Right before I close my eyes
The only thing that's on my mind
Been dreamin' that you feel it too
I wonder what it's like to be loved by you.
彡彡彡
Sudah hampir lima tahun Joy bekerja dengan Kristal.
Sudah hampir lima tahun juga Joy menjadi wali dari Jemiel. Perempuan itu tidak pernah absen untuk mengambil rapot Jemiel, memenuhi panggilan dari sekolah, mengurus kebutuhan Jemiel, dan mengurus Jemiel ketika anak itu terbaring sakit.
Joy sudah menganggap Jemiel sebagai adiknya sendiri. Oleh karena itu ketika mendengar penjelasan dokter yang mengatakan Jemiel terkena DBD dengan trombosit yang sangat rendah dan jika tidak cepat dibawa ke rumah sakit mungkin saja remaja itu akan kehilangan nyawanya, Joy tidak bisa menyembunyikan air matanya. Ia merasa bersalah karena akhir-akhir ini terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengecek keadaan Jemiel. Remaja itu cenderung akan diam ketika merasa sakit, tidak pernah bilang atau mengadu kepada siapa pun.
Sekarang ia sedang menemani Jemiel yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dari UGD. Lelaki itu akhirnya terlelap setelah mendapat suntikan obat. Sekarang Joy sedang dilanda kebingungan karena Kristal sedang rapat penting mengenai koleksi baju terbaru yang sebulan lagi akan launching. Atasannya tersebut tidak dapat dihubungi karena biasanya yang menerima panggilan ketika ia sedang rapat adalah Joy. Harusnya Joy juga turut mengikuti rapat, tetapi saat sedang perjalanan ke kantor ia mendapat kabar jika Jemiel jatuh sakit.
Dengan terburu ia membanting setir mobilnya menuju sekolah. Mengirim pesan kepada Kristal untuk izin tidak menemaninya rapat dan memberi tau kabar yang Joy terima dari Mahen.
Cukup lama Joy tenggelam dalam pikirannya sebelum ponsel pintar miliknya berdering.
"Halo, Joy. Gimana keadaan Abang? Maaf saya baru liat chat kamu,"
"Udah cukup membaik, Bu. Ini baru aja tidur abis di suntik obat. Nanti sore bakal diambil darah lagi buat dicek," papar Joy.
"Syukurlah. Ini saya sekarang mau ke pabrik sama investor. Saya minta tolong jagain Abang ya Joy,"
"Iya, Bu, bakal saya terus jagain," balas Joy lalu hening beberapa detik sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Ibu nanti bakal kesini gak ya? Abang dari masih di sekolah selalu manggilin Ibu terus,"
Jemiel memanggil Mamanya saat sakit bukanlah suatu hal yang biasa. Sejauh yang Joy bisa ingat, remaja tersebut tidak pernah seperti itu sebelumnya. Jemiel bukan tipe yang rewel dan manja ketika sakit.
"Yang bener kamu, Joy. Abang dari kecil gak pernah manja kalau sakit,"
Tadinya Joy tidak mau memberi tau detail ucapan dokter sehabis menangani Jemiel karena takut membuat Kristal panik. Namun sepertinya Joy berubah pikiran, perempuan itu harus mengatakan yang sejujurnya agar Kristal mau untuk datang ke rumah sakit dan melihat Jemiel.
"Tadi Abang trombositnya rendah banget. Kata dokter kalau tadi gak cepat dibawa ke rumah sakit bisa aja Abang gak selamat..." suara Joy bergetar ketika mengingat kembali perkataan dokter. "Abang nolak makan, setiap coba makan berakhir muntah. Mungkin kalau Ibu yang nemenin disini, Abang bakal ada semangat buat sembuh."
Keheningan kembali tercipta diantara keduanya dan cukup lama sampai akhirnya Kristal membuka suara.
"Saya usahain."
Itu menjadi ucapan terakhir Kristal sebelum ia mematikan sambungan telepon.
Joy menghela nafas khawatir ketika melihat Jemiel yang kembali memuntahkan makan malamnya. Terlebih saat melihat cukup banyak darah yang ikut dimuntahkan, membuat Joy dengan sigap memanggil suster dan juga cleaning service.
Jemiel kembali diambil darahnya untuk diperiksa dan ditambahkan satu infus lagi ditangannya. Tangan Joy dengan lembut menyeka bibir Jemiel dan bagian sekitarnya yang kotor menggunakan handuk kecil.
"Gak enak ya Bang badannya, sabar ya," tidak ada yang dapat Joy lakukan lagi selain menguatkan Jemiel dengan kata-kata.
Lengan Jemiel sudah mulai membiru karena bekas banyak suntikan. Joy sungguh tak tega melihat remaja manis yang biasa memberikan senyum hangat kepadanya, kini harus terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit. Melihat Jemiel mimisan cukup banyak dari pagi sampai siang, kemudian melihatnya muntah darah di malam hari. Hati Joy benar-benar merasa sakit menyaksikan kejadian tersebut hanya dalam waktu sehari.
"Mama..."
Jemiel kembali memanggil Mamanya dengan suara pelan, membuat hati Joy semakin sakit dan merasa bersalah dalam satu waktu.
"Sama Kak Joy dulu ya, Abang. Gapapa ya, Bang. Mama Abang lagi sibuk, nanti kalau udah gak sibuk pasti kesini nemenin Abang," ujar Joy dengan senyum getir.
"Mama gak pernah gak sibuk," Jemiel dengan mata sayunya kini menatap Joy yang baru selesai membersihkan mulutnya. "sibuk terus... Mama itu sebenernya sayang sama aku gak ya, Kak?"
"Abang kok ngomong gitu, jelas Mama sayang sama Abang. Mama sibuk kerja kan buat Abang juga, buat bayar sekolah Abang, biar Abang bisa makan enak, pake baju bagus, tidur di kasur yang nyaman. Mama Abang mati-matian kerja semuanya buat Abang."
"Berarti alesan Mama gak pernah punya waktu buat aku itu aku sendiri ya, Kak? Berarti aku jahat ya Kak bikin Mama sibuk banting tulang setiap hari," suara Jemiel mulai bergetar. "padahal aku gapapa Kak, pake baju yang biasa aja, tinggal di rumah yang sederhana, makan dengan lauk yang itu-itu aja, asal aku bisa ada waktu sedikit bareng Mama,"
Air mata perlahan mengalir di pipi tirus Jemiel. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, terus menatap Joy.
"Dari kecil kalau sakit aku selalu berusaha buat sembuh sendiri, karena aku ngerti kondisi Mama yang udah kerepotan kerja sambil kuliah dan juga sambil besarin aku. Aku gak mau nambah beban Mama karena kalo aku sakit pasti kerjaan dan kuliah Mama bakal berantakan karena ngurusin aku," Jemiel terdiam sebentar untuk mengatur nafasnya yang mulai berantakan karena luapan emosi.
"Dan sekarang aku nyesel, Kak. Aku nyesel kenapa dulu aku sok kuat untuk nyembuhin diriku sendiri, kalau akhirnya sekarang itu yang buat Mama jadi gak peduli lagi sama aku. Harusnya aku selalu ngadu kalau aku sakit, biar Mama ngelepasin semua kesibukannya buat ngurus anaknya," kedua bahu Jemiel mulai bergetar menahan isakan. "tiap sahabatku sakit di uks pasti Ibu mereka yang selalu panik jemput mereka, dipelukin, disuapin. Aku juga mau Kak, aku juga mau diurusin kayak gitu sama Mamaku."
Pecah sudah tangisan remaja berusia enam belas tahun itu. Kepalanya sakit—seluruh badannya sakit, tetapi sakit yang paling ia rasakan sekarang berasal dari dadanya. Dadanya luar biasa sesak.
Air mata milik Joy juga tidak bisa ditahan. Perempuan itu lalu membawa tubuh Jemiel kedekapannya dengan hati-hati. Selama kenal dengan Jemiel, baru kali ini lelaki itu meluapkan isi hatinya dengan jujur.
"Setiap malam sebelum tidur aku selalu berandai-andai Kak, berandai-andai gimana rasanya disayang sama Mama. Gimana rasanya ngobrol sama Mama lebih dari lima menit, gimana rasanya makan bareng Mama tanpa gangguan kerjaan, gimana rasanya dicariin kalau aku pulang malam."
Tangan Joy tidak ada lelahnya untuk mengusap lembut punggung Jemiel. Telinganya dengan setia mendengarkan keluh kesah milik Jemiel tanpa berusaha memotong perkataan Jemiel.
"Aku seneng Kak lihat Mama yang bisa ngewujudin mimpinya. Aku tau gimana susahnya Mama sampai ke posisinya yang sekarang. Tapi disatu sisi aku sedih..."
"sedih karena sadar kalau ternyata aku gak pernah jadi bagian dari mimpi Mama."
彡彡彡
hii maaf agak lama upnya :(
dan jangan lupa buat vote yaa! <3
