IP-34

696 45 5
                                        

Melody masih bungkam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Melody masih bungkam. Enggan menjelaskan apa pun pada Adnan. Lagi pula lelaki itu bukan siapa-siapanya. Tak ada keharusan baginya untuk menuruti keinginannya.

"Kenapa bisa luka gini?"

"Jawab."

Melody melepaskan napas lelah. Sebelah tangannya bergerak meraih selimut, lalu merebahkan diri setelah terbungkus rapat di balik selimut itu.

"Nggak mau jawab?" Ada jeda, Melody tak tahu apa yang Adnan lakukan sampai selimut itu tersingkap dan benda lembut itu menempel di bibirnya cukup lama.

Kejadian itu di luar kendali nya. Melody hanya terpaku dengan wajah yang memunculkan semburatbmerah juga mata membelalak.

"Gimana? Masih nggak mau jawab?" Adnan menyeringai.

Melody yang berhasil mendapatkan kesadarannya kembali gegas mendorong Adnan.

"Kurang ajar lo!" Melody memukul Adnan. Melemparkan beberapa bantal supaya lelaki itu segera enyah dari hadapannya.

Di saat seperti ini, rasanya Melody berharap Air menetap tapi tiba-tiba saja artis super narsis itu harus pergi karena panggilan mendadak.

"Sekarang jawab."

"Kena pagar besi."

"Bohong." Adnan kembali mengecup bibir Melody. "Jawab jujur."

"Gue di rampok puas lo?!" Melody hampir kelepasan menjerit, jika tidak ingat masih ada Mayang di rumah.

Adnan mengamati keadaan Melody secara menyeluruh. "Mereka ambil apa?"

"Kewarasan gue!" Melody bangkit. "Sekarang gue gila. Mendingan lo balik, sebelum gue cabik-cabik!"

Bukannya pergi seperti yang Melody perintahkan, Adnan malah menghambur memeluknya. "Jangan pergi."

"Lepasin, atau lo mau gue tonjok!"

"Jangan pergi lagi."

Kini Melody yang di buat bingung lantaran Adnan terlalu erat memeluknya. Tak membiarkannya bergerak barang sedikit pun.

"Gue bisa pergi ke alam lain kalo lo nggak lepasin gue sekarang?!" Baru lah Adnan tersadar untuk menjauh.

"Jangan pergi." Ulang Adnan, seperti takut kata-katanya tadi tak di dengar.

"Lo nggak ada hak larang gue. Gue manusia bebas, nggak bisa lo kekang!"

Adnan menatap tajam. Tangannya yang berada di lengan Melody berubah mencengkram. "Kamu nggak boleh pergi," tandasnya.

"Auw, sakit Akara!"

Adnan yang tadi seperti kerasukan seketika tersadar. Melihat darah di lengan Melody yang kembali merembes. "Maaf. Gue bantu gantiin perbannya."

"Nggak perlu."

"May?"

"Terserah lo! Gue capek."

"Sambil tiduran." Adnan menaruh lagi bantal yang tadi di buang Melody.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang