"Pembunuh !! "
Rasanya seperti terombang-ambing di atas tanah datar. Lee Jeno tidak bisa merasakan dimana tempatnya berpijak.
"Bajingan !! "
Tubuhnya terasa berputar-putar. Pupil matanya terus bergerak, dia kesulitan menatap bayangan dengan benar.
"Keparat !!!"
Lalu telinganya berdengung dengan kencang diiringi segenap sumpah serapah yang menggema di gendang telinganya.
"Pembunuh!! Kembalikan nyawa putriku."
Setiap tangisan yang dia dengar memberinya sensasi kejut listrik di jantungnya. Setiap ratapan yang menggema membuat jantung Jeno berdetak lebih kencang.
Perasaannya tak terbaca. Seperti ada banyak emosi yang berputar-putar di dalam kepalanya seperti benang kusut. Hingga dia bingung harus memasang ekspresi seperti apa.
Kesedihan??
Jeno tidak yakin dengan itu, hatinya terlalu mati rasa hingga rasanya sulit mengeluarkan air mata.
Rasa bersalah..?
Jelas ada seperempat bagian dari nuraninya yang terus berdengung menyuarakan dosa-dosa Jeno.
Kebingungan??
Rasanya ini lebih mendominasi dirinya. Emosinya meluap, jiwanya terasa terguncang dengan segala hal yang tidak dia ketahui, tapi begitu dia tau, semua hal telah berubah dari semestinya.
Semua ini tentang Caroline. Rasa kesedihan, rasa bersalah serta kebingungan yang Jeno rasakan. Semua ini karena apa yang terjadi pada Caroline.
Gadis itu pingsan, tapi itu adalah kali terakhir dia membuka mata. Setelah itu kedua kelopak mata indah itu tertutup dan tidak akan pernah terbuka lagi.
Lee Jeno tidak mengira ini akan terjadi. Dirinya tidak menyangka akan merasakan sakitnya kehilangan dengan cara seperti ini. Di tinggalkan oleh orang yang dia sakiti bahkan sebelum dia meminta maaf.
Caroline telah sukses membuat Jeno menderita seumur hidupnya. Dengan di hantui rasa bersalah yang akan selalu menjadi bayang-bayang nya.
"Pembunuh... Kembalikan putriku.."
Satu persatu bogem mentah dia rasakan. Menghujami setiap inci dari wajah tampannya. Lalu tendangan demi tendangan menyapa tubuhnya tanpa ampun.
Jeno jatuh tertelungkup dengan banyak kaki menginjak-injak punggungnya, tapi tak sedikitpun rasa sakit dia rasakan. Tubuhnya telah mati rasa. Perasaannya sama sekali tak memihaknya, bahkan jiwanya pun bersorak untuk setiap pukulan yang menghantam tulangnya.
Dia bersalah, dan dia sadar akan hal itu. Untuk itu Lee Jeno tidak akan membela diri meskipun nantinya dia akan mati karena di aniaya, Jeno akan tetap diam seperti itu.
"Hentikan, Caroline pergi karena takdir."
"Tidak !! Bajingan itu yang bunuh Caroline!!"
Suara ibu Caroline yang menjerit-jerit semakin menjauh. Dia di bawa pergi oleh seseorang sementara Jeno di tinggalkan begitu saja di atas lantai rumah sakit. Lelaki itu perlahan bangkit, mencari sisa kekuatan yang dia miliki.
Dihadapannya ada sepasang pintu dengan tulisan 'kamar Jenazah' di atasnya. Dan Caroline terbaring kaku dalam disana.
Lee Jeno tidak pernah tau jika gadis itu sakit. Dia juga tidak pernah mencari tau. Sebegitu bodohnya dia sebagai seorang suami hingga istrinya sakit parah pun dia tidak tau.
Jeno amat terpukul. Tapi kesedihannya yang mendalam tak bisa tergambar dengan baik. Hanya dadanya yang terasa sesak tapi air matanya tidak mampu dia tumpahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND CHANCE | LEE JENO
Fiksi PenggemarTidak ada yang salah dari sebuah pilihan, yang salah adalah ketika sudah menetapkan pilihan tapi justru berakhir menyesalinya. Lee Jeno pernah berada dalam situasi semacam itu dalam hubungan pernikahannya. Tapi dia menolak untuk pasrah. Dia tidak b...
