IP-39

723 32 12
                                        

Sejak terbitnya berita-berita yang memojokkan Maya, Melody tidak lagi bisa bertindak sesuka hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak terbitnya berita-berita yang memojokkan Maya, Melody tidak lagi bisa bertindak sesuka hati. Semua itu karena banyaknya wartawan yang terus mondar-mandir di halaman rumahnya.

Bahkan sebagian dari mereka rela mendirikan tenda kecil di pelataran samping rumahnya yang memang di fungsikan sebagai taman.

Di larang? Sudah berulang kali, tetapi mereka tetap kekeh. Entah mereka terlalu maniak berita atau bagaimana, yang pasti hidup Melody seperti terisolasi.

Tak hanya Melody, Adnan juga terkena imbasnya. Lelaki berwajah rupawan nan dingin itu kerap kali di mintai klarifikasi. Namun, usaha para awak media berakhir gagal.

Tentu saja mereka tak akan semudah itu mengorek informasi, terlebih Adnan sosok yang sulit di jangkau.

Sesampainya di sekolah, Adnan mendapati Maudy yang telah menunggunya. Wajah kekasihnya itu nampak murung.

"Kasihan ya, Maya. Dia jadi susah ke mana-mana gara-gara di ikutin trus sama wartawan."

Adnan masih terdiam.

"Sayang, kamu juga kena imbasnya, ya?" Maudy menatap sendu pacarnya itu.

"Hm."

"Mereka kalo belum dapet apa yang di cari pasti gitu, tapi kamu tenang aja. Nanti aku yang bakalan klarifikasi hubungan kita ke mereka biar masalah ini reda." Maudy mengusap lengan Adnan lembut, kemudian mengandeng lengan kekasihnya manja.

Dalam benak Adnan tengah memikirkan siapa yang membocorkan informasi ini ke awak media. Sementara yang ia tahu, baik Melody maupun Maudy tidak ada yang suka terlalu di sorot media.

"Mmm ... aku tahu ini bukan waktu yang tepat, cuman aku nggak mau masalah ini berlarut-larut. Atau bahkan di kemudian hari memperumit hubungan kita." Maudy menjeda kalimatnya sejenak. "Jadi aku butuh ke pastian, kapan kamu mau batalin pertunangan sama Maya?"

Di tanya seperti itu, Adnan tak memiliki jawaban pasti. Seolah dirinya sudah terlanjur nyaman dengan hubungan pura-puranya.

Terselip rasa ingin mengakhiri pun tidak. Semenjak sikap Maya berubah, ia malah tertantang untuk menaklukkannya lagi.

"Sayang? Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?"

Adnan tersadar. "Hm, nanti aku cari waktu yang tepat."

Senyuman Maudy mengembang sempurna. Selangkah lagi, ia akan memiliki Adnan sepenuhnya. Kedua orangtuanya pasti bangga padanya.

_0o0_

Melody menghembuskan napas lelah untuk kesekian kalinya. Sudah tiga hari lamanya ia terkurung di rumah sebesar istana ini.

"Dasar Akar tunggang!" Melody meremas
boneka dinosaurus di pangkuannya.

"Gue beneran kayak tahanan gegara Akar tunggang nggak mau batalin acara pertunangannya!"

Melody semakin brutal meremas, memukul bahkan menginjak boneka yang menurutnya mirip Adnan itu.

"Akar tunggang brengshek! Mau lo tuh apa?!"

"Kurang puas buat hidup gue ribet, hah?!"

"Gue benci lo!"

"Benci, benci, benci bangettt pokoknyaaaa!"

"Bisa nggak lo lenyap dari hidup gue!" Melody melemparkan boneka itu ke arah jendela, bertepatan dengan seorang lelaki berhoodie hitam yang baru saja berhasil memanjat balkonnya.

BRUKKK!!

Melody tak mampu menahan tawanya kala mendapati Adnan terantuk teralis balkon.

"Bhahahaaa ... rasain lo! Suruh siapa jadi maling?"

Adnan tak membalas ucapan Melody, ia malah mendekat.

"Demen amat si lo manjat balkon gue? Udah lupa rumah pacar kesayangan lo itu?" tukas Melody seraya mundur.

"Pengen apel ke tempat tunangan gue."

"Pura-pura. Jangan setengah-setengah ngomongnya!"

"Nggak lagi."

"Hah? Apa maksud lo? Jan, ngaco! Gue nggak mau ya, masalah ini semakin panjang!" Melody menatap tajam Adnan.

"Tanggal peresmian pertunangan kita udah di tentuin."

"Whattt? Nggak, nggak boleh. Ini nggak boleh terjadi! Apa lo nggak mikirin perasaan Maudy?!"

Adnan dengan santainya mendudukan diri di sofa bulat berwarna pink itu.

"Maudy? Bukannya dulu lo benci banget sama dia?"

Melody menyilangkan tangan di dada. "Dulu iya, sekarang kita bestie. Gue nggak akan rebut lo dari dia karena gue bukan Maya yang dulu."

Adnan tersenyum tipis. "Gue juga bisa berubah."

"Nooooo ... lo nggak boleh berubah suka sama gue! Gue nggak nerima bekasan orang."

"Bekas?" Adnan menaikkan sebelah alisnya.

"Iya. Lo udah ternodai, jadi gue nggak mau sama lo. Lagian banyak cowok yang ngejar-ngejar gue, ngapain ngarepin lo lagi."

Wajah Adnan berubah keruh. "Coba ngomong sekali lagi."

"Gue nggak mau sama lo! Kurang jelas? GUE—"

Cup!

Melody melotot. Adnan sungguh kurang ajar!

"Brengshek lo!" Melody gegas menggosok bibirnya.

"Lain kali jangan ngomong sembarangan. Gue nggak suka."

"Apa peduli lo! Ini mulut gue, terserang gue mau ngomong apa."

"Perlu gue buat bibir lo bengkak? Biar lo kapok?" Adnan semakin mendekat, mengintimidasi Melody.

Merasa terancam, Melody menatap ke sana kemari. Memikirkan cara untuk melancarkan serangan pada daerah viral lelaki itu.

Adnan yang mengetahui niat Melody lebih dulu mengunci pergerakan gadis itu. "Lo akan selamanya jadi milik gue."

Melody mengangkat tangannya yang di cengkram, berusaha mengigit lengan Adnan. Namun gagal, Adnan selalu selangkah di depannya.

"Gue orang bukan barang, jadi nggak bisa di milikin sama siapa pun!"

Lelaki itu membalikkan posisi Melody, membisikkan sesuatu di daun telinga gadis itu. "Gue nggak peduli."

Satu kecupan Adnan sematkan di ceruk leher Melody. Membuatnya sekujur tubuh gadis itu bergetar hebat. Adnan benar-benar mengerikan saat menginginkan sesuatu.

Ia harus segera menghentikan kegilaan lelaki itu atau hidupnya tak akan pernah tenang lagi.

________

________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang