23. Decision

212 15 0
                                        

"kamu tau.. Jeno dulu itu sangat manis. Dia sangat perhatian dan tulus."

Sepasang bola mata indah itu berbinar ketika mengenang masa lalu. Bibir tipis itu tersenyum sangat manis menunjukkan betapa bahagianya kenangan itu di masa lalu.

"Dia baik sama semua orang, saking baiknya kadang aku harus ngalah karena sifat Jeno yang suka menolong itu."

Ruby diam mendengarkan. Begitu memahami tentang seperti apa sosok yang sedang Caroline bicarakan.

"Aku selalu berangan-angan kalau nantinya rumah tangga kami akan bahagia, hidup lengkap dengan anak-anak kami yang lahir kelak. Tapi sekarang aku ga masalah kalau ternyata cuma Jeno yang bahagia..... "

Caroline menunduk dalam dengan buliran air mata yang menetes lambat. Gadis itu mengusapnya dengan lembut dan bibir mengulas tersenyum.

".... Karena umurku cuma tinggal beberapa minggu saja. "

"Caroline..."

"Ruby, mau kan kamu ngalah sebentar?? Aku ga masalah kalau setelah aku pergi kamu mau menikah sama Jeno, tapi tolong disisa umurku ini.. tolong relakan Jeno sebentar saja ya, aku mohon. "

"Carol.. "

"Aku mau dia menjadi orang terakhir yang aku lihat sebelum aku menutup mata. Aku ingin mendengar suara lembutnya sebelum nyawa ini meninggalkan tubuhku. Bisa kan?"

Ruby terlonjak di atas tempat tidurnya. Gadis itu terduduk dengan keringat membanjiri tubuhnya juga nafas tersengal.

Mimpi itu datang lagi. Kejadian saat terakhir kali dia bertemu Caroline di bandara sebelum keberangkatannya ke london.

Wanita itu duduk memeluk lututnya. Ruby menangis tanpa suara. Hatinya juga ikut sakit mendengar Caroline bicara demikian.

Sebagai seseorang yang pernah di buang, Ruby tau betul sesakit apa perasaan Caroline. Dia tau rasanya di campakkan dan dibiarkan sendirian. Sayangnya dalam kasus Caroline, Ruby juga salah satu tersangka yang menorehkan luka di hati gadis itu. ini membuatnya merasa benar-benar buruk, dan ini jugalah yang menjadi alasan dirinya tidak mau bertemu lagi dengan Jeno.

Ruby tidak bisa kembali tidur setelah mimpi itu. Dia begadang sampai pagi dan memutuskan menemui Mark di tempat kerjanya.

Lelaki itu sekarang adalah seorang fotografer. Studio nya berada tak jauh dari toko bunga Ruby. Selama di London, Mark memang banyak membantu Ruby untuk beradaptasi. Bahkan dia telah menjadi guru bahasa inggris yang baik untuk Ruby.

"Mark.." sapanya begitu dia masuk studio mini milik Mark.

Lelaki itu tengah fokus pada beberapa makanan di atas meja yang menjadi objeknya, kemudian dia menoleh ketika mendengar namanya di panggil.

"Oh.. Ruby, tumben kesini? "

"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan. "

Senyuman Mark sedikit memudar ketika dia melihat betapa seriusnya wajah Ruby sekarang. Mata gadis itu terlihat sembab, Mark baru menyadari itu setelah melihatnya agak lama.

"Ada apa? "

"Jeno di london beberapa hari yang lalu."

Mark terkejut. Dia langsung menarik tangan Ruby menuju set sofa abu-abu di sudut ruangan. Karena dia pikir ini bukan hal yang bisa dia bicarakan sambil berdiri.

"Lee Jeno?? Apa dia gangguin kamu ?"

Ruby tidak bergeming. Sulit baginya untuk menjawab karena Ruby sama sekali tidak merasa terganggu. Lee Jeno hanya mengganggu pendiriannya bukan dirinya.

"Dia sudah pulang ke korea, dan dia ngajak aku ikut."

Ada senyuman kecewa yang tergambar dari wajah Mark. Bukan apa-apa, ini karena efek kesetiakawanannya yang begitu besar terhadap Caroline.

Ruby pernah berjanji kalau dia tidak akan mendekati Jeno lagi, dan jika gadis itu goyah, itu artinya Ruby telah melanggar janjinya. Sebagai teman Caroline Mark juga merasa dikhianati.

"Jadi... Apa keputusanmu?" Wajah Mark beralih, dari yang semula menatap Ruby, kini menatap meja kaca yang memantulkan wajah gadis itu.

"Aku.... Belum tau. Semalam aku memimpikan Caroline. Aku bermimpi tentang pertemuan terakhir kami di bandara. "

Mark tau pertemuan itu karena dia juga ada disana sebelum mengantar Ruby ke london. Dan dia tau apa saja yang mereka bicarakan saat itu.

"Pergi aja, toh Carol sudah kasih kamu ijin buat milikin Jeno setelah dia pergi." Mark mencoba berbesar hati dan meyakinkan diri kalau apapun yang dilakukan Ruby itu sama sekali bukan urusannya.

"Entahlah Mark, aku masih merasa bersalah."

"Carol sudah dapetin apa yang dia mau, Jeno benar-benar jadi orang terakhir yang dia lihat, dan dia sangat berterima kasih sama kamu."

Ruby menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan berat. Dua tangannya mengepal di atas pangkuan sementara rautnya tampak sedih.

Biarpun Caroline telah mendapatkan apa yang dia mau, tetap saja itu adalah akhir yang menyedihkan bukan ?

Karena pada akhirnya dia tetap tidak bisa bersama Jeno dalam waktu yang lama.

"Kamu mencintainya kan?"

"Sudah sejak lama." Jawab Ruby jujur.

"Yaudah, kejarlah kebahagiaanmu sekarang. Seseorang yang sudah mati itu sudah ga punya urusan di dunia. Mencintai Jeno bukan kejahatan buat kamu."

"Mark.."

"Iya okey aku tau aku sempat merasa dikhianati karena pengakuanmu ini. Tapi aku ga punya hak Ruby. Itu hidupmu bukan hidupku. Kebahagiaanmu itu tanggung jawabmu, orang luar sepertiku ga bisa ikut campur. "

Lagi-lagi Ruby menghela nafas. Masih berat bagi dirinya untuk mengambil keputusan. Dan dia pun masih sungkan untuk memikirkan kebahagiaannya sendiri.

"Pergilah, kamu juga berhak bahagia. Lagipula.... Rui juga butuh sosok ayah kan??"

 Rui juga butuh sosok ayah kan??"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SECOND CHANCE | LEE JENOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang