5. Terselamatkan 🔞🤏

16.7K 327 4
                                        

Pukul 4 sore.

Mata bulat itu terbuka. Mulut kecilnya meringis pelan merasa remuk redam badannya. Setelah mengumpulkan nyawanya, ia berusaha duduk dan melihat sekelilingnya. Bernapas lega tak melihat sosok iblis berkedok remaja tampan yang menjadi suami sahnya.

Dengan perlahan ia turun lalu tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Gemericik air membuatnya yakin remaja berambut pirang itu tengah mandi sekarang. Seberusaha mungkin untuk tak menimbulkan suara dengan langkah kaki menuju pintu kamar.

Cklek.

Suara pintu yang ia buka berbarengan dengan terbukanya pintu kamar mandi.

"Dani!!"

Dani langsung keluar. Tak lupa mencabut kunci yang didalam dan mengunci pintunya dari luar.

"BRENGSEK!! BUKA PINTUNYA, SIALAN!!"

Dani mundur dan berjalan pelan menuruni tangga. Jujur kakinya masih sangat lemas. Bagian pinggang kebawah rasa tak ada tulang. Badannya juga sakit tak tertolong.

Air matanya jatuh saat mendengar teriakan menggema Tion yang menggedor-gedor pintu lengkap dengan umpatan dan ancamannya.

Apalagi saat ia sadar tak ada satupun orang disana yang bisa ia mintai bantuan. Lalu matanya terfokus pada telepon rumah. Ia langsung menghampirinya dengan degup jantung yang sangat berantakan saat mendengar Tion berusaha merusak pintu putih itu.

Ia mendial nomor Samudra. Ia hafal nomor ke2 sahabatnya itu.

"GA!! TOLONG GA HIKSS!! AGAA! GW HIKS GW GA MAU DISINI, GA!! AGA HIKS..."

"DANI!! DAN LU DIMANA, DAN?!"

"Hiks gw di... Mhpp nghh!!"

Dani tersentak saat tangan besar menyumpal mulutnya dan tubuhnya direngkuh dari belakang. Tion merebut telepon itu. Tak menghiraukan Dani yang terus memberontak.

"DANI!!"

"Iya?" Jawab santai Tion.

"Bangsat, Tion! Lu apain temen kita, anjing?!!"

"Ga gw apa-apain. Dia nya aja yang cengeng. Baru gitu doang dah ngadu."

"Anjing lu, Yon!! Temen gw kalo luka dikit ga bakal ngadu, Yon! Lu apain temen gw, bangsat?!" Emosi Ganzi disana.

"Cuma main-main."

"Serlok, njing!!"

"Stt... Ini urusan rumah tangga."

"Dani urusan kita juga, sialan!!"

"Haha btw temen kalian ni enak juga. Bye..."

Tut Tut Tut...

Tion melempar telepon itu asal.

"Lu emang bener-bener suka diperkosa ya?!"

"Mphh!! Nghh!!" Dani terus memberontak saat tubuhnya diangkat paksa dan dibawa kembali ke kamar.

Tion mendudukkan dirinya di sofa single dan Dani di pangkuannya. Ia mengunci ke2 tangan Dani dan merengkuh pinggang rampingnya.

"Lu pikir lu bisa lepas dari gw?"

"Hiks... M-mau pulang hiks..."

"Ini rumah lu! Lu ga bisa ke rumah bunda lagi!"

"E-enggak hiks... Bu-bunda..."

"Sialan!"

"Akh!!"

Jleb!

Yang pada dasarnya Tion emang belum mengenakan baju setelah mandi, ia mengangkat pinggang Dani dan melesakkan penisnya tanpa aba-aba. Dani meremas lengannya kencang.

DANIELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang