— RUMAH TANPA ATAP —
Tidak terbayang.
Betapa menyakitkannya ketika Katarina berada di ruangan pengap itu seorang diri, ia disiksa secara membabi-buta seperti dia bukan manusia. Pria bejat itu benar-benar tidak berperasaan, ia seorang psikopat yang telah kehilangan hati nurani.
Katarina meraung-raung dan memohon ampun, tapi tubuhnya terus menerima hujaman tanpa ampun. Tragis. Setelah Katarina harus kehilangan fungsi berjalannya, ia harus hidup dengan keterbatasan itu. Kemudian, di akhir hayatnya ia malah menerima perlakuan tidak manusiawi.
"Semua itu salah kamu, Bianca."
"Kamu yang bersalah, Bianca."
"Kamu terlambat, Bianca."
"Jika kamu tidak meninggalkan Katarina seorang diri di rumah, tidak akan terjadi hal seperti ini."
"Katarina meninggal karena kamu, Bianca."
"Salah kamu, Bianca."
"Bianca bersalah."
Bianca mengusap kedua telinganya, ia tersadar dari lamunan dan mulai mengedarkan pandangannya sekarang. Langit sudah berwarna oranye, dan Bianca masih bertahan di pemakaman ini.
Orang-orang sudah pergi, tidak ada yang mampu bertahan di sini lebih lama lagi. Bahkan Bianca pun, sekarang harus pergi.
Bianca membelai tanah basah yang tidak akan mengering dengan cepat ini. Sungguh, Bianca tidak pernah menyangka kalau dirinya akan datang lagi ke tempat ini dan mengantar orang terdekatnya untuk beristirahat. Ya, istirahat selamanya.
Potongan-potongan bunga di atas gundukan tanah tersebut akan layu suatu waktu, Bianca akan sering datang ke sini dengan membawa bunga baru agar selalu terlihat segar. Sakitnya sama persis seperti ketika ia kehilangan kedua orang tuanya.
"Bianca, sudah waktunya pulang."
Suara itu terdengar berat, berbeda dengan suara-suara asing yang menyudutkannya barusan. Ketika menoleh, Bianca lantas tersenyum menyapa keberadaannya. Jehan Pradipta, dia sempat mendampingi Bianca, tapi harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Benar, dia tak ikut mendampingi Bianca saat pemakaman.
Tapi dia kembali, dia menghampiri Bianca dan duduk di sebelah Bianca saat ini.
"Pulang."
Bianca mengangguk, dia cukup tegar ketika bersama dengan orang lain. Namun, saat seorang diri hatinya benar-benar hancur.
"Biar saya bantu."
Bianca tidak sedang mencari perhatian, dia memang tidak punya banyak tenaga. Maka ketika Jehan memegangi kedua bahunya dari samping, Bianca memasrahkan dirinya agar segera beranjak berdiri. Tubuhnya lemas, dia belum mengisi perutnya dengan apa-apa.
"Makan sedikit saja, ya?" tawar Jehan.
Bianca mengangguk.
"Baiklah, di depan ada restoran, kita mampir dulu ke sana."
Lagi, Bianca hanya mengangguk.
Untuk hidup lebih lama lagi, Bianca perlu makan. Dia tidak boleh membuat dirinya sakit dan membiarkan ketiga adiknya kerepotan. Jika bukan kepadanya, maka tidak ada lagi tempat mengadu bagi adik-adiknya.
— RUMAH TANPA ATAP —
"Kalian sayang Teh Aca?"
"Kalau kalian sayang sama Teteh kalian, maka kalian harus makan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Tanpa Atap
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa Bianca tidak bicara, Katarina tidak berjalan, Selena tidak mendengar, Wilona tidak kunjung dewasa, dan Nirina tidak waras. [19-02-24] #1 Winter [19-02-24] #1 Giselle
