IP-20

964 52 0
                                        

Melody membelalakan kedua netranya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Melody membelalakan kedua netranya. Setengah terkejut hampir jatuh dan setengahnya lagi karena mendapati lelaki tengil ini.

Sadar posisinya tidak baik. Melody menyeimbangkan tubuhnya lalu menjauhkan diri dari sumber kesialannya.

Ya, kesialan. Gadis-gadis yang mendorongnya ini pasti fans-fans fanatik lelaki tengil ini.

"Jangan pasang muka kayak lagi liat setan gitu. Gue ini ganteng, bahkan gue langsung jadi idola di sini." Air menaik turunkan alisnya, menggoda Melody.

"Aaaaa ... ini beneran Kak Air 'kan?"

"Kak Air, boleh minta foto bareng nggak?"

"Keren banget! Gue bakalan satu sekolah sama idola gue! Kak Air, lope-lope sekebon!"

Kegita gadis itu maju mendekati Air. Membuat Melody terdorong lagi, tapi kali ini Melody memasang pertahan dirinya. Menerobos kerumunan sebelum jadi remahan peyek akibat terinjak-injak gadis-gadis gila ini.

Awan berjalan satu langkah di belakang, melindungi Melody dari kerumunan betina beringas itu.

Sementara Air melongo melihat Melody meninggalkanya tanpa kata. Jangankan sambutan, sepatah kata terima kasih pun enggan gadis itu berikan.

Namun, tipe gadis seperti lawan mainnya itu sangat menarik. Menantang adrealinnya!

"Kakkkkk ..." rengekan para fans menarik kesadaran Air pada kenyataan.

"Sabar cantik. Oke, oke, kalian bisa foto bareng dan dapat tanda tangan gue, asal baris yang rapi. Ayo, mulai buat barisan!" titah Air langsung di turuti semua siswi SMA Trisakti yang mengidolakannya.

***

"Guys, kantin yok!" ajak Raya seraya meregangkan tangannya.

Sasa bangkit dari duduknya sambil mengusap perutnya. "Skuy lah, perut gue juga dah rindu nasgor Bu Rus."

"Wait, wait, gue masih stuck di nomer 3. Bantuin dulu lah, biar ke kantin barengan," rengek Olin memelas.

Sedangkan Melody tak terusik dengan keantusiasan sahabat-sahabatnya. Benaknya tengah memikirkan rumitnya kehidupannya. Belum selesai masalah Adnan, ada lagi Air yang merecokinya.

Melody semakin pusing ketika faktanya, ia tidak bisa menghindari salah satunya. Adnan tunangan Maya sementara Air lawan mainnya.

"Arrgh! kepala gue rasanya mau meledakkkkk!"

Serentak ketiga sahabatnya menoleh.

"May, ngapa dah lo?" Olin menyenggol bahu Melody.

Lain lagi tanggapan Sasa. "Tadi diem-diem bae trus sekarang tereak-tereak, jangan-jangan Maya kerasukan reog?"

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang