Tidak ada yang salah dari sebuah pilihan, yang salah adalah ketika sudah menetapkan pilihan tapi justru berakhir menyesalinya.
Lee Jeno pernah berada dalam situasi semacam itu dalam hubungan pernikahannya. Tapi dia menolak untuk pasrah. Dia tidak b...
Lee Rui itu asing dengan sosok yang disebut ayah. Sejak bayi dia hanya mengenal sosok ibu jadi dia tidak tau seperti apa sosok ayah yang dimiliki hampir setiap anak di dunia ini.
Rui pernah bertanya pada Ruby satu kali tapi dia tidak pernah mendapat gambaran seperti apa ayahnya. Bukan karena Ruby mencoba menutupi fakta tapi karena wanita itu juga tidak tau seperti apa orang yang menghamilinya.
Dan sekarang saat ada sesosok laki-laki yang baik padanya, Rui jadi berangan-angan.
Bagaimana jika orang itu jadi papanya?
Bagaimana rasanya bisa berteriak manja memanggil nama seorang laki-laki dengan sebutan papa??
Bagaimana jika dia benar-benar bisa memeluk sosok yang di panggil papa itu?
Ahh.. pasti itu sangat menyenangkan. Rui bahkan tersenyum sendiri hanya dengan memikirkannya.
"Rui?? Kenapa senyum-senyum? " Lee Jeno menundukkan sedikit pandangannya. Menatap hangat wajah polos yang tengah tersenyum di sampingnya.
Rui menunduk malu, pipinya merah, sementara tangannya yang tengah memeluk robot mainan baru bergoyang-goyang tanpa dia sadari.
"Rui suka robotnya?? " Jeno tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum.
"Suka." Kata Rui girang.
"Ga usah beliin sesuatu yang mahal, aku ga mau punya hutang budi." Ruby datang dengan secangkir kopi susu kemasan yang baru dia seduh.
Wanita itu duduk di samping Rui dengan wajah masam. Merasa tidak senang karena Jeno terus membelikan Rui hadiah.
"Ini bukan hutang, aku beli karena aku sayang sama Rui. "
Dua mata bulan sabit itu bertemu pandang dengan mata bulat Ruby. Ada sedikit peraduan argumen tak terucap di antara dua tatapan yang saling beradu itu tapi tentu saja kedua orang itu tidak mau bertengkar di depan Rui.
"Kalau om Jeno sayang sama Rui, berarti om Jeno sayang sama mama juga ?"
Mata bulan sabit itu kembali melirik Ruby sebelum menjawab,
"Iya dong. Om Jeno juga sayang mama Rui." Sekali lagi Jeno mencuri pandang. Tersenyum menatap wajah cemberut Ruby.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebenarnya Ruby tidak keberatan Jeno dekat dengan Rui. Namun dirinya hanya membatasi diri. Dia dan Jeno tidak boleh memiliki hubungan apapun lagi. Tidak ada yang melarang memang, tapi ini adalah prinsip yang Ruby buat sendiri setelah kepergian Caroline.
Wanita itu tau kehadirannya akan membawa masalah untuk orang lain. Untuk itu lebih baik membuat jarak daripada sakit di kemudian hari.
"Apa kalian akan menikah??" Pertanyaan polos Rui membuat mata Ruby melotot.
"Engga Rui, mama sama om Jeno...."
"Ini lagi om usahain ya Rui, makanya Rui kasih dong waktu biar om Jeno sama mama bisa ngobrol. "
Ruby langsung melotot ke arah Jeno. Tapi lelaki itu tidak takut, dia akan terus maju tanpa ragu.
Sebuah lengkungan manis tercipta di bibir Rui. Bocah itu langsung berdiri dengan membawa robot barunya.
"Okey, Rui mau pergi main dulu ya." Katanya.
Jeno tersenyum puas sementara Ruby semakin cemberut. Wanita itu tak memiliki alasan lain untuk tetap duduk disana. Dia juga tidak memiliki keinginan untuk mengobrol panjang dengan Jeno. Jadi dia memutuskan untuk beranjak.
Tapi tangan Jeno bergerak lebih cepat darinya. Lelaki itu menangkap pergelangan tangan Ruby dan menariknya hingga Ruby kembali duduk di tempat semula.
Ruby mengangguk dengan bibir mengerucut tidak senang.
"Besok aku kembali ke korea." Kata Jeno.
Ruby menatap Jeno sekilas lalu tatapannya jatuh pada dua tangannya yang saling meremas di atas pangkuan. Ruby tau cepat atau lambat Jeno akan kembali ke korea. Bahkan Ruby sendiri tidak tau apa tujuan lelaki itu datang ke london.
Harusnya Ruby merasa tidak peduli, toh urusan Jeno bukan urusannya. Dan kepulangan lelaki itu ke Korea juga bukan urusannya.
Tapi Ruby tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia sedikit merasa..... Ummm... Yahh... kecewa. Atau mungkin sedih. Ada sepertiga bagian dari hatinya yang ingin Jeno tetap di london. Tapi Ruby akan menyangkal itu sebagai bentuk penolakannya pada Lee Jeno.
"Yaudah balik aja kenapa malah Ngomong ke aku ???"
Jeno tersenyum kecut. Sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyum kekecewaan dan sorot mata menyedihkan.
"Kamu ga mau balik sama aku ??"
"Apa penolakanku belum cukup jelas ?? "
Tatapan Jeno terpaku beberapa saat pada dua mata indah yang mencoba menghindarinya. Jeno mencoba mencari sisi ketidakrelaan dari Ruby tapi gadis itu terus menutup-nutupinya. Pada akhirnya Jeno hanya menghela nafas. Tidak ingin lagi mencatut nama Ruby dalam masalahnya atau memaksa gadis itu memasuki kehidupannya.
Jeno sudah cukup tau diri jika Ruby terasingkan ke london karena dirinya. Sudah pasti wanita itu juga mengalami banyak kesulitan selama hidup sendirian di london.
"Aku minta maaf. " Jeno masih memaksakan senyumannya ketika dia berdiri.
Lelaki itu meraih jaket kulit yang dia sampirkan di sandaran kursi sementara matanya masih sempat menatap wajah Ruby. Mungkin ini akan jadi kali terakhirnya menatap wajah itu.
"Tolong tetap sehat dan hidup dengan baik. Aku pergi ya..... Lee Ruby."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bintangnya apelin jangan di anggurin ya... 🤗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.