IP-9

1K 56 1
                                        

Melody memutar-mutar cincin emas putih berhiaskan berlian biru di jarinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Melody memutar-mutar cincin emas putih berhiaskan berlian biru di jarinya. Cantik nan elegan pantas di sematkan untuk cincin itu. Cincin yang telah melekat di jari manisnya sejak sadar dari koma.

Kata Oma Kartika, cincin itu merupakan warisan turun-temurun di keluarga Adhiwangsa. Sebelum dirinya, ibu Adnan pernah memakainya tapi sekarang sudah tidak lagi. 

Tanpa bertanya pun Melody tahu siapa yang memasangkannya. Tentu si peneror itu. Rasa penasaran selalu menghantuinya. 

Sebenarnya siapa peneror ini? Apa tujuannya?

"Mbak, mau perawatan apa?" Seorang pegawai salon menghampiri Melody.

Melody tersadar. "Ehm, catok bulu mata."

"Hah?" Pegawai salon nampak terkejut. Baru kali ini dia menemukan pelanggan dengan permintaan super nyeleneh.

"Maaf, Mbak di sini tidak menyediakan jasa catok bulu mata. Saya saja baru mendengarnya."

Bodoh! Melody merutuk dalam hati.

"Hehehe, salah Mbak. Maksud saya creambat." Melody cepat meralat.

"Oh, baik. Saya siapkan alatnya dulu ya, Mbak." 

Melody mengangguk saja. Ya, mereka tengah berada di dalam salon setelah berkeliling mall selama kurang lebih tiga jam. Mereka memasuki hampir seluruh toko di mall. Di antara mereka hanya Melody yang belanjaanya paling sedikit.

Capek? Tentu saja. Melody merasa kakinya hendak patah. Untungnya ia menggunakan sepatu kets sehingga kakinya aman dari lecet. Melody juga ngeri melihat banyaknya koleksi sepatu hak tinggi milik Maya.

Melody bahkan tidak bisa memakai satu pun sepatu itu. Mengingat dirinya yang harus berpura-pura menjadi Maya, rasanya sulit. 

*** 

"May, balik bareng aja. Rumah kita searah kok." Lagi Sasa menawarkan untuk pulang bareng.

Melody menggeleng. "Nggak, makasih. Gue udah minta jemput." Ia masih punya urusan lain jadi ikut pulang bersama Sasa bukan keputusan tepat.

"Beneran nggak papa kita tinggal?" Raya tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian. Apalagi hari mulai gelap.

"Iya, kalian duluan aja. Gue bisa jaga diri." Melody menyakinkan ketiganya.

"Gue pulang duluan, ya. Pengen natain barang, dah!"  Olin melambaikan tangannya. Kemudian mobil pink mini cooper-nya melesat meninggalkan parkiran mall.

"Sampai jumpa besok bestie!" Sasa dan Raya pun akhirnya pulang.

Setelah semuanya pergi, Melody bergegas memesan ojek ke tempat tujuannya itu. Perlu waktu sekitar 30 menitan untuk sampai di sana.

Kini Melody sudah berada di depan rumah berlantai dua. Ukurannya memang tidak sebesar rumah Maya tapi di dalamnya tak kalah hangat.

Melody menyambangi pos satpam yang letaknya di dekat gerbang. 

IDENTITAS PALSUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang