16. Bagaimana Jika?

517 68 31
                                        

— RUMAH TANPA ATAP —

Katarina belum juga ditemukan. Kini Bianca dalam perjalanan menuju ke kantor polisi, sementara adik-adik yang lain menunggu di rumah karena sudah sampai pada dini hari. Mereka tidak bisa tidur, sebab Katarina tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Selena sudah menghubungi Narendra, dan cowok itu mengatakan kalau Rendi ada di rumah sejak pulang dari rumah sakit.

"Bibi tahu Teh Ririn di mana, kan?"

"Bibi bawa Teh Ririn ke rumah, ya?"

"Bilang iya, Bi. Nanti Lena telepon Teh Aca biar stop ke kantor polisi!"

Bibi Nana menggeliat, ia merangkul lengan kekar suaminya dengan tatapan mata yang sangat malas. Tidurnya jadi terusik karena kebisingan di rumah sebelah.

"Ada apa, sih?" tanya Suaminya Bibi Nana—Paman Hengki. "Berisik banget, saya sama Istri saya jadi bangun, kan!"

"Tahu, ada apa, sih?!" sahut Bibi Nana sewot. "Ini jam berapa? Harusnya kalian setuju dikeluarin dari sini, ganggu terus!"

"Teh Ririn hilang," jawab Selena.

"Kalian juga berisik, ya!" tunjuk Nirina tak terima. "Kalian berdua itu ngga mikirin perasaan kita di sini!"

"Heh!" Bibi Nana mendorong kening Nirina dengan telunjuknya. "Sadar diri, lah! Kalian semua cuma numpang di sini!"

"Ini rumah kami, Bi," elak Selena. "Kami berhak berada di sini."

"Aduh, minimal bisa bayar hutang dulu, lah!" sahut Paman Hengki. "Kalian semua itu cuma beban, mending kalian pindah alam aja sana!"

"Bacot banget bapak-bapak ini," geram Nirina, ia reflek maju dan memukul lengan Paman Hengki. "Lo yang pergi jauh dari sini, dasar pengangguran! Udah pengangguran, tinggal di rumah istri, ngga bisa ngehasilin keturunan, memang ngga ada benar-benarnya lo jadi laki-laki!"

Di saat Selena dan Nirina melakukan serangan-serangan terhadap pasangan tersebut, Wilona hanya terdiam sembari menautkan jemarinya berharap tak terjadi hal lebih buruk dari ini. Terlebih Katarina belum ada kabar sama sekali.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Nirina, hal itu tentu membuat Wilona kontan berjongkok seraya menutup kedua telinganya. Selena bingung pada awalnya, kemudian ia menarik Nirina menjauh dari hadapan pasangan tak berperasaan tersebut.

"KELUAR DARI RUMAH KALIAN ITU, SIALAN!" bentak Paman Hengki tak terberantakan. "Kalian semuanya cuma beban di dunia ini, ngga pantes masih hidup!"

"Mas, tenang," ujar Bibi Nana. "Nanti darah tinggi kamu naik."

"Masa bodoh!" geram Paman Hengki. "Saya harus ngusir orang-orang tidak berguna seperti mereka!"

Selena membantu Wilona untuk segera berdiri, ia merentangkan kedua tangannya bermaksud melindungi adik-adiknya.

"Fuck!" umpat Nirina sembari mengacungkan jari tengah, setelah itu ia bergegas masuk ke rumah.

"Ajarin adikmu sopan santun!" tunjuk Bibi Nana.

"Belajar dulu yang bener, kalian emang udah sopan?" balas Selena. "Ayo Wilo, kita masuk!"

— RUMAH TANPA ATAP

Belajar dari pengalaman, ketika orang di sekitarnya kehilangan sesuatu dan segera melapor ke kantor kepolisian, yang hilang pun cepat ditemukannya. Akan tetapi, Bianca tidak tahu kalau peraturannya menyebut bahwa dia boleh melapor apabila orang yang hilang sudah lebih dari 24 jam.

Rumah Tanpa AtapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang