Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

15. Suara Hati Caroline

213 16 2
                                        

Tidak pernah ada pagi yang cerah bagi wanita bernama Caroline Park. Gadis itu kesepian, siang dan malam.

Jeno mengacuhkannya, Jeno jarang pulang dan menolak saat di temui. Caroline terluka tentu saja, dan dia nyaris menyerah.

Pagi ini Jeno pulang ke rumah setelah hampir satu minggu tidak pulang.
Lelaki itu menghampiri Caroline yang duduk manis sambil menonton tv di kamar. Sebuah map berwarna biru menjadi pembuka pertemuan mereka tapi Jeno tidak mengatakan apapun dan hampir pergi lagi.

"Jen.... Apa ini ???" Caroline bertanya dalam suara lembut. Gadis itu meraih map di sebelahnya lalu membaca isinya.

"Itu surat cerai, cepat tanda tangani." Kata Jeno.

Hati Caroline mencelos, air matanya langsung menggenang, tapi gadis itu berusaha mempertahankan senyumannya.

"Jen.. bisa kita bicara sebentar??"

Jeno terlihat tidak setuju, tapi lelaki itu terlalu lelah untuk mendebat. Jeno akhirnya berputar, menghadap Caroline yang masih duduk di atas ranjang mereka.

"Aku mau minta sesuatu..." Caroline memulai dengan hati-hati. Dia menatap langsung pada manik legam Jeno berharap bisa meluluhkan sang pemilik mata bulan sabit itu.

"..... Tolong kasih aku waktu satu bulan, jadilah suami yang baik selama satu bulan, setelah itu aku akan tanda tangani surat cerainya."

"Caroline kamu pikir....."

"Aku mohon..... Setelah satu bulan kamu bebas mau deketin cewek manapun." Caroline memotong dengan nada paling putus asa yang pernah Jeno dengar.

Jeno menarik nafas panjang. Tatapannya yang terarah pada Caroline kini semakin menajam.

"Aku setuju tapi setelah itu kasih tau aku dimana kamu nyembunyiin Ruby."

Caroline tersenyum getir. Lagi-lagi Ruby lah yang menjadi prioritas utama Jeno. Tapi jika memang hati Jeno telah berpaling, lalu Caroline bisa apa ?

"Baiklah."

Jeno benar-benar menepati janjinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeno benar-benar menepati janjinya. Dia pulang ke rumah setiap hari, menemani Caroline memasak dan berbelanja selayaknya suami yang baik.

Ucapannya melembut diiringi senyuman yang sering dia tunjukkan di depan Caroline, entah itu tulus atau tidak yang jelas Caroline sudah cukup bahagia dengan itu.

Ada hal yang jauh lebih membuatnya bahagia lagi. Itu ketika mereka sedang berduaan, Lee Jeno tak lagi pergi demi menemui Ruby. Lelaki itu tetap disisinya selama yang Caroline mau.

Ini adalah hari ke 14 dari perjanjian mereka. Lee Jeno tampaknya semakin melunak pada Caroline. Lelaki itu duduk bersama Caroline di atas ranjang mereka tanpa rasa terpaksa.

Sebuah album foto tergeletak manis di atas pangkuan Caroline. gadis itu menunjuk foto-foto di dalamnya dengan senyuman manis yang dulu sering Jeno lihat.

"Ahh.. aku beneran suka gaun pengantinku." Kata Caroline. Gadis itu menunjuk pada salah satu foto pernikahannya dengan Jeno.

Sementara Jeno ikut mengarahkan pandangannya kesana. Menatap betapa cantiknya Caroline dalam foto itu. Tapi ada satu hal yang membuat Jeno terpaku. Yaitu ketika dia menatap wajahnya sendiri di foto itu.

'kenapa aku ga senyum?' pikirnya.

Apakah dia memang tidak bahagia di pernikahan itu hingga hanya wajah masam yang bisa dia tunjukkan disana?

'ahh.. bukan..'

Jeno ingat sekarang. Alasan di balik wajah masamnya adalah karena Lee Ruby tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dia hubungi. Jeno khawatir setengah mati hingga dia tidak sadar memasang wajah ketus di foto pernikahannya.

"Kamu tau, meskipun ga berjalan lancar tapi aku ga pernah nyesel nikah sama kamu." Caroline kembali berbicara sementara Jeno tetap diam.

"Aku senang meskipun ga bahagia." Caroline memutar kepalanya menatap Jeno.

"Kamu tau hubunganku sama Mark kan??? Kita sudah berteman lama dan sampai sekarang pun masih."

Jeno masih tetap diam mendengarkan meskipun dalam hati dia ingin sekali menyela.

"Sejujurnya perselingkuhanku sama dia cuma sandiwara. Aku cemburu buta karena kamu terus khawatir sama Ruby, aku sakit hati karena Ruby selalu jadi prioritasmu. Dan akhirnya aku minta Mark buat pura-pura jadi selingkuhanku, semua itu buat bales kamu Jen."

Jeno terdiam, kali ini karena dia kehabisan kata-kata untuk dia ucapkan. Sebuah fakta itu terasa menamparnya, menyadarkan Jeno pada perilaku nya yang telah menyakiti hati istrinya.

"Tapi bukannya ngejar aku, kamu malah pergi semakin jauh." Lanjut Caroline.

Tangan mungil gadis itu gemetar ketika membalik lembar demi lembar album foto di pangkuannya. Diiringi air matanya yang menetes tanpa bisa dia tahan.

"Meskipun begitu aku akan tetap maafin kamu apapun kesalahanmu karena satu hal.... "

Carolone tersenyum tipis, kepalanya bergerak kesamping, bersandar nyaman di pundak kokoh Jeno.

"...... Lee Jeno.... Aku..."

Caroline terbata, ucapannya menjadi semakin lirih.

"....Mencintaimu..."

Dan kata terakhirnya terucap bersamaan dengan kedua kelopak matanya yang terpejam.

"Carol.....?"

Jeno diam pada awalnya, dia pikir Carolone sedang tertidur. Sampai akhirnya dia menyentuh tangan dingin Caroline barulah dia sadar jika Caroline tidak sadarkan diri.

"Caroline.. bangun.. "

"Caroline..."

Oknum yang bikin resah semua orang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Oknum yang bikin resah semua orang... 🙈

 🙈

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


SECOND CHANCE | LEE JENOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang