Jemiel kalang kabut. Kedua remaja itu sangat hafal jika tubuh Renja rentan terserang penyakit jika terlalu banyak pikiran atau stres. Terlebih yang mereka tahu kedua orang tua dan kakak lelaki Renja sedang sibuk-sibuknya karena beberapa hari kebelakang, Renja kerap mengeluhkan hal tersebut.
Saat tiba di rumah sakit, Nata dan Jemiel sedikit berlari menuju IGD. Ketika sampai disana, keduanya mendapati Renja yang terbaring lemah di kasur dengan infus yang sudah terpasang. Mereka juga melihat Pak Imam yang merupakan satpam di sekolah mereka menemani Renja.
"Nak Nata, maaf ya tadi Bapak tiba-tiba hubungin kamu. Soalnya panggilan terakhir Renja itu kamu dan Bapak tadi udah terlalu panik karena nemuin Renja yang hampir pingsan di parkiran. Kata dokter tadi, Nak Renja mengalami dehidrasi berat." jelas lelaki paruh baya tersebut dengan wajah khawatir ketika Nata dan Jemiel menghampiri kasur Renja.
"Gak apa-apa banget, Pak. Saya yang malah makasih udah mau bawa Renja ke rumah sakit dan ngehubungi saya," Nata tersenyum sopan. "Pak Imam kalau mau balik ke sekolah silahkan ya Pak, Renja biar saya sama Jemiel yang jagain."
"Iya Nak, Bapak juga ada shift malam. Kalau gitu Pak Imam tinggal dulu ya, Nak Nata dan Nak Jemiel. Titip Nak Renja dan minta tolong hubungin kedua orang tuanya juga."
Setelah Pak Imam pamit, kedua anak lelaki tersebut menatap Renja sedih.
"Udah hubungin Mami Papi Renja, Na?" tanya Jemiel.
"Udah tapi Papinya Renja belum bisa balik karena penerbangan ke Indo baru ada besok. Kalau Mami tadi langsung nyari tiket dan udah dapet, langsung terbang dari Semarang."
Jemiel mengangguk paham, pasti kedua orang tua Renja sangat panik sekarang mendengar anak bungsu mereka masuk rumah sakit, terlebih baru bulan lalu Renja sembuh dari tipesnya.
"Kak Wira?" tanya Jemiel lagi.
"Udah jalan kesini dari Bandung. Kalau menyangkut Renja emang selalu terdepan banget Kak Wira."
Lagi-lagi Jemiel mengangguk, setuju dengan Nata. "Gue urus administrasi dulu, lo jagain Renja sebentar ya, Na."
Sekarang giliran Nata yang hanya mengangguk, dirinya masih menatap pias Renja yang masih setia memejamkan matanya itu. Nata merasa gagal menjadi teman yang baik dan terlalu abai dengan Renja yang ternyata kesulitan akhir-akhir ini. Tidak lama kemudian Jemiel kembali dan Renja dibawa pindah ke kamar rawat inap.
Saat kakak satu-satunya Renja akhirnya sampai di rumah sakit, Renja juga mulai tersadar. Wira langsung memeluk Renja saat melihat adiknya sudah membuka mata. Jemiel tersenyum tipis melihat perlakuan Wira yang sangat lembut kepada sang adik.
"Jemiel Nata, makasih banyak udah ngurusin dan jagain Renja, nanti gue traktir sebagai ucapan terima kasih ya."
"Gak perlu Kak, emang udah seharusnya kita ngelakuin itu karna Renja sahabat kita." Jemiel tersenyum tidak enak.
"Iya, betul, Kak. Santai aja sama kita," sahut Nata. "Tapi kalau mau traktir Haidi Lao, boleh sih. Kita bisa atur jadwalnya," lanjutnya sembari menyunggingkan cengiran.
Wira tergelak mendengar omongan Nata, Renja yang masih terbaring lemah dikasur juga sudah bisa ikut tertawa lirih. Beda dengan Jemiel yang menahan malu dengan tingkah teman sebangkunya itu.
"Siap, nanti kita atur jadwal," balas Wira setelah selesai dengan tawanya. "kalian berdua balik gih udah malem, Mami juga sebentar lagi sampe, udah dijalan dari Bandara."
"Kok ngusir gitu Kak?" tanya Nata dengan nada bercanda.
"Besok kan masih bisa jengukin Renja lagi, sekalian bareng Mahen juga." saran Wira yang membuat kedua remaja dihadapannya langsung mematung.
