Bab. 17 : Kesalahan

687 98 11
                                    

Setelah berhasil melewati jalan curam tadi, aku pun segera bergabung kembali, sebelum hal buruk terjadi.

Kupikir tempat ini gelap, karena hampir semua yang ada di planet ini berwarna hitam. Tapi nyatanya di dalam sini cukup indah.

Kristal biru kehijauan bersinar terang menghiasi gua ini. Kilauan kristal yang indah mampu membuat siapapun merasa kagum dan senang. Tempat ini jadi mengingatkanku dengan pulau apung, sebuah pulau yang juga memiliki kristal seperti ini di dalam gua-nya.

"Bagus, sinyalnya semakin dekat. Ying dan Gopal tunggu di sini, jaga pintu agar tidak tertutup," ujar Fang mulai memberikan instruksi.

Gopal dan Ying hanya membalasnya dengan anggukan kepala, lalu bergegas menuju posisinya masing-masing.

"Jaga diri," ucapku singkat sebelum melangkah menjauh.

"Ya, kau juga hati-hati."

•••

Sudah hampir sejam kami berjalan, namun tak kunjung menemukan keberadaan seseorang.

Yah, setidaknya kuharap itu bukan seseorang yang kukenal.

"Itu dia!" seru Fang sambil berlari lebih cepat.

Tanpa menunggu lama, aku, Kapten, dan Laksamana segera berlari menyusulnya. Terlihat Fang sedang duduk di atas tanah, sambil mengecek kondisi seorang wanita.

"Eh? Wanita?" tanyaku dan Maksmana serempak.

Maksmana terdiam sejenak, menatap jeli wanita yang ada di depan kami. Entah mengapa, aku merasa Maksmana baru saja terkejut dan kaget.

Mungkinkah dia mengenal wanita ini?

"Kupikir orang itu Laksmana merah itu," gumam Kaizo sembari memberikan pertolongan pertama pada wanita itu.

"Aku pikir juga begitu, mungkin karena pin ini ada di sini." Fang menunjuk ke arah bros yang ada di hijab wanita itu.

Sebuah bros sebagai tanda penghormatan, sekaligus alat pelacak yang sangat berguna.

Aku menatap wanita ini sejenak. Wajahnya agak pucat, tubuhnya penuh memar, lalu pakaian yang agak kotor. Pakaian dengan serba warna merah muda jadi mengingatkanku pada seseorang.

"Oboi ... sudah tidak apa, oke?"

Ah, benar. Dulu rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi ... Siapa dia?

"Nah, lukanya sudah sembuh. Sudah jangan nangis, **** ada di sini."

Aku ... Aku tidak bisa mengingatnya. Siapa dia? Aku yakin kami pernah berjumpa. Bibi? Tante? Teman mama? Atau mungkin ....

"Boboiboy, kau tidak apa?" tanya Maksmana sambil menggoyangkan bahuku sedikit.

Tersadar dari lamunan, aku hanya bisa melempar sedikit senyuman tipis ke arahnya. Namun, sayangnya senyuman ini terasa agak sendu.

Andaikan sifat pelupa ini bisa dihilangkan, mengingat memori lama itu pasti akan terasa amat mudah.

"Aku tidak apa. Ayo cepat bawa dia ke markas," ajakku pergi.

Tetap saja, rasanya ini aneh.

Jika dia hanya sekedar teman atau bibiku, kenapa dia punya pin Tapops? Aku tidak pernah dengar ada Laksamana wanita, karena dari data yang kudapat, hampir seluruh Laksamana wanita telah mati sejak pertarungan 15 tahun yang lalu.

Brak!

Baru saja aku melangkahkan kaki, tiba-tiba saja tanah yang kami tapaki retak dan hancur lebur. Kaki yang sejak tadi merasakan kenikmatan menginjak tanah mulai merasa resah, ketika hanya hembusan angin yang menyapa.

"BOBOIBOY!"

Tidak sempat menggunakan kekuatan, pada akhirnya aku justru berakhir menjadi korban kecelakaan itu.

Aku terjatuh ke dalam lubang yang tidak diketahui kedalamannya. Degup jantung mulai berdetak kencang, merasa takut dengan kematian yang datang tiba-tiba.

Sreeet....

Akar merambat melalui lenganku, lalu menancap ke dinding tertinggi sambil berusaha mengurangi kecepatan saat terjatuh. Tapi ... Ini bukan aku.

Aku bahkan tidak berpikir untuk menggunakan kekuatan apapun selain Taufan.

"Hampir saja ya, hehehe."

Ah, nada bicara ini. Duri kah?

Aku tidak tau mengapa aku bisa mendengar mereka, tapi makasih ya. Meski kau adalah sisiku yang kekanakan, tapi sifat itulah yang berhasil menyelamatkan banyak nyawa. Termasuk aku sendiri.

Tap

Aku mendaratkan tubuhku dengan aman. Aku tidak tau tempat seperti apa ini, selain sunyi dan hampa. Tempat ini sangat gelap, jika saja bola cahaya tidak keluar seenaknya.

"Kau mendengar kami, kan?" tanya Solar yang suaranya menggema di kepalaku.

"Wah, beneran bisa?" ucap Taufan girang.

"Hei, hei. Aku juga mau bicara dengan tuan!"

"Apa? Kau kan sudah kemarin, Blaze."

"Kalian berdua diamlah!"

Memang membahagiakan bisa mendengar suara mereka, tapi ... kepalaku jadi sakit.

Kenapa rasanya berbeda saat aku bicara dengan elemen baru itu? Tadi aku merasa baik-baik saja, bahkan tidak pusing sama sekali.

"Tuan, aku tidak bisa berbicara lebih lama. Tapi kau harus segera keluar dari sini!" ujar Solar.

Nada suaranya agak bergetar, tanda tidak suka dengan tempat aneh ini. Walau sebenarnya aku juga tidak suka, tapi tempat ini juga terasa agak menantang.

"Selain itu, tempat ini berbahaya. Bisa saja dia mengambil alih tubuhmu, jika kau terlalu lama di sini."

Aku mengangguk kepala. Percakapan aku dengan elemen baru itu juga terasa ada yang aneh. Jika elemen itu ingin mengendalikanku, harusnya bisa dilakukan sejak aku tiba di sini.

Tapi anehnya, dia justru terlihat lebih menginginkan sebuah nama.

"Dia? Siapa? Maksudmu elemen aneh yang kau ceritakan?"

"Nanti saja Blaze. Intinya aku akan akhiri pembicaraan ini, tuan segera keluar bagaimanapun caranya."

"Eh, sebentar—"

Tidak butuh waktu lama, suara mereka menghilang. Membiarkan kesunyian ini menemaniku.

Tap
.

.

.

Tap
.

.

.

Suara derap langkah kaki terdengar, tapi itu bukan berasal dariku. Suara itu perlahan mendekat, membuat degup jantungku berdetak sangat kencang.

Tidak, aku tidak bisa bertarung di sini. Jika aku tidak hati-hati, langit-langit di atas bisa saja runtuh, membuat pintu keluar tertutup.

Bzzz bzzz

Suara error seperti mesin yang rusak terdengar, membuatku jadi berpikir kemungkinan itu adalah robot. Bola cahaya semakin terang, membuatku menjadi lebih mudah melihat tempat ini.

Masih sama, semuanya serba hitam. Namun keberadaan seorang pria yang berada di depanku, membuat air mata ini hampir terjun bebas.

Pria paruh baya dengan pakaian compang-camping, tubuhnya penuh memar, memakai jam rusak di sebelah kirinya.

"A-Ayah?"

Pria yang selama ini kucari akhirnya dapat kujumpai dan itu adalah ayahku sendiri.

•••











Woah, oke. Ini sangat pendek 😅
Jadi gimana? Semoga suka ya <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>

.

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang