Suasana sekolah di Hari Sabtu itu cukup ramai, dipenuhi oleh para siswa dan orangtuanya. Setelah melewati ujian tengah semester yang menguras otak, tiba saatnya para orang tua untuk menerima rapor tengah semester anaknya. Jemiel termasuk ke salah satu murid yang jarang sekali diambil rapor oleh orang tuanya. Joy yang selama beberapa tahun ini mengemban tugas tersebut pun tidak ada dalam pandangan--sibuk menemani Kristal ke Jepang untuk menghadiri Tokyo Fashion Week. Akhirnya rapornya diambilkan oleh Kinan—Bunda Nata.
Sepanjang menemani Kinan yang sedang menyimak penjelasan wali kelasnya dengan seksama, Jemiel hanya menunduk, menatap ujung sepatunya tanpa minat. Beberapa mata pelajaran masih banyak yang dibawah rata-rata. Nilai yang paling tinggi pun hanya menyentuh nilai 80 dan itu hanya disatu mata pelajaran.
Mungkin sekarang dirinya mulai mengerti mengapa Mamanya tidak pernah ada waktu untuk mengambil rapor miliknya, nilainya pun tidak pernah membanggakan. Nilainya hanya membuat malu sang Mama.
"Kamu keren, loh, Jemiel. Tadi wali kelas kamu bilang kalau kamu pintar di Bahasa Inggris," ujar Kinan sambil tersenyum senang, beriringan dengan langkah mereka keluar dari ruang kelas.
"Makasih, Bun. Tapi aku gak pinter, masih banyak yang lebih diatas aku."
Kinan menghentikan langkahnya, membawa dirinya menghadap sahabat sang anak. "Jemiel sayang, pinter gak harus selalu diukur dari nilai dirapor. Kamu rajin, gak pernah telat ngumpulin tugas, mau terus berusaha belajar, itu udah luar biasa banget. Nilai itu bonus, Nak, yang penting kamu udah berusaha semaksimal kamu."
Jemiel masih menundukkan kepalanya, ia hanya mengangguk pelan. Perkataan Bunda Kinan cukup menyentuh hatinya. Jarang ada orang yang mengapresiasi dirinya dalam hal akademik.
Setelah itu, Kinan berpamitan untuk menghampiri Nata yang sudah menunggu di mobil. Tadinya perempuan cantik tersebut menawarkan Jemiel untuk ikut untuk makan bersama, kebetulan Kakek Nenek Nata sedang berkunjung. Tawaran itu langsung ditolak secara halus oleh Jemiel, ia sudah cukup banyak merepotkan Nata dan Bundanya.
Mungkin jika Nata tahu isi kepala teman sebangkunya tersebut, Jemiel sudah langsung ditonjok. Kinan pun tidak dapat memaksa lebih jauh, akhirnya ia berpesan untuk Jemiel hati-hati dalam perjalanan pulang sebelum beranjak pergi.
Vespa hitam kesayangan Jemiel membelah jalanan Jakarta siang itu, ia mengendarainya dengan kecepatan sedang. Kepalanya cukup penuh karena teringat memori saat dahulu Kristal diberi tahu oleh wali kelasnya saat sekolah dasar, jika dirinya terancam tidak naik kelas. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana raut sang Mama kala itu--malu, kecewa, dan terpukul secara bersamaan.
Ia juga kembali teringat ketika dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama, Joy yang kala itu pertama kali mengambilkan rapor Jemiel langsung menghubungi Kristal untuk memberi tahu hasilnya. Sengaja Joy menggunakan fitur loudspeaker agar Jemiel juga dapat mendengar, tetapi perkataan Kristal sehabis Joy menjelaskan rapor dan peringkat Jemiel membuat remaja itu cukup terpukul.
"Jemiel udah saya taruh dibimbel yang paling bagus, tapi kenapa hasilnya segitu-gitu aja ya, Joy? Peringkatnya juga dibawah terus. Saya kurang apa lagi buat dia? Sekolahnya juga selalu saya usahain yang terbaik."
Keluhan Mamanya kala itu membuat Jemiel merasa sangat bersalah. Sejak saat itu ia lebih sering menghabiskan waktu di tempat bimbel untuk tambahan belajar diluar jamnya. Menjadi anak terakhir yang pulang dari tempat bimbel bukanlah hal baru lagi untuk Jemiel.
Dirinya juga kerap mimisan karena terlalu memforsir diri. Bukan hanya Mamanya yang merasa malu, Jemiel pun menanggung rasa malu yang sama terhadap dirinya sendiri.
Sejak kejadian itu, Joy memilih untuk tidak lagi menceritakan hasil rapor Jemiel kepada Kristal, kecuali jika Kristal sendiri yang bertanya.
Kepalanya semakin penuh, membuat Jemiel cukup kehilangan fokus saat menyetir. Anak lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menepi ke taman kota yang searah dengan jalan pulang. Ia duduk disalah satu kursi taman, kedua matanya terpejam, berusaha menenangkan diri. Namun, kilasan-kilasan memori tentang perjuangan sang Mama yang sedari dulu selalu berusaha memberikannya pendidikan terbaik, menghantamnya tanpa ampun.
Kristal, yang saat itu masih bekerja sebagai pramuniaga di sebuah department store, sering mengambil shift tambahan dan pulang larut malam—semata-mata demi uang lebih untuk persiapan Jemiel masuk taman kanak-kanak. Belum cukup dengan itu, Kristal juga mencoba berjualan lewat online shop, bahkan menjadi asisten dosen di kampusnya hanya untuk menambah penghasilan.
Untungnya kecerdasan Kristal memberinya beasiswa penuh untuk kuliah. Namun, meski biaya kuliah tertutupi, kebutuhan rumah dan pendidikan Jemiel tetaplah banyak. Dari Jemiel TK hingga sekarang duduk di bangku SMA, Kristal selalu mengusahakan agar anaknya bisa bersekolah di sekolah swasta terbaik—sekolah yang jelas menuntut biaya tidak sedikit. Kristal juga tanpa ragu mendaftarkan Jemiel ke bimbingan belajar terbaik dengan biaya yang cukup fantastis, disaat tahu bahwa anaknya terancam tidak naik kelas. Meskipun saat itu ia baru saja merintis kariernya sebagai seorang fashion desainer dengan penghasilan yang masih terbatas.
"Bodoh, gak bisa bikin Mama bangga, gagal terus," racau Jemiel, tanpa sadar tangannya mulai memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Bikin malu Mama terus. Kenapa sih bodoh banget? Bodoh lo, Jemiel."
Pukulan Jemiel dikepalanya semakin menjadi, perasaan bersalah dan malu akan dirinya sendiri semakin menguasainya.
Mamanya mengusahakan segalanya agar dirinya mendapatkan pendidikan yang paling baik, tetapi apa yang ia berikan sebagai balasan?
Peringkat yang selalu dilima terendah?
Nilai yang tidak pernah menyentuh angka berkepala sembilan itu?
Panggilan dari sekolah karena Jemiel diujung tanduk nyaris tidak naik kelas?
Jangankan mengikuti lomba, lolos seleksi nilai oleh sekolah pun ia yang menjadi pertama tertendang.
"Kakak baik, kenapa kepalanya dipukulin terus? Banyak nyamuk, ya?"
Suara dari seorang anak perempuan membuat Jemiel menghentikan pukulannya. Kedua matanya menangkap sosok Stella yang menggunakan baju ballet menatap Jemiel dengan polos.
Anak perempuan dari Gabriel itu ikut duduk disebelah Jemiel, mengambil salah satu tangan Jemiel yang tadi ia gunakan untuk memukul kepalanya sendiri. "Jangan dipukul Kak, don't hurt yourself. Sini-sini, biar Ella usir nyamuk-nyamuknya yang ganggu Kakak."
Senyum tipis akhirnya hadir dalam wajah Jemiel. Bersyukur akan kehadiran Stella yang seperti angin, meniup pergi riuh dikepalanya.
"Hai, Ella. Iya tadi banyak nyamuk tapi karena Ella dateng nyamuknya udah pergi. Mereka takut sama Ella tuh. Good job."
Stella menyengir lucu, sambil mengayunkan kedua kakinya . "Hehehe bagus dong, Ella siap jadi pengusir nyamuk buat Kakak, jadi Kakak gak usah pukul-pukul kepala lagi."
"Kok sendirian di taman?" tanya Jemiel, mengalihkan topik.
"Sama Suster kok, tapi Susternya lagi call sama Pak Supir, kayaknya telat jemput." Stella menunjuk sosok perempuan muda yang mengenakan setelan putih di dekat pintu masuk taman, tengah sibuk berbicara lewat ponsel. "Terus aku bosen nunggu di tempat ballet, jadinya minta ke taman. Terus happy deh ketemu Kakak!"
"Kakak juga happy ketemu Ella." balas Jemiel tulus, tangannya bergerak untuk menepuk lembut puncak kepala Stella.
Jemiel memang betulan sangat senang bertemu Stella disaat seperti ini. Anak perempuan ceriwis itu sangat pandai menghempas rasa sepi dan riuhnya. Jemiel kembali mengamati Stella yang masih tersenyum lebar, wajah kecil itu sangat mirip dengan Tante Celine. Namun, yang paling ia perhatikan ialah lengkungan mata Stella saat tersenyum yang mirip dengan dirinya, dan jelas diwarisi oleh sang Ayah, Om Gabriel.
彡彡彡
halo membawa update lagii, dan jangan lupa vote & commentnyaa <8
