Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

11. Repair

260 25 0
                                        

"Mau Jalan-jalan?"

Jeno tak merespon. Wajah masamnya tak juga pupus sejak dia memulai penerbangan ke Paris semalam dan Caroline diam-diam tersenyum girang dalam hatinya karena Ruby tak bisa lagi menginvasi suaminya.

"Kamu yang rencanain ini kan?" Lelaki itu akhirnya bicara setelah diam selama berjam-jam, dan untaian kata protes adalah kalimat pertama yang dia ucap.

Sementara Caroline acuh tak acuh ketika melewati Jeno dan memilih menyibukkan diri untuk menggantung pakaiannya.

"Bukan. Ini keputusan mama. Dia menyuruh kita bulan madu untuk memperbaiki hubungan. "

"Aku menolak. Harusnya kalian tanya keputusanku dulu."

"Ini keputusan mama, bukan keputusanmu. Mama mau kita baikan."

Jeno menghela nafas. Lelaki itu berjalan ke sofa lalu melemparkan tubuhnya kesana. Dia duduk dengan kaki bersilang sementara tangannya berusaha meraih remote tv di atas nakas.

Menyalakan televisi rasanya tidak buruk. Setidaknya itu akan sedikit menyamarkan suara perdebatannya dengan Caroline.

Caroline memperhatikan Jeno sesaat. Gadis itu memilih duduk di pinggiran ranjang, dengan mata menerawang tentang apa yang sedang Jeno pikirkan dan rencana apa yang coba lelaki itu susun di dalam kepalanya.

"Dengar... " Jeno  memperbaiki posisi duduknya menjadi menghadap ke arah ranjang. Ini adalah pertama kalinya Jeno melakukan kontak mata dengan Caroline setelah sekian lama dia enggan.

"Aku menarik keputusanku, aku ga akan menceraikan kamu. Kamu bebas pakai nama depanku, tinggal di rumahku dan memakai uangku. Tapi tolong jangan ganggu aku dan Ruby. "

Caroline merasa seperti ada butiran-butiran paku micro yang berhamburan di antara air liurnya hingga membuat tenggorokannya begitu sakit ketika menelan mentah-mentah ucapan Jeno.

Gadis itu tersenyum miris, dengan bola mata yang mengarah turun, menatap kaki-kakinya yang bertengger nyaman di atas karpet bulu.

Apakah Jeno masih tidak mengerti ? Apalah artinya status pernikahan jika tidak ada Jeno di dalamnya ?

"Bukan itu yang aku mau Lee Jeno... "

Caroline menjeda ucapannya. Mencoba mengendalikan air matanya yang hendak meluncur turun.

"....aku ingin pernikahan yang sesungguhnya. Hidup berdua dengan penuh kasih dan cinta. Aku ingin memiliki hatimu sepenuhnya bukan cuma raga tanpa jiwa yang berpura-pura mencintaiku."

Jeno diam sesaat. Tangannya terangkat, menyangga kepalanya sendiri. Mata Jeno memang mengarah ke televisi, tapi pikiran lelaki itu berkelana jauh kebelakang.

"Aku ga pernah pura-pura mencintaimu, aku tulus sama kamu. Hanya saja....."

Ucapannya terjeda saat dia mengingat kembali laki-laki yang sering membawa istrinya pergi, itu membuat perasaan Jeno dongkol.

"...... Aku mulai mati rasa karena kamu selingkuh di belakangku."

"Kamu ga sadar diri ? Aku begitu karena kamu ga pernah memprioritaskan aku dalam segala hal,  aku harus ngalah sama Ruby. Jen.. Ruby itu cuma temanmu sementara aku teman hidupmu.. harusnya kamu bisa memposisikan diri."

"Caroline.. kita udah bahas ini berulang kali.... "

Jeno terlihat sangat lelah. Mereka selalu berdebat hal yang sama dan berulang kali pula Jeno sudah menjelaskan ini. Tapi masalah ini terus berputar-putar seperti benang kusut.

"Iya memang udah berulang kali dan kamu tetap ga tau apa kesalahanmu. Sekarang aku balik keadaannya, aku pergi sama laki-laki lain dan kamu ga terima kan ?? "

Okey Jeno akui Caroline benar. Dia memang sakit hati saat melihat Caroline bersama laki-laki lain. Apakah itu juga yang selama ini dirasakan oleh Caroline ?

Jeno mungkin bisa membela diri kalau dia tidak selingkuh tapi Caroline mengartikan kedekatan Jeno dengan Ruby secara berbeda.

Lelaki itu menghela nafas. Punggungnya bersandar dengan bahu yang merosot kebawah. Dia berusaha memaklumi apa yang Caroline rasakan lalu mulai mengintrospeksi dirinya sendiri.

Jeno akan meninggalkan sikap denialnya lalu mulai menulis serentetan pengakuan dosa di dalam kepalanya.

Dia akan mengaku salah. Bahwa pernyataan Caroline tentang dirinya yang lebih mempedulikan Ruby itu benar, ada atau tidaknya perasaan di antara Jeno dan Ruby, perilakunya memanglah salah.

Lalu...
Karena kepeduliannya yang berlebihan itu akhirnya membuat Jeno merasakan hal lain pada Ruby. Jeno menjadikan perselingkuhan Caroline untuk membenarkan perasaannya pada Ruby.

'kenapa aku bisa begini?' Jeno memijit pelipisnya sendiri. Merasa bersalah pun rasanya sudah terlambat.

Tanpa sadar dia telah membuat kesalahan pada dua wanita sekaligus. Dia telah membuat istrinya merasa di campakkan, lalu merendahkan Ruby dan memperlakukannya seperti wanita simpanan.

Jeno mengutuk dirinya sendiri. Perasaannya yang selalu mencari pembenaran telah menjerumuskannya ke dalam jurang dosa yang sulit untuk di maafkan.


Suara langkah kaki yang bergerak mendekat membuat Jeno kembali menoleh. Mendapati Caroline yang sudah berdiri di sisi sofa lalu mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Jeno.. ayo kita mulai dari awal lagi. Aku akan terima kamu tanpa memandang kesalahanmu. "

Sebuah permintaan yang sangat sulit untuk Jeno sanggupi. Pikirannya begitu kalut dengan segala rasa bersalahmya pada Caroline. Tapi di tengah rasa bersalahnya itu, tidak ada sedikitpun keinginan untuk Jeno kembali pada Caroline. Perasaannya itu telah berpaling.

"Maaf... Aku... Aku ga bisa."


"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SECOND CHANCE | LEE JENOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang