Selesai

981 88 61
                                        

— RUMAH TANPA ATAP —

"Terdakwa Nana dan Hengki dijatuhi hukuman masa percobaan selama lima tahun dan akan dihukum mati, atas kasus pembunuhan berencana yang menewaskan dua jiwa."

Hakim mengetuk palu, suasana pengadilan berubah jadi riuh setelah menerima putusan dari hakim perihal dua terdakwa yang telah menewaskan Wilona dan Nirina. Mereka tertangkap basah beberapa meter dari tempat kejadian hari itu, mereka membawa barang bukti berupa sebotol bensin sisa, beserta korek api.

Hukum telah menentukan. Dan Bianca merasa bahwa mereka berdua memang pantas untuk menerima hukuman tersebut.

Bianca sudah tiga kali datang ke sini, pertama dia datang untuk mengusut kasus Katarina yang berakhir ketidakadilan, kedua tentang kasus Selena yang ternyata kematiannya dimanipulasi oleh teman-teman sebayanya, dan terakhir hari ini, yakni kasus terbakarnya rumah beserta kedua adiknya.

Dari tiga kali kunjungan ini, hanya satu yang mendapat keadilan yang sungguh-sungguh. Sampai saat ini, kasus Katarina seolah sudah tenggelam karena Juan telah dijatuhi hukumannya. Pun dengan teman-teman Selena yang terlibat, mereka hanya dikeluarkan dari sekolah atas perintah kepala sekolah, dan dipastikan tidak akan diterima di sekolah mana pun.

Bibi Nana dan Paman Hengki kini harus meratapi nasib selama lima tahun ke depan, mereka akan tinggal di jeruji besi sebelum hidup mereka berakhir. Dua nyawa sekaligus, parahnya lagi mereka bilang kalau mereka mengikat Wilona dan Nirina di titik api bermula, sehingga dua jiwa itu tidak terselamatkan.

"Kamu bisa makan sekarang?" tanya Jehan.

"Tidak."

"Ya sudah, kalau begitu beristirahat saja dulu, nanti saya panggilkan Dokter."

"Aku ingin menemui Si Brengsek terlebih dahulu."

"Kamu yakin?"

"Bawa aku ke tempatnya, sekarang."

Setelah selesai mengadili orang terdekatnya, Bianca meminta pergi ke tempat Juan dipenjara. Dia ingin tahu seberapa jauh penjara mengubah hidup Si Brengsek itu.

Sesampainya di sana, ia mendapati Juan tengah duduk termenung sembari memegangi lututnya. Ketika menoleh, wajah lelaki itu tampak dipenuhi dengan lebam.

"BIANCA!" pekik Juan begitu menyadari keberadaan Bianca, dia langsung saja mendekat ke pembatas besi itu. "Bianca, ampun! Tolong bantu saya! Saya dipukuli di sini, itu sakit sekali!"

Bianca hanya bergeming, sedang Jehan berdiri di sampingnya berjaga takut tiba-tiba tangan Juan terulur menarik Bianca.

"Tolong! Lihat, kaki saya luka tapi mereka terus memukuli saya!" Juan menunjukkan luka membusuk di kakinya. "Ini sakit sekali, Bianca! Saya mohon, bantu saya!"

"Seharusnya mereka potong saja kaki kamu, biar tidak membusuk!" tandas Bianca.

Juan melotot. "Bianca, Bianca saya minta maaf, tolong bantu saya, saya tidak ingin terus di sini, tubuh saya disiksa! Mereka menyiksa saya, Bianca!"

"Beberapa tahun lagi kamu bisa keluar dari sini dan hidup dengan tenang, tapi adik saya tidak!" tukas Bianca. "Terima saja karmanya, jangan merengek seperti anak kecil, tidak pantas!"

— RUMAH TANPA ATAP

"Rendi belikan camilan, nih."

"Di jalan Najan beli martabak, nih."

"Cakra cuma bisa beli cokelat premium, soalnya semua pedagang tutup."

"Ini dari Naren, kue."

Jehan menatap Bianca yang sedang terbaring dengan infusan di lengannya. Jika tidak begini, maka Bianca bisa saja kehabisan cairan karena tidak ada sedikit pun makanan yang masuk selama satu pekan ini. Masih diberi akal sehat saja sudah bersyukur.

"Bie," panggil Jehan. "Pilih."

"Harus semuanya," kata Bianca.

"Dimakan, ya?" bujuk Jehan.

Bianca mengangguk, hal itu reflek membuat Jehan kontan memeluk dan mencium keningnya. Saat itulah Rendi, Najandra, Narendra, dan Cakra memalingkan pandangan mereka enggan melihat keromantisan yang terjadi secara tiba-tiba itu.

"Bie, menikah sama saya, mau?" tanya Jehan.

Bianca terbelenggu.

"Kita kesampingkan tentang perasaan kalau kamu belum ada, tapi melihat sikap baik kamu sama anak-anak saya, saya rasa kamu orang yang tepat untuk menggantikan Mendiang Istri saya," tutur Jehan.

Bianca bergeming.

"Oke, maaf kalau ini terlalu tiba-tiba dan terburu-buru, kita bahas nya lain kali saja," kata Jehan. "Mau makan yang mana dulu, nih?"

Bianca menatap ke arah empat anak laki-laki Jehan yang masih berdiri di sana. Jika dia akan menjadi pengganti mantan istrinya Jehan, apakah mereka berempat akan menjadi pengganti bagi keempat adiknya juga? Jadi, mereka saling menguntungkan di situasi saat ini. Jehan dapat istri baru, dan Bianca dapat empat anak sebagai ganti adik-adiknya.

"Aku bukan perempuan baik-baik," ucap Bianca. "Lebih baik pikirkan lagi, aku akan bayar semua perbuatan baik kamu ke aku."

"Bayarnya jadi istri saya saja, bagaimana?"

"Modus!!!" seru empat pemuda itu yang membuat Jehan dan Bianca bersemu merah.

— RUMAH TANPA ATAP

Bianca tidak bisa menjaga rumahnya untuk tetap utuh. Rumahnya benar-benar telah hangus, bersamaan dengan kenangan yang tidak bisa terselamatkan lagi. Entah bagaimana hidupnya bisa seperti ini, entah bagaimana takdirnya bisa menjadi satu-satunya yang bertahan.

"Ma, ada lihat kemeja kotak-kotak merah Rendi, ngga?!"

"Ma, kalau tas Najan yang isinya buku paket itu di mana, ya?"

"Mama, Naren lupa naruh charger hp, deh."

"Mama!!! Cakra lupa di mana kostum buat tampil hari ini!"

Jehan menoleh ke arah Bianca yang sedang merapikan piring di atas meja makan bersama dirinya. Pria itu menghampiri Bianca dan mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Biar saya saja," ucap Jehan.

"Ya sudah."

Bianca melanjutkan aktivitasnya merapikan seluruh makanan untuk sarapan pagi ini. Hidupnya berubah seratus persen setelah resmi menikah dengan Jehan Pradipta. Mungkin Jehan dipersiapkan untuk Bianca yang terluka bertubi-tubi.

"Sayang, laptop saya juga tidak ada ini, saya lupa!!!"

Bianca menghela napas panjang, sudah bukan hal baru lagi jika mereka semua memanggil dirinya saat barang yang mereka butuhkan tidak ada.

Akhirnya Bianca juga yang datang, dan dalam hitungan detik saja barang-barang yang mereka cari langsung ditemukan. Ekspresi mereka saat Bianca menemukannya pun terlihat sama, yakni cengengesan.

Bianca dicintai dengan begitu hebat oleh Jehan beserta keempat putranya. Andai saja keempat adiknya masih ada, mereka pasti merasakan hangatnya keluarga yang sedang Bianca jalani saat ini.

Mereka telah menikah. Mereka akan mempertahankan keutuhan ini agar rumah bagi keempat anak laki-laki itu tetap utuh. Bianca dan Jehan sama-sama korban dari hancurnya keluarga, kini mereka tidak ingin menghancurkan, mereka akan mempertahankan keutuhannya.

"Kalau capek istirahat saja, saya bisa tunjuk sepuluh pelayan buat di rumah ini," tutur Jehan.

"Dua puluh pelayan di rumah ini sudah banyak!" tekan Bianca. "Cuma pagi ini aku lagi pengin masak saja."

Jehan memeluk Bianca, ia menghirup aroma wangi yang khas di ceruk leher Bianca.

"Jangan sakit, ya, Sayang~" bisik Jehan dengan suara beratnya.

T H E - E N D

Terima kasih untuk kalian yang sudah bertahan sampai sejauh ini. Kebahagiaan itu tercipta setelah kesulitan. Maka jangan pernah kalian merasa bahwa kesulitan saat ini adalah akhir dari segalanya.

Terima kasih dan bahagia selalu.

Rumah Tanpa AtapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang