IP-8

1K 69 1
                                        

Spesial Hari Kemerdekaan double up

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Melody tak henti mendumel dalam hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Melody tak henti mendumel dalam hati. Niatnya yang ingin menjauh dari Adnan gagal total!

Bukan hanya masalah berangkat bareng. Rumah mereka saja bersebelahan. Belum lagi mereka juga satu sekolah. Otomatis secara tidak langsung akan selalu bersinggungan.

Sampai di sekolah Melody dan Adnan menjadi pusat perhatian. Seluruh pasang mata memerhatikan mereka. Bahkan beberapa gadis terang-terangan menilai penampilan Melody.

"Siapa sih cewek yang sama Adnan?" Gadis berambut ombre abu-abu itu menatap sengit pada Melody.

"Kayak pernah liat, tapi dimana, ya?" gumam cewek di sebelahnya.

Gadis lain muncul dan langsung menyahut. "Dia tuh cewek yang ngejar-ngejar Adnan pas SMP. Gue kan satu SMP bareng mereka." 

"Oh, cewek ganjen toh." 

"Gue denger-denger juga dia artis." 

"Hihi … artis? Kok gue nggak pernah liat dia di tivi?"

"Artis nggak laku kali!"

Keadaan hati Melody yang sedang panas bertambah panas mendengarnya. Melody berbalik menghadang Adnan. "Cukup hari ini aja lo jemput gue. Besok dan selamanya lo nggak usah ajak gue berangkat bareng lagi."

Lenyap sudah keinginan Melody untuk tetap bersikap seolah menyukai Adnan. Harga dirinya lebih penting ketimbang status palsunya ini.

Adnan masih santai di tempatnya. 

"Heh, patung! Kalo ngerti ngangguk lo! Jan diem-diem bae!" sarkas Melody.

"Hm."

"Apanya yang hm?" Melody tidak puas dengan jawaban Adnan.

"Liat besok," kata Adnan lalu berjalan melewati Melody.

Melody mengepalkan kedua tangannya. "Arrgghh … gue tendang ke neraka lo, lama-lam!!!"

*** 

Melody mengamati peta bangunan sekolah yang tadi di berikan guru piket padanya. Menyusuri lorong sekolah selama lima belas menit tapi belum juga menemukan kelas yang di cari.

"Mana sih kelasnya?" Melody berkacak pinggang, menolehkan kepala ke kanan lalu ke kiri.

"Dek, mau tanya kelas sepuluh B di mana, ya?" Melody menghentikan salah seorang siswi.

Siswi itu menoleh, sejenak ia merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mengucek-ngucek mata berulang kali, barulah ia yakin kalau sosok di depannya adalah Maya, sahabatnya.

"Maya, i miss you!!" Olin langsung memeluk Melody. Tangis tak mampu di tahannya untuk meluap.

Melody kikuk. Tak tahu bagaimana respon yang harus di lakukannya.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang