Jemiel & Garda Terdepan

504 58 7
                                        

Tubuh Jemiel sedikit limbung ketika tangan Mahen secara tiba-tiba merangkul lehernya erat. Jemiel menatap tajam temannya itu yang dibalas dengan cengiran konyol manusia disebelahnya.

"Pelan-pelan, Hen. Temen lo kakinya lagi sakit itu." omel Nata yang baru selesai piket dan berjalan menghampiri kedua temannya di depan kelas.

"Hah? Kenapa lo, Je? Jatoh? Apa dislengkat Nata?" tebak Mahen.

"Kaki lo sini gue slengkat."

"Galak banget buset, lagi datang bulan?" ngawur Mahen yang membuat dirinya dihadiahi satu jitakan keras didahi oleh Nata.

"MONYET NATA SAKIT BANGET ANJIR," Mahen dengan heboh memegang bekas jitakan Nata. "Je liat Je, gue dikasarin."

"Kalian berdua kalo mau ribut di tengah lapangan aja sana, nanti gue kasih balok kayu satu-satu."

"Anying lah, lo sama aja galaknya ternyata," sungut Mahen. "tapi gue nanya serius ini, kaki lo kenapa?"

"Gapapa." balas Jemiel, enggan membahas kakinya lebih lanjut.

"Gue udah nanya sampe berbusa dari tadi pagi, gak mau jujur temen lo itu," kesal Nata sambil melirik Jemiel. "lagian kalo gapapa ya harusnya gak pincang gini gak sih? Pinter dikit kek kalau jawab."

"Lo kayaknya bener, Hen. Si Nata lagi datang bulan." bisik Jemiel kepada Mahen yang dibalas tawa oleh lawan bicaranya.

"Gue bilang juga apa Je."

"Udah bisik-bisiknya? Ayo buruan jalannya, si Renja udah nungguin kita dateng." ujar Nata menatap jengkel kedua temannya yang masih belum bergerak.

Renja tidak masuk hari ini, cowok berwajah oriental itu terserang tipes. Terlalu sibuk dan lelah menyiapkan olimpiade kimia tingkat nasionalnya.

"Iya-iya," sahut Mahen akhirnya. "gue nebeng ya, motor lagi dipinjem sepupu soalnya."

"Sama gue aja, Hen." tawar Jemiel yang langsung mendapat pelototan dari Nata.

"Gaada ya lo bonceng-bonceng, kaki lo aja masih pincang gitu!" Nata menatap geram teman sebangkunya. Merebut kunci motor Jemiel dan melemparnya ke Mahen. "Lo aja yang bawa, Hen."

"Siap laksanakan, baginda raja."

-

Ketiga anak manusia tersebut telah sampai di rumah Renja—ia memang minta dirawat di rumah, hasil merengek seharian ke Maminya. Tangan Nata membunyikan bel lalu langsung melepas sepatu diikuti oleh kedua remaja disebelahnya, mereka menyimpan rapih sepatu di rak yang terletak di samping pintu masuk.

Tak berselang lama pintu kayu tersebut terbuka, menampil sosok lelaki yang mereka kenal sebagai Kak Wira—kakak satu-satunya Renja.

"Eh kalian, masuk-masuk sini, Renja udah rewel nanyain daritadi," Wira menyambut dengan ramah dan memundurkan badannya sedikit, mempersilahkan ketiga teman adiknya itu masuk ke dalam.

"Kak Wira gak ada kuliah hari ini?" tanya Jemiel penasaran, pasalnya kakak dari temannya itu jarang terlihat setiap ia main ke rumah Renja.

"Sebenernya ada cuma bolos karena Renja lagi manja banget, tau sendiri kan kalian kalo adek gue sakit kayak gimana," jawab Wira diiringi kekehan kecil. "Ortu juga dua-duanya lagi ada kerjaan penting diluar kota, jadi yaudah deh ngalah, gak tega juga sama Renja."

"Keren juga Renja bisa bikin Mapres FK UI bolos kelas," celetuk Mahen yang disambut tawa oleh Wira.

Bukan rahasia umum lagi jika kakak Renja yang juga merupakan alumni SMA mereka itu adalah mahasiswa berprestasi. Renja sering sekali membanggakan Wira disetiap kesempatan, walau tak jarang juga remaja itu sering mengeluh karena kakaknya yang sangat sibuk sehingga tak punya waktu lagi bersamanya.

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang