Solar berjalan bolak-balik dengan frustasi, sementara Duri hanya menatapnya dengan tatapan heran sembari duduk dan menontonnya dari kejauhan.
"Solar, apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Duri tepat sasaran.
Solar terkejut dan hanya memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela sambil berharap Duri tak kan bertanya lagi.
"Aku gak bermaksud mencurigaimu seperti Blaze. Cuman ... Kamu keliatan gelisah dari lama."
Duri akhirnya bangkit, lalu berjalan menghampirinya. Setiap langkah Duri mendekat, bagi Solar itu seperti bom. Dia tidak tau bagaimana reaksi yang lain jika mendengar ini.
"Aku ...." Solar terdiam sejenak, wajahnya tampak gelisah, keringat dingin mulai mengalir.
"Kurasa sudah saatnya kau menjelaskan semuanya. Solar." Ais datang sambil membawa segelas air.
Solar menunduk, menatap kakinya dengan gelisah. "Haaah ... Baiklah, aku akan jelaskan. Aku tau kalian tidak mungkin percaya ini, tapi ada elemental lain yang jadi sumber masalah utama kita."
Ais mengangkat salah satu alisnya, sementara Duri hanya mengusap kepalanya kebingungan.
"Tapi ... di jam kan keliatan ada elemental apa aja. Kenapa elementalnya gak keliatan di sana?"
"Karena elemental itu tidak terserap oleh jam kuasa, dia juga tidak tertanamkan di sana. Melainkan tubuh tuan atau tubuh utama kita. Tadinya ... kupikir aku bisa mengusirnya sendirian. tapi nyatanya aku salah." Solar terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah mereka dengan tatapan sendu. "Aku tau ini terdengar ... seperti mengarang dongeng. Tapi elemental ini memang ada."
"Dan kau mengenalnya?" tanya Ais dengan nada mencekam. "Kenapa tidak beritahu dari awal?"
"Maaf."
Sejujurnya Ais masih ingin mendengar penjelasannya, tapi ... memangnya apa yang akan berubah jika dia mengintrogasinya?
"Jelaskan sisanya nanti, sekarang masuklah ke kamar dan beritahu semuanya."
Ais beranjak pergi lebih dahulu, meninggalkan Solar dan Duri di belakangnya.
.
.
.
.
Manik coklat itu menatap tuannya dengan khawatir sembari memberikan selimut untuknya. Kamar yang ramai namun sunyi, tak ada satupun yang berani bicara lagi. Sepertinya tuan mereka tertidur lelap setelah mendengarkan dongeng dari Blaze.
Tapi jika alasan mereka terdiam adalah karena tidak ingin mengganggu tidur tuannya, itu tidak sepenuhnya benar. Sebenarnya mereka sedang terkejut dan tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi setelah mendengarkan penjelasan Solar barusan.
Blaze mengangkat jari telunjuknya ke arah Solar. Tatapannya begitu mengancam, wajahnya bahkan lebih merah daripada tomat.
"Hei, ikut aku."
Blaze kehabisan kata-kata, ia menurunkan tangannya dengan kesal lalu beranjak pergi sambil menyeret paksa Solar.
"Hei, tunggu—"
Elemental di depannya tidak berbicara, Solar mencoba melepaskan diri, namun genggaman anak itu justru makin mengencang.
Tap
Seseorang dengan jaket biru khasnya menyentuh tangan Blaze dengan lembut.
"Hentikan. Marah juga tidak berguna."
Ais berusaha menenangkan elemen api itu. Namun Blaze masih saja berdiri tegap di depan kamar tanpa menoleh sedikitpun.
"Lepaskan dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
Hayran KurguSetelah sekian lamanya bertarung, Boboiboy dan kawan-kawan akhirnya berhasil membawakan kedamaian untuk seluruh Galaxy. Tak ada lagi perompak angkasa, pertarungan, dan semuanya telah aman terkendali. Dan sejak saat itu semuanya berubah, lalu akhirny...
