IP-18

879 49 3
                                        

Matahari masih terlihat malu-malu menampakkan dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari masih terlihat malu-malu menampakkan dirinya. Hawa dingin juga masih menyelimuti bumi, tapi gadis berhoodie putih bulu-bulu itu sudah menjelajahkan kaki mengelilingi pasar.

"Nggak biasanya loh Non Maya mau ikut ke pasar," kata Isti--pembantu di rumah Maya, heran.

"Hehehe ... aku mau coba suasana baru. Ini juga ... bagian akting. Iya, akting!" Melody mencetuskan alasan terbaik.

"Ohhh ... gitu toh. Mumpung di pasar Non Maya mau belanja apa? Biar sekalian Bibi belikan atau Non Maya mau makan apa?"

Melody menjelajah seisi pasar, mencari sesuatu yang ingin di belinya. Berjalan menyisiri pasar tanpa takut kotor terkena kubangan air di sekitarnya.

"Bi, beli tahu susu yang banyak, ya. Aku mau buat tahu susu balado nanti."

"Oalah, pasti itu mah! Bibi nggak bakalan lupa."

Melody menoleh pada Bi Isti. "Bibi sejak kapan kerja sama keluargaku?"

"Udah lama banget. Dulu Ibu Bibi kerja sama Nenek dan Kakek Non Maya, waktu Ibu Bibi mulai sakit-sakitan saya yang gantiin beliau dan kerja di rumah Tuan Ghanni dan Nyonya Mayang."

"Emmm ... lama, ya. Menurut Bibi, aku gimana sebelum lupa ingatan?"

Bi Isti mengalihkan perhatian, memberikan selembar uang lima puluhan pada pedagang sayur sebelum menerima sekantung sayur belanjaanya.

"Bibi sebenarnya sungkan mau ngomong."

"Nggak papa, Bi. Maya 'kan nggak inget. Malahan Maya yang harus minta maaf kalo selama ini banyak ngerepotin Bibi."

"Eh, jangan ngomong gitu atuh Non. Tugas Bibi ya, ngelayanin Non sama Tuan dan Nyonya. Non Maya memang kelihatan beda sekarang, dulu mana pernah Non Maya nemenin Bibi ke pasar. Non Maya juga keliatannya ngejauh dari Den Adnan."

"Bibi tahu hubungan aku sama Akar?"

"Akar siapa Non?"

"Ya, Adnan."

"Nah, panggilan Non aja beda."

"Usaha move on, Bi. Ganti nama panggilan biar inget proses melupakan masa lalu gitu."

"Aya aya wae, Non Maya teh."

"Balik lagi Bi. Gimana dulu aku sama Akar?"

"Ceritanya di lanjut sambil makan aja, gimana Non?"

"Boleh, kita makan apa Bi?"

"Non mau makan apa? Bibi mah ngikut aja," sahut Bi Isti.

"Enaknya makan yang anget-anget."

"Di sana ada bubur kacang ijo, Non mau?"

"Yaudah kita ke sana."

Setelah nyaman duduk di samping gerobak penjual kacang ijo, Bi Isti menceritakan tentang Maya yang sering memintanya menyiapkan sarapan untuk Adnan.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang