Tidak ada yang salah dari sebuah pilihan, yang salah adalah ketika sudah menetapkan pilihan tapi justru berakhir menyesalinya.
Lee Jeno pernah berada dalam situasi semacam itu dalam hubungan pernikahannya. Tapi dia menolak untuk pasrah. Dia tidak b...
Ruby menurut. Berjalan menyusuri jalan setapak basah yang baru saja di sapu hujan.
Pada akhirnya dia setuju untuk menjual rumah peninggalan ibunya. Menyerahkan segala urusannya pada Caroline termasuk kepindahannya yang tidak bisa dibilang dekat.
Caroline meminta Ruby untuk pindah sejauh mungkin, tidak tanggung-tanggung, dia memindahkan Ruby ke London. Tempat yang sangat jauh dari Korea, dengan harapan Jeno tak akan menemuinya lagi.
Ruby memeluk Rui yang tertidur pulas di dalam dekapannya. Hari sudah gelap ketika dia sampai disana. Suasana yang sunyi dan lembab itu membuatnya sedikit bergidik.
Mark menuntun jalannya, lelaki itu terus berjalan dan hanya bicara sesekali saja. Langkah mereka berhenti ketika Mark mencoba mengecek ulang alamat yang tertera di ponsel nya, dan sebuah ruko bergaya vintage menjadi tujuan akhir mereka.
"Kita sampai." Kata lelaki itu. Suaranya terdengar rendah dan berdengung karena hawa dingin membuat hidung Mark sedikit mampet.
"I-ini..." Ruby menoleh kesamping, memperhatikan bangunan 2 lantai yang tampak estetik.
"Ya benar, lantai 1 bisa kamu pakai jadi toko bunga, di lantai 2 ada satu kamar, dapur dan kamar mandi. Ini ga luas tapi aku berusaha cari tempat yang strategis buat bisnismu."
"Um.. tuan Lee.."
"Mark, panggil aku Mark. "
"Umm.. Mark.. tempat ini terlalu bagus, pasti sewa nya mahal."
Mark memutar tubuhnya menghadap bangunan klasik ber-cat putih di depannya.
"Tenang saja, Carol sudah beli bangunan ini. Kamu bisa tinggal disini seumur hidupmu. "
Ruby terdiam selagi Mark berjalan ke pintu. Dia hanya diam memandangi punggung lebar Mark. Memikirkan kembali segala anggapan buruknya pada Caroline.
"Ayo masuk." Mark berjalan lebih dulu, meninggalkan Ruby yang masih membeku di depan pintu.
Lelaki itu menatap lembaran kain putih yang menutupi perabotan di dalam, lalu dia berjalan-jalan sebentar untuk memastikan lagi kalau segala hal sudah di siapkan dengan baik.
"Ini terlalu mewah." Ruby menatap sekeliling.
"Caroline bukan orang kejam yang bakal biarin kamu tinggal di tempat kumuh, yah... meskipun kadang dia suka kasar kalau bicara, tapi sebenarnya dia itu baik."
"Sebenarnya apa hubunganmu sama Caroline??" Ruby mengucapkan itu dengan hati-hati.
Ruby tau mungkin pertanyaannya akan menyinggung Mark, tapi gadis itu begitu penasaran dengan status Mark dan kenapa lelaki itu terlihat lebih memahami Caroline daripada Jeno.
Mark diam sesaat, tersenyum miring sebentar lalu berjalan ke salah satu kursi kayu yang membujur di tengah ruangan. Lelaki itu menatap menerawang pada vas bunga kosong di sudut ruangan.
"Kamu pasti pernah dengar dari Jeno kalau Caroline selingkuh??"
Ruby mengangguk ragu-ragu.
"Orang yang pura-pura jadi selingkuhannya itu aku."
Tunggu, pura-pura?
Ruby memiringkan kepalanya dengan tanda tanya besar di wajahnya.
"Maksudnya ??"
"Caroline cemburu karena Jeno lebih mentingin kamu daripada dia, Caroline mau balas itu dan minta aku pura-pura jadi selingkuhannya. Sebenarnya kita cuma teman lama yang lumayan akrab."
'aahh... Jadi begitu.'
Wajah Ruby berubah melankolis, tatapannya semakin sendu dengan segala hal yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Awalnya dia pikir dia adalah satu-satunya korban dari hubungan rumit Lee Jeno karena Ruby secara terang-terangan di jadikan pelarian oleh Jeno. Tapi sekarang dia mulai berpikir jika karena dirinya lah masalah rumah tangga Jeno muncul.
Dia adalah alasan Jeno berpaling, dia alasan Jeno mengkhianati Caroline, lalu dengan bodohnya dia sempat terpikat oleh perlakuan manis Jeno.
Nyatanya Caroline adalah korban yang sesungguhnya disini, sementara Ruby tanpa sengaja ikut menorehkan luka pada Caroline.
Dia juga merasa sangat buruk karena pernah mengira Caroline bukan wanita baik-baik, wanita culas yang rela meninggalkan suaminya. Ruby telah salah menilai.
"Aku minta maaf. Aku beneran ga ada maksud buat jadi duri di pernikahan Caroline."
Mark menghela nafas, lalu dia tersenyum miring.
"Ya, awalnya aku pikir semua salahmu. Kamu yang godain Jeno, kamu yang selalu menginvasi Jeno setiap kali Jeno bersama Caroline, tapi....." Mark menggantung ucapannya. Kedua tangannya yang berkeringat dia masukkan ke dalam saku jaket.
"....... Setelah aku pikir-pikir ini bukan sepenuhnya salahmu. Ini salah Lee Jeno yang terlalu peduli padamu."
"Aku mungkin terlalu bergantung sama Jeno, sampai dia menikah pun aku terlalu bergantung padanya. Aku minta maaf harusnya aku tau diri. "
Mark berdiri dari kursinya. Dia berjalan pelan mendekati Ruby lalu berhenti tepat di hadapan gadis itu.
"Semuanya sudah terjadi. Caroline mau ngulang dari awal buat dapetin hati Jeno lagi meski itu mustahil. Untuk itu dia berterima kasih karena kamu mau pergi jauh dari hidup Jeno." Mark mengulurkan tangan kirinya lalu menepuk-nepuk bahu Ruby.
"Hubungi aku kalau kamu kesulitan di sini. Aku akan bantu kamu apapun yang terjadi karena mulai sekarang kita akan berteman."
Mark tersenyum sangat tulus pada Ruby. Dia merapatkan jaketnya lalu berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
Sementara Ruby terlihat masih tertegun. Untuk pertama kalinya ada orang yang bilang mau berteman dengannya dan tersenyum sangat tulus seperti itu.
Dia jadi tidak yakin kalau Mark adalah manusia. Dengan kepemilikan hati yang seperti itu, Mark pastilah seorang malaikat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.