IP-26

755 40 3
                                        

"Adnan makan yang banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Adnan makan yang banyak. Jangan malu-malu, kayak di rumah siapa aja."

"Iya, ih, Sayang, makan yang banyak." Maudy mengusap lengan Adnan.

Adnan mengangguk. Kembali menyantap hidangan yang sudah di sediakan oleh keluarga Maudy.

Setelah mengantar pulang kekasihnya seusai syuting, Adnan berniat langsung pulang tapi ibu Maudy memaksanya tinggal untuk makan malam.

Di meja makan itu ada mereka berempat, termasuk Rishaka yang terkenal workaholic. Menyantap makanan dengan nikmat. Sejak tadi belum ada pertanyaan apa pun yang keluar dari sang kepala keluarga.

Adnan sebenarnya sungkan makan bersama mereka. Terlebih ia bukan siapa-siapa di keluarga ini. Atau belum.

Makanan penutup, mengakhiri acara makan malam dadakan itu. Adnan menghela napas lega.

"Adnan," panggilan Rishaka membuatnya mendongak. "I-iya, Om."

"Jaga putri saya, jangan sakiti dia. Dia putri kesayangan saya. Saya akan mengusahakan apa pun yang terbaik untuknya."

Adnan mengangguk kaku. Sementara Maudy semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Adnan.

"Adnan itu cinta banget sama aku, Pa! Dia nggak mungkin khianatin aku." Maudy mendaratkan kepalanya di bahu Adnan.

"Bagus kalo begitu." Rishaka bangkit lebih dulu, di ikuti Seera.

Sepeninggalan kedua orang tuanya, Maudy tak mampu menahan tawanya. "Tegang banget, Pak. Kayak pidana mau di hukum mati, aja. Hahaha...."

"Ody!" Adnan mencubit ujung hidung Maudy.

"Papa itu sama kayak kamu. Nggak gampang senyum apalagi ketawa kalo bukan sama orang yang bikin dia nyaman."

Adnan tertegun. Apa hanya saat bersama Maudy senyumnya mengembang sempurna?

"Habis ini kamu mau langsung pulang apa naik ke atas." Adnan menaikkan alisnya sebelah, Maudy yang tahu segera menambahkan. "Ke kamar. Kita bisa nonton atau duduk berduaan di balkon."

Adnan mengusap puncak kepala Maudy. "Aku pulang aja."

"Ya udah, besok jemput aku, ya. Kemarin-kemarin kamu bareng Maya mulu, bikin aku cemburu tau!" Maudy mencubit pipi Adnan.

"Hm."

Maudy bersorak mendengarnya. ampai di depan pintu utama, Maudy mengecup pipi Adnan. "Hati-hati di jalan!"

Adnan tak menjawabnya, hanya lambaian tangan dan juga anggukan yang dia berikan.

_0o0_

Adnan menenteng plastik berukuran sedang yang di dalamnya berisi tahu susu. Saat di jalan tadi, ia berpapasan dengan pedagang tahu yang masih sisa banyak jualannya, jadi ia membelinya.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang