[Follow dulu, yuk biar lebih dekat 😊]
~Palsu tak selamanya menipu~
***
Apa yang begitu dinanti ketika usia kalian telah menginjak angka tujuh belas tahun?
-Menambah koleksi mantan
-Menorehkan banyak prestasi di sekolah
-Pas ultah ngadain pesta besa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ketiga sejak rumah Melody dikepung wartawan. Setiap sudut terasa sempit, udara pun seolah menolak masuk. Ia menatap seragam sekolahnya yang tergantung rapi, simbol dari kehidupan normal yang kini terasa jauh.
Dengan tekad bulat, Melody mengenakan seragamnya. Langkahnya mantap menuju pintu gerbang, meski hatinya berdebar kencang.
Begitu gerbang terbuka, kilatan kamera dan suara-suara lantang langsung menyambutnya.
"Mbak Maya, benarkah rumor yang beredar?"
"Apa Anda tidak ingin mengklarifikasi berita ini?"
"Apakah pria yang digosipkan itu sama dengan yang menemani Anda di rumah sakit?"
Melody terdiam, mencoba menahan emosi yang membuncah. Semua ini karena Adnan, lelaki plin-plan yang tak mampu mengambil keputusan.
Terlebih Maya seorang publik figur yang kehidupan pribadinya selalu di kulik oleh wartawan. Belum lagi, segila apa seorang Maya dulu mengejar-ngejar Adnan.
Ketika impiannya itu menjadi nyata dalam ikatan pertunangan, Maya tentu tak akan menyia-nyiakan waktu untuk segera membeberkannya pada awak media.
Melody enggan menanggapi, tapi awak media yang haus berita itu terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Menghela napas panjang, ia coba menenangkan diri.
"Maaf, saya tidak ingin terlambat ke sekolah. Untuk pertanyaan kalian, saya akan memberikan pernyataan resmi setelah berdiskusi dengan manajer saya."
Kerumunan wartawan mulai mereda, memberikan jalan bagi Melody. Ia melangkah cepat menuju mobil, meninggalkan kerumunan yang masih penuh tanda tanya.
_0o0_
Begitu tiba di halaman sekolah, Melody langsung melesat menuju kelas. Ia tak mau mengambil risiko dikerubungi awak media untuk kedua kalinya hari ini—cukup sudah drama pagi di depan rumah.
Langkahnya cepat dan matanya menunduk, berusaha menghindari perhatian. Namun, rasanya percuma. Jadi selebriti membuat setiap sudut hidupnya seperti panggung terbuka. Tak ada ruang untuk sekadar bernapas tenang.
Kadang hal sepele pun bisa jadi berita besar. Seperti waktu itu, ia hanya memberikan sebatang sosis ke kucing liar yang kelaparan. Esoknya, wajahnya terpampang besar di halaman depan majalah gosip dengan judul yang lebay, 'Melody Si Malaikat Jalanan!'
Ironisnya, Edo—manajernya yang over semangat itu—malah girang bukan main. Bahkan fotonya dicetak besar dan ditempel di dinding kantor agensi. Katanya, "Citra baik itu investasi."
Melody cuma bisa geleng-geleng. Di saat orang lain bisa melakukan hal baik tanpa kamera, dia harus berhitung ekspresi, sudut wajah, bahkan jenis sosis apa yang ia kasih.
Dan ya, setelah itu banyak tawaran iklan seputar makanan kucing dan sebagainya.
“Capek, ya?”
Suara itu membuat Melody tersentak dari lamunannya. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berambut coklat keriting, seragamnya rapi, dan tangan kanannya menyodorkan sebotol minuman dingin.