Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

22. Precious Presence

219 19 1
                                        

Tidak ada hal signifikan yang terjadi setelah kepulangan Jeno. Semua berlalu begitu saja. Dan dunia Ruby pun masih berputar seperti biasanya.

Tapi rasanya tetap ada yang berbeda. Ruby merasa hampa. Otaknya, hatinya dan jiwanya, rasanya sangat kosong. Ruby tidak bisa fokus pada apapun dan lebih banyak melamun. Berbicara pada dirinya sendiri lalu menghela nafas pada akhirnya.

Dunia memang tidak berputar sesuai keinginannya. Dunia ini terlalu sulit untuk Ruby lalui. Gadis itu sudah menyerah sejak 6 tahun lalu, dan berakhir pasrah menjalani hidup tanpa ada hasrat sama sekali.

Jika saja bukan karena Rui, mungkin Ruby telah menenggelamkan dirinya di sungai han. Ruby tentu masih mengingat Rui. Dia tidak ingin bocah malang itu berada di dunia ini seorang diri seperti dirinya dulu. Karena Ruby tak yakin ada orang yang bisa menyayangi Rui sebaik dirinya.

Ruby lagi-lagi menghela nafas, pandangannya terarah ke atas, menatap langit cerah dengan matahari yang nyaris berada di atas kepala. Berharap air matanya tak lagi turun seperti semalam.

Wanita itu sedang dalam perjalanan menjemput putranya. Jam sekolah Rui telah berakhir satu jam yang lalu tapi bocah itu tak kunjung pulang. Ruby menjelputnya karena merasa khawatir.

Dan benar saja, gerbang sekolah sudah ditutup ketika Ruby sampai. Menyisakan seorang bocah laki-laki yang duduk sendirian di halte sembari menatap intens kedai ice cream di seberang jalan. Ruby mendekatinya lalu bertanya,

"Rui mau beli ice cream? "

Bocah itu sedikit terkejut ketika tiba-tiba melihat ibunya sudah berdiri di sampingnya.

"Ga mau. "

"Gapapa, mama beliin ice cream. "

Rui lagi-lagi menggeleng, wajahnya terlihat sendu dan matanya menatap sayu pada sepasang ayah dan anak yang baru saja keluar dari kedai ice cream tersebut.

Ruby mengikuti arah pandang Rui, dia bisa membaca situasinya. Rui menatap kedai ice cream bukan karena ingin beli ice cream melainkan dia menatap sepasang ayah dan anak yang sedang bercanda mesra sembari menikmati ice cream disana.

"Rui...."

"Ayo mama kita pulang." Bocah itu menyela ucapan Ruby. Senyuman lebar dia tunjukkan, tapi bulir air mata yang tertahan di matanya tak bisa membohongi Ruby.

"Kalau mama lambat nanti Rui tinggal."
Bocah itu berlari lebih dulu tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.

Sementara Ruby masih berdiri di tempatnya, menatap punggung kecil itu dengan air mata yang tak bisa dia bendung.

"Maafin mama ya Rui."

"Saatnya makan siang tuan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Saatnya makan siang tuan."

"Tuan...."

Maeda Riku menunduk di depan meja Jeno untuk mengingatkan lelaki itu. Ini adalah kedua kalinya dia mengingatkan Jeno untuk makan tapi lelaki itu meresponnya dengan lambat.

Mood Jeno benar-benar bagus ketika berada di london kemarin tapi langsung berubah sendu ketika kembali ke korea. Riku tidak tau pasti bagaimana hubungan Jeno dengan Ruby tapi yang jelas Riku tau jika wanita itu adalah penyebab bos nya jadi seperti ini.

"Tuan..." Panggilnya sekali lagi.

"Bawakan aku beer."

Riku hanya bisa menghela nafas lalu mengerjakan perintah bos nya. Sebenarnya bukan tugasnya juga untuk mengkhawatirkan Jeno, lelaki itu hanya merasa peduli sebagai seorang bawahan yang pernah diperlakukan baik oleh Jeno.

Beer di dalam kaleng berembun itu mendesis ketika Riku menarik pengaitnya.  Ini masih terlalu siang bagi seseorang untuk minum alkohol dan mabuk. Tapi tak mudah melarang Jeno.

Lelaki itu meraih beer yang di sodorkan di atas mejanya lalu meminumnya langsung meskipun Riku telah menyiapkan gelas.

Jeno menikmati itu sedikit demi sedikit dengan tatapan mata yang tak beralih dari jendela kaca besar yang menampilkan mahakarya manusia dalam membangun peradaban di atas bumi.

Birunya langit serta indahnya gedung pencakar langit yang bisa jeno lihat di luar jendelanya rasanya tak cukup membuat lelaki itu antusias. Jeno hanya menatapnya kosong sementara pikirannya tengah berkelana jauh.

Lagi dan lagi, Lee Jeno terjebak pada rasa bersalahnya pada Caroline. Momen dimana wanita itu menghembuskan nafas terakhir terus berputar berulang-ulang di dalam kepala Jeno dan menjebak lelaki itu dalam sebuah kolam dosa.

Mungkin ini adalah cara Tuhan membalas setiap kesedihan yang di rasakan Caroline. Yaitu dengan membiarkan Jeno tersiksa dan tak membiarkan Ruby luluh padanya.

Kesempatan kedua itu rasanya terdengar terlalu mewah bagi seorang pendosa seperti Jeno. Dan lelaki itu sudah tidak tau lagi bagaimana cara menebus dosanya.

"Tuan Ma meminta bertemu dengan anda pukul 4 sore tuan. " Riku mencoba mengingatkan Jeno akan pertemuannya dengan seorang rekan sebelum bos nya itu terpengaruh alkohol.

"Lalu nyonya Lee juga meminta anda datang di acara makan malam keluarga..."

"Maeda..."

"Ya tuan ??"Riku menunduk dengan telinga yang siap merekam perintah.

"Belikan aku bunga mawar. Aku akan mengunjungi makam Caroline. "

Tinggalkan jejak yaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tinggalkan jejak yaa... 😇😇

 😇😇

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SECOND CHANCE | LEE JENOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang