IP-5

1.3K 85 1
                                        


Happy reading

"Maya, anak kesayangan Mama!" Mayang memeluk Melody erat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maya, anak kesayangan Mama!" Mayang memeluk Melody erat. Kerinduannya selama dua minggu terbayarkan. 

Menemani suaminya mengurusi pekerjaan di luar negeri membuat ia tidak bisa menemani anaknya menjalani proses pemulihan.

"Gimana perkembangan terapi kamu?"

"Alhamdulillah lancar, Ma. Aku udah bisa jalan pelan-pelan."

"Syukurlah. Mama seneng banget dengernya. Oh, iya, Mama juga udah nggak sabar nunjukin kamar kamu. Mama udah rapihin kamar kamu."

Senyuman tipis terukir di bibir Melody. Miris. Ia akan pulang ke rumah orang lain. Menyingkirkan pikiran sedih itu, Melody harus mengatakan sesuatu yang menganjal di benaknya.

"Ma, perusahaan Papa itu besar, ya?"

"Besar banget. Papa kamu itu termasuk pebisnis yang sukses. Tahun kemarin perusahan Papa kamu dapat penghargaan dan salah satu perusahaan terbesar se-asia. Cabang perusahaanya juga tersebar di beberapa negara. Mama sama Papa kemarin habis ngurusin kantor yang di Inggris."

Melody mengangguk. "Em, berarti wartawan pernah liput keluarga kita?"

"Yah … banyak. Tapi kamu sibuk sama karir kamu sendiri."

"Karir, bukannya aku masih sekolah, ya?"

"Iya, tapi kamu juga terjun ke dunia hiburan."

"Jadi aku artis …," terka Melody. Melody syok sendiri dengan tebakannya. Apalagi melihat anggukan Mayang.

"Heem. Mau liat film-film yang pernah kamu bintangi?" Mayang merogoh tasnya. 

Melody menonton film yang di putar Mayang. Di sana jelas terlihat sosok Maya sedang berperan sebagai siswa SMA yang penyakitan. Kalau seperti ini tanpa bayaran pun orang-orang akan suka rela meliput kehidupan pribadinya untuk di konsumsi publik.

"Itu film terakhir yang kamu bintangi," kata Mayang. Netranya berkaca-kaca. "Habis syuting film itu kamu ke Korea buat terima penghargaan, terus … hiks … kamu kecelakaan." 

Melody mengerti sekarang. Maya mengalami kecelakaan di luar negeri dan tidak ada satu pun orang yang melihatnya secara langsung. 

"Mama, kenapa aku bisa sadar di Indo kalo awalnya kecelakaan di Korea?" tanya Melody penuh selidik.

"Waktu Mama sama Papa denger kamu kecelakaan, kami panik dan datangin kamu ke sana. Butuh waktu lima bulan sebelum kamu bisa di pindahin ke sini." Mayang terbayang betapa sedihnya ketika tahu putrinya dalam keadaan koma.

"Ma--"

"Sayang, sekarang waktunya makan. Tanya-tanyanya nanti aja. Mama nggak mau kamu sampe sakit lagu gara-gara telat makan." Mayang membuka bungkusan makanan, menghentikan segala penyelidikan Melody.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang