— RUMAH TANPA ATAP —
"Terdakwa Juan Abraham dihukum 10 tahun penjara!"
Palu diketuk.
Keluarga besarnya bersorak dan bersujud atas hukuman yang dijatuhkan pada Juan. Sementara itu, Bianca datang tanpa pendamping, dia di sana seorang diri. Telinganya panas mendengar ungkapan rasa syukur orang-orang terdekat Juan, dan hatinya hancur mengetahui hukuman yang diberikan oleh pihak pengadilan.
Tidak adil.
Katarina mati di tangan manusia bejat itu, sudah jelas kalau manusia tidak berperasaan itu pelaku dari tindakan mutilasi terhadap Katarina. Buktinya jelas, tubuh Katarina dimasukkan ke dalam karung yang ia jatuhkan. Namun, pria bejat itu berasal dari keluarga terpandang, hingga memiliki banyak sekali kenalan.
Juan menoleh ke arah Bianca, lelaki itu tersenyum padanya hingga membuat Bianca tidak bisa menahan rasa marahnya. Tapi, Bianca malah balas tersenyum kepadanya, membuat Juan kontan memudarkan senyumannya sembari mengerutkan dahi bingung.
"Tidak usah dipenjara saja kalau begitu," ujar Bianca memecah kebisingan di sana. "Biar saya yang menghukumnya."
Juan terkejut. "Bagaimana bisa?"
"Kalau aku dulu tidak berpura-pura bisu, apa kamu tidak akan tertarik pada adikku yang cacat itu?" tanya Bianca.
"Sial!" umpat Juan.
"Kamu membuang gadis yang berpura-pura bisu ini untuk gadis yang cacat?" tanya Bianca sekali lagi. "Yang Mulia, saya ingin mencabut tuntutan saya terhadap Saudara Juan Abraham!" tandas Bianca dengan suara yang tegas dan lugas.
Suasana di sana berubah menjadi hening.
"Lepaskan saja, biarkan saja manusia itu hidup dan mendapatkan karmanya," ucap Bianca. "Saya bersumpah, semua yang ada padanya tidak akan pernah utuh!"
PLAK!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Bianca, wanita yang merupakan Ibu dari Juan menamparnya.
PLAK!
Bianca tidak mau kalah, ia balas menampar wanita itu hingga suaminya datang menarik istrinya dari hadapan Bianca.
"Tidak akan utuh!" tandas Bianca. "Tidak akan ada yang utuh!" tunjuk Bianca sambil menatap satu persatu orang di sana.
"TUTUP MULUTMU, SIALAN!" bentak Juan, ia berontak tetapi polisi berhasil menahan tubuhnya. "JANGAN PERNAH SENTUH IBU SAYA, SIALAN!"
Bianca tersenyum picik, kemudian ia berbalik meninggalkan ruang persidangan sembari mengusap pipinya yang dibasahi oleh air mata. Hatinya hancur, dia tidak bisa memberi keadilan untuk Katarina yang sudah hancur berkeping-keping.
"Tidak akan utuh!"
"Bianca!"
Seruan itu berasal dari Serra, tidak hanya Serra di sana, tapi ada Jehan juga. Mereka berlari menghampiri Bianca.
"Maaf, saya terlambat," sesal Jehan.
"Bie?" tanya Serra saat melihat buliran air mata membasahi pipinya. "Bianca."
Bianca memejamkan matanya, air matanya mengalir lebih deras dibanding sebelumnya. Ia menepis tangan Serra yang menyentuh lengannya, kemudian melanjutkan langkahnya pergi dari tempat itu.
"Bianca," panggil Serra, ia mengejarnya. "Bie, maaf tadi macet banget di jalan."
"Bianca, ada apa?" tanya Jehan, ia berjalan cepat di belakang Serra sekarang. "Apa persidangannya sudah selesai? Berjalan lancar, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Tanpa Atap
Hayran Kurgu[COMPLETED] Sinb ft Aespa Bianca tidak bicara, Katarina tidak berjalan, Selena tidak mendengar, Wilona tidak kunjung dewasa, dan Nirina tidak waras. [19-02-24] #1 Winter [19-02-24] #1 Giselle
