IP-10

1K 54 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Adnan mengoyangkan bahu Melody untuk membangunkannya.

"Bangun, oi bangun!" beralih menoleh pipi chubby Melody tetap tak berhasil. Adnan baru tahu kalau Melody termasuk kriteria kebo. Membangunkannya susah sekali.

Adnan menghentikan aksinya sejenak, ia amati wajah tidur gadis manja di sampingnya. Turun ke bawah netranya menangkap plastik hitam yang masih tersisa tahu susu. Luar biasa! Hanya dalam waktu setengah jam Melody hampir menghabiskan semuanya.

Selain itu peluka erat Melody pada plastik hitam di tangannya, seolah takut seseorang mengambilnya. Sebuah sabit kecil terbit di sudut bibir Adnan tanpa si pemilik sadari.

Tok … tok … tok ….

"Adnan, buka ini Tante Mayang!" Mayang mengetuk jendela mobil Adnan yang terparkir di depan gerbang.

Adnan menurunkan kaca jendela mobilnya. 

"Maya … syukurlah Maya sama kamu. Tante khawatir banget, takut Maya kenapa-napa." Mayang menghela napas lega. 

"Makasih ya, Nan. Udah bantuin Tante sama Om jagain Maya."

Adnan mengangguk.

Mayang menatap wajah sembab anaknya. Keningnya mengernyit heran. "Adnan, Maya tadi nangis?"

"Iya, Tan." 

"Kenapa?" Wajah Mayang berubah panik dan langsung mendekati Melody yang masih damai dalam tidurnya.

"Dia nyasar," jawab Adnan singkat. 

Awalnya Adnan ragu kalau Maya benar-benar lupa ingatan. Sejak mengenal Maya sudah terlalu banyak kebohongan yang di lakukan gadis itu. Sehingga wajar, ia sulit percaya lagi.

Namun, Adnan tadi menyaksikan sendiri Maya menangis sesenggukan sambil memanggil kedua orang tuanya di depan rumah orang.

"Sayang, maafin Mama." Mayang menyematkan kecupan di dahi Melody.

"Mang Uus!" panggil Mayang pada satpam rumahnya.

Mang Uus yang semula berjaga di pos, berlari mendekati majikannya. "Iya, Nyonya. Ada apa panggil saya?" 

"Tolong gendong Maya sampai ke kamarnya." 

"Baik, Nya." Mang Uus menelusupkan kepala ke dalam, hendak menggendong Melody.

"Biar saya aja, Mang." Adnan menghentikan gerakan Mang Uus.

"Memangnya kamu nggak capek?" tanya Mayang.

"Nggak, Tan. Mang Uus bawain plastiknya aja." Seketika perhatian mereka teralih pada kantong plastik itu.

Mayang menggelengkan kepala mendapati tahu susu sebanyak itu dalam plastik. "Meskipun lupa ingatan tapi makanan kesukaanya nggak pernah di lupain."

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang