Haiii, selamat datang dan selamat membaca cerita 'Sepenuh Hati' semua
Sebelum membaca jangan lupa pencet bintangnya ya
***
Bukan main terkejutnya Salsa saat melihat foto yang dikirim Rony. Itu adalah gerobak bubur ayam Mang Mambo, penjual bubur ayam komplek langganannya. Rencananya Salsa memang ingin membeli untuk ia sarapan sebelum ia ke Caffe, namun ia tidak pernah membayangkan akan melihat Mang Mambo sudah mangkal tepat di depan Apartementnya, sedang mengobrol dengan seorang Laki-Laki berjaket hitam, celana jeans biru terang dan rambut yang masih berantakan.
Salsa berdiri kaku didepan grobak, masih mencerna situasi di depan matanya.
"Heh Sall! Malah bengong, siniii."
"Neng Salsa, ini bubur ayamnya. Tadinya saya mau bungkusin seperti biasa, malah kata Mas nya dimakan sekarang aja, jadi saya masukin ke mangkok." Salsa berjalan mendekat dalam diam, terlalu bingung untuk merespon keadaan saat ini.
"Mamangnya bilang Lo tim bubur ayam diaduk, ckckck beda sekte sama gua." Dari wajah yang Salsa lihat, ketara sekali wajah penuh lelah dan kurang tidur, kantung mata Rony sedikit menghitam. Jangan-jangan kesini juga belum cuci muka, duga Salsa sembarangan.
"Sini, Sall, duduk. Pagi ini gua booking Mang Mambo khusus buat Lo." Rony menepuk kursi ayunan kosong tepat disebelahnya, mengisyaratkan agar Salsa duduk di sana.
"Ron, Lo habis dari Rumah ke sini?"
"Hu'um," ia mengangguk, sembari asyik melahap bubur ayam dari mangkuk miliknya.
"Ini semua....maksudnya..?"
"Ssst. Makan dulu baru tanya-tanya, oke?" Salsa menyerah, hanya bisa tersenyum dan menggeleng dengan perlakuan Rony.
"Nanti kalau mau bungkus buat bawa orang cafe juga boleh, yang penting gua lihat Lo udah beneran sarapan." Salsa tidak mengerti maksud dari tindakan Rony padanya saat ini, tetapi ia lebih tidak mengerti mengapa dirinya sangat menyukai hal ini.
Mungkin, karena sudah lama sekali ia tidak sarapan ditemani seseorang.
Dulu sebelum putus dengan Dimas.
Dimas sering menjemput Salsa pagi-pagi hanya untuk mengajaknya keliling mencari sarapan.
Namun sekarang berbeda, Dimas bukan lagi milik Salsa dan begitu sebaliknya.
"Sall, Lo tau nggak sejarah nama Mang Mambo?" Salsa hampir tersedak karena pertanyaan Rony yang dilontarkan dengan setengah berbisik itu.
"Parah, katanya Lo langganan Mang Mambo dari lama, masa nggak tau sejarah nama Mang Mambo."
"Emang Lo tau?"
"Tau lah, mau gua ceritain nggak?" Salsa mengangguk menahan tawa, "Katanya dulu orang tua dia melihara Sapi, nah Ibu Mang Mambo nih pas kasih pakan Sapi nggak sengaja nginjak kotorannya, nah dia teriak MAMBOO, harusnya kan Mambu tapi diplesetin jadi Mambo, jadi deh nama Mang Mambo." Salsa terbatuk dan beneran tersedak, sungguh jawaban yang terdengar mengada-ada tapi segera diklarifikasi oleh yang punya nama.
"Mambu ke Mambo kan nggak jauh beda lah Neng...hahaha."
"Jadi beneran, Mang? Sejarahnya begitu?"
"Iya, neng. Nama orang dulu emang banyak yang ngasal, tapi gampang diinget dan disebut. Nggak kayak nama anak jaman sekarang, nyebutnya bikin lidah muter-muter."
"Hahahaha," tawa Salsa pecah, cepat saja Rony mengulurkan air putih agar gadis itu tidak tersedak lagi.
"Kok gua gak pernah kepikiran mau nanya sejarah nama Mang Mambo ya selama ini?"
"Makanya, gua ajak Mang Mambo ke sini supaya ada sesi 30 menit lebih dekat dengan Mang Mambo, iya nggak, Mang?" Si Mamang tertawa renyah sambil asik membungkus beberapa bubur ayam lagi.
"Kalo nama Lo artinya apa, Sall?" Mendengar pertanyaan itu, Salsa seketika berhenti bergumam.
Ada jeda beberapa menit untuk Salsa menimbang apakah harus menceritakan ini kepada sosok Pria di dekatnya?
"Pernah denger tentang Bahasa Sanskerta?" Alis Rony mengkerut, berpura-pura berpikir keras.
"Hmmm...gatau hehehe."
"Nama Arana itu berasal dari bahasa sansekerta sebenarnya itu buat anak Laki-Laki tapi gak tau kenapa nama gua Arana, artinya itu Tumbuhan, batu dan bulan."
"Arana..." ucap Rony pelan lalu disambut anggukan Salsa.
"Arana Salsabila...namanya cantik kayak orangnya."
Salsa tak dapat membendung senyum lebarnya sembari sedikit tersipu. Kenangan seolah membawanya kembali saat dua orang Laki-Laki yang sangat berarti dalam hidupnya juga pernah mengucapkan hal serupa.
"Makasih Ron."
Lo juga cantik, Sall..
Apalagi waktu senyum gini..
Sering-sering bahagia, Sall..
Biar gua juga sering liat lo ketawa atau senyum kayak gini.
"Kayaknya gua harus berangkat deh, Ron. Takut telat. Makasih ya sebelumnya, gua ngrepotin Lo terus." Tutur Salsa tak enak.
"Neng, ini buat kariyawan -kariyawannya di Cafee, sudah saya bungkusin semua. Kan tadi disuruh Masnya."
Salsa menoleh ke arah Rony.
"Ron..."
"Hehe bawa aja Sall."
"Gimana ya gua makasihnya sama Lo?" Salsa sedikit mengerucutkan bibirnya, membuat Rony hampir saja ingin mencubit gemas pipi gadis itu.
"Bayar lah."
"Tapi bukan pakai duit." Rony melanjutkan dengan cepat sebelum Salsa menyela.
"Bayar pakek waktu Lo aja, ntar malam gua aja Lo jalan-jalan."
"Gak boleh nolak."
"Nanti malam gua jemput sama teman-teman gua."
"Oiya jangan lupaa ajak teman-teman Lo."
Untuk kesekian kali, Salsa dibungkam oleh perlakuan dan kalimat Rony pagi ini.
Benar-benar diluar perkiraan Salsa.
***
Aheyy Author balik lagi nih, udah lama ya nggak update babnya.
Siapa nih yang kangen Salsa dan Rony?
Buat yang kangen dan pengen dilanjut jangan lupa Vote, Coment dan Share ya
Eh tapi masih banyak kayaknya yang belum Vote, huhu
Jangan lupa streaming setiap hari ya wahai Anak Ikan.
1. Bunga Hati = Salma Salsabil
2. Mengapa = Rony Parulian
3. Menghargai Kata Rindu = Salma Salsabil.
4. Merindukanmu = Salma A'liyyah.
Jangan Lupa Vote, Coment dan Share ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepenuh Hati [ END ]
FanfictionCerita ini menceritakan tentang seorang perempuan yang diselingkuhi. Perempuan ini merasa tidak ada Laki-Laki diDunia ini yang Tulus dan benar-benar mencintainya. Namun pada suatu hari ada seorang Laki-Laki yang datang kepada dirinya yang membuat Ar...
![Sepenuh Hati [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/359579487-64-k221271.jpg)