IP-4

1.3K 93 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Happy reading!

Melody mendapati sepucuk surat di dalam buket bunga. Melody membuka amplop berwarna merah itu. Setitik air mata runtuh saat melihat foto keluarganya.

"Papa, Mama, Maudy, Melody kangen kalian. Hiks … gimana kabar kalian? Apa kalian baik-baik aja?" Di usapnya lembar foto itu penuh kasih.

Foto yang menampakkan ketiga anggota kekuarga kandungnya.

"Ma … Melody takut. Melody takut kalian nggak kenalin Melody. Wajah Melody berubah, Ma...."

Tangisannya tak kunjung berhenti. Kerinduannya pada keluarga meluap. Sampai kapan ia akan terjebak di sini?

Melody tak sanggup menatap lebih lama foto keluarganya. Perasaannya bertambah kacau. Ingin segera pulang dan menjelaskan semuanya, tapi ia belum bisa kemana-mana dengan tubuh kaku.

Membalik foto itu, Melody mendapati sebuah tulisan di baliknya. 

'Tetaplah menjadi Maya. Kalau kamu berani membongkar identitas aslimu, orang-orang di balik foto ini akan menanggung akibatnya!!!'

Tulisan bertinta merah itu sarat akan ancaman. 

Jemarinya merayap ke leher, di genggamnya kalung berliontin sayap itu. Kalung pemberian ibunya yang di buat sepasang dengan saudari kembarnya. Melody butuh petunjuk agar bisa memutuskan pilihan yang tepat.

Haruskah ia mengikuti perintah si peneror atau mengabaikannya?

*** 

"Tata nama senyawa organik cenderung lebih kompleks di banding tata nama senyawa ..."

Adnan menatap ke luar jendela. Sedari tadi fokusnya tidak pernah tertuju pada penjelasan guru di depan. Pikirannya sedang kacau. Terutama memikirkan tunangan drama queen-nya itu.

Adnan tidak mau terikat dengan Maya lagi. Hidupnya terasa sesak dan penuh dengan tekanan bila terus berhubungan dengannya.

Hingga jam pelajaran usai, Adnan masih tenggelam dalam lamunannya. Namun, tepukan di bahunya membuat Adnan tersentak dan kembali ke dunia nyata.

"Sayang, kantin yuk!" Seorang gadis berambut panjang sepunggung mendekati meja Adnan.

"Sayang …" rengeknya manja. 

"Hm?" Adnan menaikkan alisnya, meminta gadis itu mengulang ucapannya lagi.

"Laper … ke kantin, yuk!" Gadis itu beralih meraih tangan sang kekasih.

Adnan agak linglung, menatap sekeliling kelas yang sepi. Dia menghembuskan napas panjang, lagi-lagi pikirannya berkelana tak jelas. Anggukan kepala Adnan membawanya bangkit mengikuti kemauan pacarnya. Iya, pa-car. Gadis yang ia tembak setahun lalu.

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang