IP-6

1.2K 73 0
                                        

"Malem minggu lo nggak nge-date?" tanya Melody ketika melihat Adnan masih santai bermain ponsel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Malem minggu lo nggak nge-date?" tanya Melody ketika melihat Adnan masih santai bermain ponsel. Padahal jarum jam telah mengarah ke angka tujuh malam.

"Heh! Lo nggak lupakan kalo punya pacar?" Melody jadi geram sendiri. Tingkah Adnan seperti orang yang tidak terikat hubungan dengan siapa-siapa.

Melody teringat kejadian tempo hari. Saat Adnan seolah-olah menjadi pahlawan yang memberikan pertolongan pertama pada lukanya. Sekaligus melupakan Maudy yang notebene adalah pacarnya.

"Kenapa sih, harus lo yang jagain gue? Mama Papa gue juga bisa nginep di sini." Melody misuh-misuh lagi. Sementara Adnan sibuk dengan urusannya.

"Gue telepon mereka aja lah. Biar lo bisa get out dari sini!" 

Melody mengotak-atik ponsel Maya, mencari nomer orang tuanya. Namun baru saja Melody hendak  menempelkan ponsel ke telinga, Adnan sudah merebutnya.

"Akar kembaliin hape gue!" Melody berusaha menggapai-gapai ponselnya tapi Adnan semakin menjauhkannya.

"Hihhhh! Lo ngeselin banget! Enyah lo dari sini! Empet gue liat muka lo!" Melody menyilangkan tangan di dada, lalu melengos.

"Mereka perlu istirahat."

"Apa? Lo ngomong apa?"

Adnan menghela napasnya. Menghadapi Melody perlu kesabaran ekstra. "Kasihan kalo mereka harus tidur di sofa."

"Oh … iya, juga. Tapi gue juga nggak butuh lo! Gue ini mandiri."

Sebelah bibir Adnan terangkat. "Mandiri?"

Perkataan itu bukan pujian tapi meremehkan. Melody hampir lupa kalau identitasnya sekarang adalah Maya. Gadis cantik dari keluarga kaya dan seorang artis.

"Manja. Cuma pengen belajar mandiri mulai sekarang. Gue juga nggak mau ngerepotin lo."

"Baru nyadar?" Sinis Adnan.

"Heem. Mungkin hikmah dari hilangnya ingatan gue. Gue nggak pengen ngekang lo lagi. Kalo lo mau jalan sama Maudy, gue fine-fine aja. Itung-itung sebagai penebusan kesalahan gue selama ini." Melody menunduk. Sebersit rasa bersalah bersarang di hatinya. 

Kenapa takdir menempatkannya di tengah-tengah hubungan asmara saudari kembarnya? Sungguh Melody tak sanggup melihat kesedihan yang membayang di pelupuk Maudy tempo hari.

"Kenapa lo jadi care banget sama Maudy?" Adnan tiba-tiba saja bertanya.

Melody menoleh, terkejut. Apa jangan-jangan Adnan curiga padanya?

Sambil mencari jawaban yang tepat, Melody membenarkan letak selimutnya. Di dalam sana, kakinya sudah gemetar ketakutan. "Karna … karna dia temen gue. Udah sepantasnya temen saling sport, 'kan?"

"Dulu. Sebelum hilang, lo memutuskan pertemanan sama dia."

Glek. Melody membeku di tempatnya. Saat-saat seperti ini Melody merutuk Adnan yang merespon setiap ucapannya. Menyebalkan!

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang