10. Sering Muncul

577 81 41
                                        

— RUMAH TANPA ATAP —

Bianca tidak tahu kalau rasa sakit di kepalanya akan terasa sampai besoknya. Begitu bangun, dia seperti mendapatkan serangan benda tumpul di bagian kepala. Namun, dia dibutuhkan adik-adiknya.

Setelah selesai memasak nasi goreng, Bianca menunggu kedatangan adik-adiknya. Mereka juga pasti keluar kamar kalau sudah bersiap, tak perlu dipanggil sebab mereka sudah besar. Orang pertama yang keluar dari kamar adalah Nirina, ia langsung saja duduk di sebelah Bianca. Katarina menyusul dengan Selena yang mendorong kursi rodanya.

"Teh Aca, maafin Nirin."

Selalu seperti itu. Nirina akan meminta maaf setelah lebih tenang, kalau dia bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia tidak akan bersikap seperti itu kepada Bianca. Nirina tahu, betapa kerasnya Bianca menjalani hidup setelah ditinggal kedua orang tua mereka. Tapi, Nirina memiliki kelainan mental, dia begitu kesulitan menahan amarahnya, dia bisa saja mencelakai dirinya sendiri kalau orang terdekatnya lengah.

"Nirin ngga salah, kan?" tanya Nirina sembari memeluk Bianca dari samping. "Semua yang diucapkan sama teman-teman itu ngga benar, kan? Nirin ngga salah, kan?"

Bianca menggeleng, ia mengusap surai hitam Sang Adik serta mengecup pucuk kepalanya dengan lamat. Sungguh, Bianca teramat sangat menyayangi adik-adiknya, itulah alasan mengapa dia bisa sabar sampai sejauh ini. Seandainya dia tidak sabar, sudah dia tinggalkan adik-adiknya. Sungguhan.

"Wilo masih tidur, Teh," ujar Selena. "Lena sudah bangunkan, tapi Wilo bilang tidak mau sekolah hari ini."

Bianca mengangguk paham, mengingat kemarin Wilona pulang lebih awal karena sakit, jadi mungkin dia mau istirahat hari ini.

"Ayo, kalian sarapan dulu."

Bianca memberi mereka perintah.

"Teteh, mau ke kamar, mau bawakan sarapan buat Wilona."

Katarina mengangguk paham. "Tapi nanti Teteh makan bareng kita, kan?"

"Sudahlah, biarin Teh Aca makan bareng Wilo aja, supaya ngga bolak-balik," kata Selena.

Nirina mengerucutkan bibirnya. "Teh Aca, ih!!! Nirin mau disuapin sama Teh Aca!"

Bianca tertawa dibuatnya, lalu ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar Wilona. Wilona juga pasti masih tidur, jadi biarkan saja Nirina yang dimanja oleh Bianca sekarang, mumpung Nirina sedang dalam kondisi stabil.

"Nirin ngga nyakitin Teteh, kan?" tanya Nirina.

Bianca menggelengkan kepalanya. Menyisakan Katarina dan Selena yang menatap ke arahnya dengan tatapan tidak habis pikir. Jelas di mata mereka, bagaimana Nirina mendorong Bianca sampai kesakitan tadi malam.

Di sela menyuapi Nirina, Bianca menyertakan usapan-usapan lembut pada surai hitamnya. Sungguh, tidak ada yang bisa membuat Bianca bahagia selain adik-adiknya. Mungkin Tuhan memang sengaja menghadirkan mereka di kehidupan Bianca, supaya Bianca punya tujuan hidup.

"Ngga adil," gumam Selena.

Katarina menyenggol lengan Selena. "Teh Aca cuma suapin Nirin saja, huh!"

Nirina menjulurkan lidahnya meledek, senang bisa disuapi dan disayang oleh Teh Aca. Katarina dan Selena cuma dapat hikmahnya saja pagi ini, jika meminta nanti emosinya Nirina malah naik dan kacau, deh. Berbahaya.

"Teh," panggil Selena. "Teteh sakit, ya?"

Katarina memicingkan matanya. "Wajah Teteh pucat banget. Teteh yakin mau pergi kerja?"

"Teteh tidak apa-apa, Teteh cuma capek sedikit."

"Beneran, ya?" Katarina masih ragu. "Kalau Teteh sakit, Teteh harus istirahat. Teteh lupa? Teteh suka nyuruh kita istirahat kalau lagi sakit."

Rumah Tanpa AtapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang